Jakarta, dorlanhikmah.com – Forum IGIC 2026 sepakati rumusan draf Jakarta Understanding yang berfokus pada penguatan diplomasi agama dan perdamaian global. Pertemuan internasional ini berlangsung di Jakarta pada 25–27 September 2026 dengan menghadirkan para ulama, mufti, serta delegasi berbagai negara.
Ketua Panitia IGIC 2026, Faried F. Saenong, Ph.D., memimpin langsung jalannya Sidang Panel ke-4 tersebut. Para peserta memaparkan beragam usulan strategis untuk menjawab tantangan kontemporer yang sedang dihadapi masyarakat dunia saat ini.
Delegasi asal Inggris menyoroti urgensi pembentukan dewan khusus untuk melatih para imam di kawasan Barat. Langkah ini sangat krusial agar tokoh agama memiliki pembekalan memadai dalam menangani isu Islamofobia, tindak kekerasan, hingga persoalan aborsi.
“There are many challenges in the West for Muslims, about, you know, new matters and new issues that need to be tackled. For example, you know, the issue of Islamophobia, hatred, violence, and, you know, abortion, and not all Imams are trained enough to address these issues. So, I suggest adding something like, a council or leadership to guide the Imam corpus,” sarannya, Minggu (27/9/2026).
Peserta forum menyepakati pentingnya peningkatan kompetensi para imam di luar ilmu keagamaan konvensional. Pembekalan tersebut mencakup penguasaan media digital, kecerdasan buatan, isu kesehatan mental, hingga tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.
Sementara itu, delegasi Italia dan Yunani mengusulkan ide Open Mosque atau Masjid Terbuka untuk memperkuat dialog lintas iman. Konsep ini membuka pintu masjid secara berkala bagi para pemimpin dan penganut agama lain guna membangun keharmonisan.
“I think, it’s so important also the, the idea of open mosque. So, to open our mosque, to be in contact with the other leaders, the religious leaders of another religion. So, open our mosque also for, give this kind of connection and stay with the other religion,” ujar perwakilan Italia.
Utusan dari Spanyol mengingatkan bahwa polarisasi dan prasangka buruk sering kali bersumber dari maraknya berita palsu. Oleh sebab itu, para imam harus berdiri di garis depan untuk menolak ekstremisme dan ujaran kebencian secara kolektif.
Penguatan Hak Asasi Inklusivitas Serta Aksesibilitas Bagi Masyarakat
Delegasi Belanda menekankan bahwa konsep inklusivitas dan hak asasi manusia wajib berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini penting agar masyarakat internasional dapat memahami prinsip-prinsip nilai Islam secara tepat dan utuh.
Imam Masjid Istiqlal Jakarta turut menegaskan pentingnya kesadaran menjaga lingkungan hidup sebagai pesan universal bersama tokoh lintas agama. Di sisi lain, perwakilan Mufti Polandia mendorong agar tempat ibadah ramah bagi perempuan, generasi muda, serta penyandang disabilitas.
“mosques should serve as spaces that encourage young people to engage in respectful dialogue with people from different religious backgrounds, fostering mutual understanding, trust, and lasting relationships among communities.” kata mufti dari Polandia.
Peserta forum perempuan juga menegaskan penguatan ketahanan keluarga dan mendorong solidaritas global untuk pembebasan Palestina. Seluruh delegasi akhirnya menyepakati integrasi nilai keagamaan ke dalam kurikulum pendidikan formal serta pembentukan komite pelayanan sosial di masyarakat.(ust)










Komentar