Jakarta, Dorlanhikmah.com – Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) resmi meluncurkan karya terbaru bertajuk Buku Historiografi Islam Nusantara di Kota Surabaya. Karya tulis garapan Prof. KH Said Aqil Siroj bersama Imam Pituduh ini mengupas rekam jejak panjang dakwah Islam serta kontribusi besarnya dalam membangun peradaban Indonesia.
Peluncuran karya literatur ini sekaligus menjadi agenda penting LPOI dalam menyambut peringatan Hari Santri 2026. Penulis menyusun buku tersebut demi mewariskan rekonstruksi narasi sejarah yang utuh dan akurat kepada generasi muda penerus bangsa.
Kiai Said menegaskan bahwa publik perlu mengubah cara pandang saat mempelajari sejarah perkembangan Islam di tanah air. Penelusuran masa lalu tidak boleh berhenti pada pencarian waktu kedatangan agama maupun nama-nama tokoh penyebarnya semata.
Masyarakat justru wajib meneliti cara ajaran Islam berinteraksi secara dinamis dengan akar kebudayaan lokal di berbagai daerah. Pola perjumpaan kultural tersebut kemudian membentuk beragam institusi kemasyarakatan dan memperluas jaringan keilmuan para ulama.
Rekonstruksi Catatan Sejarah Sebagai Ruang Kajian Ilmiah Terbuka
Mantan Ketua Umum PBNU tersebut menjelaskan bahwa buku ini memposisikan sejarah keagamaan sebagai ruang telaah ilmiah yang inklusif. Para peneliti harus terus memperbarui penulisan fakta masa lampau seiring penemuan bukti naskah kuno dan pemakaian metode analisis mutakhir.
Perbedaan sudut pandang dalam menafsirkan catatan sejarah merupakan bagian alami dari dinamika dunia akademik. Variasi simpulan lazim muncul akibat perbedaan data acuan, instrumen penelitian, sudut pandang, hingga kerangka teori yang peneliti gunakan.
Kiai Said juga menyoroti peran strategis organisasi Islam modern seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam menggerakkan roda peradaban. Kedua wadah persyarikatan ini membuktikan bahwa umat Islam bergerak aktif melampaui batas praktik ibadah ritual individual.
Gerakan kemasyarakatan tersebut memberi kontribusi nyata dalam memajukan dunia pendidikan, mendirikan layanan sosial, mematangkan pemikiran keagamaan, serta memicu transformasi sosial. Sejarawan masa kini mesti menempatkan perkumpulan Islam sebagai subjek penggerak yang aktif memproduksi khazanah pengetahuan dan merekam ingatan kolektif warga.
Peneliti dapat melacak memori perjalanan keumatan lewat lembaran arsip resmi, catatan organisasi, naskah kuno, hingga penuturan para saksi sejarah. Lewat buku ini, LPOI berupaya memperkaya keragaman sudut pandang, memvalidasi sumber data rujukan, serta menampilkan sosok pelaku utama penulisan sejarah Nusantara.
Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta ini memastikan tulisan mereka sama sekali tidak bertujuan menyusun narasi pembelaan diri yang sempit. Kajian mendalam ini murni menempatkan umat Muslim Nusantara sebagai aktor sejarah yang kreatif, produktif, dan berkontribusi nyata bagi peradaban.
Membangun Benteng Literasi Sejarah Demi Hadapi Informasi Fragmentaris
Sekretaris Jenderal LPOI, Imam Pituduh, membeberkan alasan strategis di balik pemilihan Surabaya sebagai pusat peluncuran perdana buku tersebut. Kota Pahlawan menyimpan tautan historis yang amat lekat dengan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia serta tapak tilas kerajaan masa lampau.
Pihaknya sengaja menggali inspirasi perjuangan masa lalu untuk menyegarkan kembali ingatan publik terhadap warisan para wali. Jejak keteladanan para penyebar Islam terdahulu tetap relevan memandu langkah masyarakat di tengah kompleksitas tantangan zaman modern.
Imam mengingatkan masyarakat agar senantiasa meningkatkan kecakapan literasi dalam menyaring informasi yang beredar di ruang publik digital. Saat ini banyak pihak kerap memotong dan menyajikan kisah sejarah secara terpecah-pecah tanpa dukungan data bukti yang kredibel.
Tindakan menyederhanakan fakta masa silam berisiko membelokkan pemahaman publik terkait jati diri bangsa serta keharmonisan hubungan antarkelompok. Kerancuan pemahaman sejarah masa lalu berpotensi melemahkan persatuan nasional yang sudah tokoh bangsa rawat sejak puluhan tahun silam.
Oleh sebab itu, pembaca dituntut cermat memisahkan antara fakta empiris, hasil interpretasi peneliti, dan pandangan opini pribadi. Publik wajib memeriksa kembali kredibilitas dokumen rujukan serta memahami latar konteks peristiwa sebelum menerima suatu narasi sejarah.
Acara bedah buku di Surabaya tersebut menyedot perhatian banyak kalangan dan berlangsung secara khidmat hingga selesai. Sederet tokoh penting turut hadir, mulai dari anggota Wantimpres H Soekarwo, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, jajaran petinggi LPOI, pimpinan kampus, perwakilan pesantren, hingga pemuka agama se-Jawa Timur.(ust)







Komentar