Bahaya Zina Mempersempit Rezeki dan Jebakan Istidraj

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 07:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Kontras berkah kesederhanaan keluarga Muslim (kiri) dan gelapnya jebakan istidraj kemewahan maksiat (kanan).(poto: AI).

Ilustrasi: Kontras berkah kesederhanaan keluarga Muslim (kiri) dan gelapnya jebakan istidraj kemewahan maksiat (kanan).(poto: AI).

Jakarta, Dorlanhikmah.com – Ajaran Islam senantiasa menempatkan kesucian harkat kemanusiaan pada kedudukan yang sangat luhur. Para ulama menegaskan bahwa bahaya zina persempit rezeki sekaligus meruntuhkan sendi-sendi keharmonisan sosial secara menyeluruh. Demi merawat kemurnian nasab dan keturunan, syariat secara lugas menutup setiap pintu yang mengarah pada kehancuran adab.

Perilaku zina menempati posisi sebagai salah satu bentuk kejahatan akhlak paling berat dalam pandangan hukum Islam. Kitab suci Al-Qur’an tidak sekadar melarang umat manusia mengeksekusi perbuatan keji tersebut. Teks suci bahkan memasang barikade kukuh dengan mengharamkan setiap langkah kecil yang mendekatinya.

Ketegasan perintah ilahi itu tertuang nyata dalam lembaran firman Allah Ta’ala pada Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا

Ayat agung tersebut menegaskan peringatan keras bagi seluruh hamba beriman: “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.” (QS. Al-Isra’: Ayat 32). Pesan ini memerintahkan umat Islam agar senantiasa menjauhi berbagai stimulus serta godaan syahwat yang menyesatkan.

Larangan mendekati zina memuat hikmah preventif yang sangat mendalam bagi kelangsungan peradaban manusia. Ketika batas-batas kesucian roboh, tatanan kekeluargaan niscaya mengalami degradasi yang sangat parah. Oleh karena itu, prinsip kehati-hatian menjadi benteng utama dalam mengarungi dinamika kehidupan bermasyarakat.

Menghindari Celah Menuju Perbuatan Keji

Agama memandang bahwa perbuatan zina tidak pernah berdiri sendiri secara tiba-tiba tanpa sebab musabab. Perbuatan kotor ini senantiasa bermula dari pandangan mata yang liar, pergaulan bebas tanpa batas, serta bisikan hawa nafsu. Karena itulah, syariat mewajibkan umat Islam menjaga pandangan dan membatasi interaksi yang melanggar batas etika.

Ketika seseorang berani mendekati area terlarang tersebut, potensi terjerumus ke dalam kubangan dosa terbuka lebar. Zina melahirkan dampak destruktif yang merusak garis keturunan secara turun-temurun dalam tatanan sosiologis. Kekacauan nasab ini pada akhirnya memicu krisis perwalian nikah dan sengketa waris di tengah masyarakat.

Selain merusak relasi horizontal antarmanusia, tindakan nista tersebut langsung memutus ikatan spiritual dengan Sang Pencipta. Pelakunya mengundang kemurkaan langit yang membawa kerugian fatal bagi keselamatan jiwa raga. Perbuatan kotor ini mencoreng kehormatan diri serta meremukkan masa depan generasi penerus bangsa.

Enam Petaka bagi Pelaku Maksiat Zina

Dalam kacamata syariat Islam, dampak buruk zina merambah jauh melampaui sanksi moral di tengah lingkungan sosial. Perbuatan munkar ini menyeret konsekuensi mengerikan yang mengintai kehidupan sang pelaku di alam fana maupun akhirat kelak. Selain mengundang murka Allah, dosa kelam ini secara nyata memangkas rezeki dan merampas keberkahan hidup.

Peringatan tegas mengenai petaka perbuatan maksiat ini tersurat terang dalam riwayat hadits Nabi saw:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِيَّاكُمْ وَالزِّنَا، فَإِنَّ فِيهِ سِتَّ خِصَالٍ، ثَلَاثٌ فِي الدُّنْيَا، وَثَلَاثٌ فِي الْآخِرَةِ، فَأَمَّا الَّتِي فِي الدُّنْيَا فَذَهَابُ الْبَهَاءِ، وَدَوَامُ الْفَقْرِ، وَقِصَرُ الْعُمُرِ، وَأَمَّا الَّتِي فِي الْآخِرَةِ فَسَخَطُ اللَّهِ، وَسُوءُ الْحِسَابِ، وَالْخُلُودُ فِي النَّارِ». ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ﴿أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ﴾

Sabda Rasulullah saw tersebut membeberkan peringatan nyata bagi seluruh kaum muslimin: “Wahai golongan kaum muslimin, takutlah kalian kepada zina, karena sesungguhnya pada zina itu terdapat enam perkara: tiga perkara di dunia dan tiga perkara di akhirat. Adapun tiga perkara di dunia adalah hilangnya kewibawaan, kekekalan kemiskinan, dan pendeknya umur. Adapun tiga perkara di akhirat adalah murka Allah, hisab yang buruk, dan kekal di dalam neraka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyitir firman Allah: “…bahwa sesungguhnya mereka dimurkai Allah dan mereka akan kekal dalam azab.” (QS. Al-Ma’idah: 80) (HR. Baihaqi).

Hadits tersebut membedah secara gamblang tiga ancaman mengerikan yang langsung menyerang pelaku saat masih menginjakkan kaki di dunia. Ancaman pertama berupa sirnanya cahaya kewibawaan dan keindahan roman wajah dari pandangan sesama manusia. Pelaku maksiat kehilangan rasa hormat serta martabat di mata publik akibat noktah hitam yang membalut jiwanya.

Baca Juga :  Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi

Petaka duniawi kedua menghadapkan sang pelaku pada belenggu kemiskinan yang berlangsung terus-menerus tanpa henti. Ketiga, usia hidupnya terpotong oleh hilangnya keberkahan waktu serta ancaman berbagai mara bahaya yang mengancam keselamatan raga. Sementara di alam baqa, siksa dahsyat menanti mereka berupa kemurkaan ilahi, perhitungan amal yang amat mencekam, dan azab neraka.

Kupasan Mendalam Syarah Hadits Imam Abdurrauf Al-Munawi

Ulama kenamaan Imam Abdurrauf al-Munawi menguraikan rahasia spiritual dan logika hukum di balik sabda baginda Nabi tersebut. Sang mufasir menegaskan bahwa kekayaan sejati sejatinya merupakan karunia istimewa yang Allah kucurkan melalui pintu-pintu halal. Ketika seseorang nekat menabrak aturan hukum langit demi memuaskan nafsu birahi, limpahan karunia itu seketika terangkat.

Pencabutan anugerah tersebut melenyapkan rasa cukup dan mencabut nilai keberkahan materi dari genggaman sang pendosa. Mengenai fenomena lenyapnya kecukupan batin ini, Imam Abdurrauf al-Munawi menuangkan penjelasannya secara mendalam:

أَي اللَّازِم والدائم لِأَن الْغنى من فضل الله وَقد أغْنى الله عَبده بِمَا أحل لَهُ من فَضله فَمن آثر الزِّنَا ذهب عَنهُ الْفضل وَإِذا ذهب الْفضل ذهب الْغَنِيّ

Kutipan kitab klasik itu menjabarkan hakikat kemelaratan yang menimpa pezina: “(Maksud dari kemiskinan yang terus-menerus adalah) kemiskinan yang tetap dan abadi. Karena kekayaan itu berasal dari karunia Allah, dan Allah telah mencukupkan hamba-Nya melalui apa-apa yang dihalalkan-Nya dari karunia-Nya. Barang siapa yang lebih memilih zina, maka karunia itu akan hilang darinya. Dan jika karunia itu telah hilang, maka lenyap pula kekayaan tersebut.” (At-Taysir Bi Syarhil Jami’ish Shaghir, [Riyadh, Maktabatul Imam as-Syafii: 1988], jilid II, halaman 47).

Hakikat Kemiskinan Hati dan Hilangnya Berkah

Penjelasan otoritatif ini menyibak hakikat kemiskinan yang bukan sekadar kekurangan saldo materi dalam kehidupan fisik semata. Jiwa pelaku dosa senantiasa dicekam rasa lapar, gelisah, serta ketidakpuasan akut yang tidak berkesudahan. Harta yang terkumpul melalui jalan nista tidak membawa kedamaian nurani, melainkan membakar ketenteraman jiwa hingga ke dasar sanubari.

Maksiat mengikis kemuliaan batin dan menggantinya dengan kehampaan eksistensial yang sangat menyiksa pikiran manusia. Kehilangan rasa cukup mendorong sang pelaku terus memburu kesenangan fana yang justru memperdalam jurang kehancurannya. Dengan demikian, kemiskinan hakiki terus menjerat mereka dalam siklus penderitaan lahiriah dan kehancuran batiniah.

Fenomena Materi Melimpah dan Realitas Sosial

Masyarakat modern kerap melontarkan tanda tanya besar ketika mencermati realitas kehidupan sosial di sekeliling mereka. Publik sering menyaksikan para pelaku maksiat, seperti sebagian kalangan Lady Companion (LC) atau pegiat kemungkaran, hidup glamor bergelimang kemewahan. Pemandangan semacam ini kerap memicu kegamangan logika awam yang mempertanyakan korelasi antara dosa dan kesempitan rezeki.

Masyarakat perlu memahami bahwa tumpukan harta benda tersebut sama sekali tidak mencerminkan datangnya rida maupun keberkahan ilahi. Fenomena kilau perhiasan duniawi pada tangan-tangan pelaku kemaksiatan hakikatnya menyimpan ujian yang sangat mengerikan. Agama menyebut jebakan kenikmatan semu ini dengan sebuah istilah yang sangat masyhur, yakni istidraj.

Rasulullah saw mengingatkan umatnya agar tidak silau memandang fenomena kemewahan materi yang diraih lewat jalur maksiat:

إِذَا رَأَيْتَ اللّٰهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

Pesan Rasulullah saw membedah rahasia di balik gelimang harta tersebut: “Jika kamu melihat Allah memberikan kemewahan dunia kepada hamba-Nya yang suka bermaksiat, maka itulah yang disebut istidraj.” (HR. Ahmad). Teks hadits ini menjadi pedoman teguh bagi setiap mukmin dalam menilai realitas kehidupan duniawi.

Melalui sabda tersebut, baginda Nabi mengajarkan umat Islam agar tidak terjebak pada fatamorgana materi yang tampak memikat mata. Harta yang mengalir di atas jalan maksiat bukan indikator kasih sayang Pencipta kepada hamba-Nya. Justru di balik limpahan kesenangan materi itu, tersembunyi jerat sunyi yang sewaktu-waktu dapat membinasakan sang pendosa.

Baca Juga :  Refleksi Ibnul Qayyim: Hartamu Habis di Mana?

Hakikat Jebakan Istidraj Menurut Imam Mula Ali Al-Qari

Ulama besar mazhab Hanafi, Imam Mula Ali al-Qari, membedah secara terperinci hakikat operasional dari fenomena istidraj ini. Beliau menegaskan bahwa rentetan nikmat duniawi kepada para pelaku durhaka bukanlah tanda cinta dari Yang Maha Pengasih. Kebalikannya, Allah sedang menggiring mereka secara perlahan menuju jurang kebinasaan yang amat mengerikan.

Kucuran kesenangan yang datang bertubi-tubi justru menyuburkan bibit kesombongan dan mengeraskan hati dari rintihan tobat. Sang pendosa merasa aman melenggang dalam gelimang maksiat, padahal hakikatnya Allah sedang menjauhkan rahmat dari kehidupannya. Paparan lugas sang ulama terekam abadi dalam mahakaryanya:

وَمَعْنَى اسْتِدْرَاجِ اللَّهِ اسْتِدْرَاجُهُمْ قَلِيلًا قَلِيلًا إِلَى مَا يُهْلِكُهُمْ، وَيُضَاعِفُ عُقْبَاهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ مَا يُرَادُ بِهِمْ، وَذَلِكَ أَنَّ تَوَاتُرَ اللَّهِ نِعَمَهُ عَلَيْهِمْ مَعَ انْهِمَاكِهِمْ فِي الْغَيِّ، فَكُلَّمَا جَدَّدَ عَلَيْهِمْ نِعَمَهُ ازْدَادُوا بَطَرًا وَجَدَّدُوا مَعْصِيَةً، فَيَتَدَرَّجُونَ فِي الْمَعَاصِي بِسَبَبِ تَرَادُفِ النِّعَمِ، ظَانِّينَ أَنَّ مُتَوَاتِرَةَ النِّعَمِ أَثَرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَتَقْرِيبٌ، وَإِنَّمَا هِيَ خِذْلَانٌ مِنْهُ وَتَبْعِيدٌ

Analisis tekstual ulama kenamaan tersebut menguraikan alur istidraj yang menipu persepsi manusia: “Makna istidraj dari Allah adalah menarik mereka secara perlahan-lahan menuju kebinasaan mereka, serta melipatgandakan siksaan akhir mereka tanpa mereka sadari apa yang sebenarnya sedang dikehendaki terhadap diri mereka. Hal itu terjadi karena Allah terus menerus melimpahkan nikmat kepada mereka padahal mereka tenggelam dalam kesesatan. Setiap kali Allah memperbaharui nikmat bagi mereka, mereka justru semakin sombong dan memperbaharui kemaksiatan. Maka mereka semakin terjerumus dalam kemaksiatan akibat nikmat yang datang bertubi-tubi itu, dengan menyangka bahwa nikmat yang terus-menerus tersebut adalah bentuk kecintaan dan kedekatan dari Allah, padahal hakikatnya itu adalah bentuk kehinaan dan penjauhan dari-Nya.” (Mirqatul Mafatih, [Beirut, Darul Fikr: 2002], jilid VIII, halaman 3257).

Menyingkap Tipu Daya Kenikmatan Semu

Kutipan ilmiah tersebut membongkar tabir manipulasi psikologis yang kerap memerangkap para pelaku dosa dalam kesenangan semu. Mereka mengira kelancaran finansial dan kemewahan gaya hidup menjadi tanda restu ilahi atas perbuatan nista yang mereka kerjakan. Padahal, setiap rupiah yang masuk ke dalam kantong mereka justru menambah bobot siksaan di hari pembalasan.

Akumulasi nikmat yang tidak berpadu dengan ketaatan sejatinya memupuk kehinaan yang berlapis-lapis bagi pemiliknya. Sikap melampaui batas ini menjauhkan hati mereka dari cahaya hidayah dan nasihat kebaikan sesama manusia. Akibatnya, mereka terus melaju kencang menuju kebinasaan abadi tanpa menyadari bahaya maut yang sedang mengintai di depan mata.

Merawat Kesucian dan Meneguhkan Integritas Moral

Uraian para ulama salaf di atas menyajikan iktibar berharga mengenai standar kemuliaan hidup seorang hamba di mata Allah swt. Ukuran kehormatan seorang muslim tidak pernah bersandar pada nominal saldo rekening maupun kemewahan fasilitas duniawi. Rezeki hakiki bernaung pada ketenteraman batin, kebersihan nurani, serta keselamatan iman di dunia dan akhirat kelak.

Fasilitas mewah milik para pelaku kemaksiatan hanyalah jerat ilusi yang sewaktu-waktu dapat membinasakan mereka tanpa ampun. Fenomena tersebut selayaknya membentengi nurani setiap mukmin agar tidak goyah melihat fatamorgana harta haram di lingkungan sekitar. Nilai sebuah penghidupan terletak pada kebersihan proses serta keridaan ilahi yang mengiringi setiap tetes keringat.

Pilihan terbaik bagi seorang muslim adalah memegang teguh komitmen hidup halal dan bersih, kendati hasilnya tampak bersahaja. Kedamaian jiwa dan keselamatan di hadapan mahkamah ilahi merupakan anugerah agung yang tak ternilai harganya. Menjaga diri dari kekejian zina menjadi pilar utama penyelamat martabat manusia di pentas peradaban dunia.(ust)

Berita Terkait

Hukum Doa Bersama Pahlawan Beda Agama dalam Islam
Menelisik Hukum Pajak dalam Islam dan Landasan Pungutan Negara
Fatwa Mudzakarah Ajengan PUI: Pinjaman Online dengan Bunga Hukumnya Haram
Hukum Membakar Sobekan Al-Qur’an Menurut Ulama Fikih Islam
Istri Bekerja Menolak Hubungan Ranjang, Ini Hukumnya Menurut Syariat
Hukum Produk Laut Mati dalam Tinjauan Fikih dan Tafsir
Hukum Utang Pulsa Darurat Menurut Syariat Islam
Tragedi Steve dan Sorotan Kesehatan Mental dalam Islam
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:59 WIB

Hukum Doa Bersama Pahlawan Beda Agama dalam Islam

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:52 WIB

Menelisik Hukum Pajak dalam Islam dan Landasan Pungutan Negara

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:49 WIB

Fatwa Mudzakarah Ajengan PUI: Pinjaman Online dengan Bunga Hukumnya Haram

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Hukum Membakar Sobekan Al-Qur’an Menurut Ulama Fikih Islam

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:06 WIB

Istri Bekerja Menolak Hubungan Ranjang, Ini Hukumnya Menurut Syariat

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:38 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:33 WIB

Pusat Studi Al-Qur'an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan.(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Nilai Pesantren Jadi Kompas Hadapi Era AI

Kamis, 22 Okt 2026 - 14:57 WIB