Jakarta, Dorlanhikmah.com – Khotib salat Jumat menyerukan pentingnya menghidupkan kembali nilai kepedulian masyarakat di tengah ancaman kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Mimbar Jumat menegaskan bahwa umat muslim wajib memperkuat solidaritas sosial hadapi bencana yang melanda berbagai wilayah tanah air. Kesalehan individu harus menjelma menjadi kesalehan sosial lewat aksi nyata membantu sesama saudara yang tengah menderita.
Rangkaian khutbah membuka nasihat dengan pujian syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta selawat ke atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Khotib membacakan pembuka Khutbah I secara khusyuk:
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ تَمَامِ التَّقْوَى حُسْنَ الْأَدَبِ مَعَ اللَّهِ وَمَعَ رَسُولِهِ وَمَعَ عِبَادِهِ.
قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Menghidupkan Kepedulian di Tengah Ancaman Kabut Asap
Khotib mengajak seluruh kaum muslimin menaikkan derajat ketakwaan secara menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat. Islam mengajarkan umat agar tidak membatasi ibadah pada ruang privat semata, melainkan merawat hubungan harmonis dan peduli pada sesama manusia.
Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menyisakan nestapa panjang bagi warga di berbagai pelosok daerah. Asap tebal mengancam kesehatan saluran pernapasan, melumpuhkan sekolah anak-anak, serta mematikan sumber nafkah para kepala keluarga.
Kondisi genting ini paling memukul anak-anak, lansia, warga yang sedang terbaring sakit, dan pekerja lapangan. Mereka terpaksa menghirup udara beracun demi bertahan hidup sembari menanti kabut pekat sirna dari langit pemukiman.
Ujian kabut asap sejatinya mengukur kadar empati kemanusiaan seluruh warga bangsa yang masih menikmati udara segar. Derita saudara sebangsa yang tercekik asap bukanlah persoalan terisolasi milik mereka sendiri, melainkan tanggungan moral bersama.
Solidaritas bermakna kesadaran mendalam bahwa penderitaan warga terdampak karhutla menuntut tanggung jawab kemanusiaan kolektif. Setiap orang dapat memulai langkah pertolongan dari tindakan paling sederhana hingga bantuan logistik berskala besar.
Ajakan saling menopang ini berpijak langsung pada titah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
Firman tersebut menegaskan: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. al-Ma’idah: 2).
Panduan Kitab Tafsir dan Penguatan Ikatan Ukhuwah
Khotib merujuk ulasan Syekh Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam karya monumental Tafsir al-Maraghi juz 6 halaman 46. Sang mufasir menegaskan bahwa tolong-menolong dalam kebaikan merupakan pilar ajaran Al-Qur’an yang menuntut pembuktian amaliah di dunia nyata.
Umat Islam tidak boleh berhenti pada retorika kebaikan tanpa mengulurkan tangan membantu mereka yang tertimpa kesulitan. Keimanan sejati mendorong sanubari mukmin untuk bergerak sigap meringankan beban saudaranya yang tertimpa musibah.
Ajaran tersebut mewajibkan manusia saling menopang dalam setiap perkara yang membuahkan maslahat bagi individu maupun kelompok. Ikhtiar bersama ini mencakup segala bentuk ketakwaan yang menangkal kerusakan lingkungan serta menjauhkan bahaya dari masyarakat.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melukiskan persaudaraan kaum beriman laksana bangunan kokoh yang saling mengunci satu sama lain:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Sabda mulia tersebut bermakna: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Bangunan megah mustahil berdiri tegap jika tiap-tiap fondasi dan dinding memilih berdiri terpisah tanpa ikatan perekat. Begitu pula tatanan masyarakat akan runtuh bila warganya hanya memikirkan keselamatan diri sendiri kala tetangganya menjerit kesusahan.
Khotib mengutip pandangan Imam Ibnu Bathal dalam kitab Syarh Shahih al-Bukhari juz 9 halaman 227 saat menerangkan hadis di atas. Beliau menjelaskan bahwa dalil ini melegitimasi kaum mukmin untuk saling menolong, baik dalam urusan ukhrawi maupun perkara duniawi.
Pertolongan sesama mukmin tidak melulu berkutat pada urusan akhirat seperti nasihat pahala, dosa, surga, atau neraka. Bantuan nyata dalam urusan duniawi—terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak—justru menjadi wujud nyata pengamalan hadis tersebut.
Teladan Sahabat Utsman Mengatasi Krisis Air
Sejarah Islam mencatat inisiatif monumental sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sebagaimana terekam dalam riwayat Musnad Ahmad. Kala kaum muslimin baru tiba di Madinah, mereka menghadapi krisis air bersih yang sangat mencekik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung memotivasi para sahabat agar membebaskan sumur milik seorang Yahudi demi kemaslahatan publik. Sayyidina Utsman menyambut seruan Rasulullah dengan membeli sumur Rumah tersebut memakai kekayaan pribadinya tanpa bantuan kas pihak lain.
Sahabat Utsman kemudian mewakafkan sumur air itu sebagai fasilitas umum bagi seluruh kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Persoalan air bersih yang sempat melumpuhkan aktivitas kota Madinah pun teratasi berkat pengorbanan harta seorang saudagar dermawan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak sekadar menganjurkan doa ketika masyarakat menghadapi musibah kekeringan. Beliau mendorong langkah solutif dan tindakan nyata demi memenuhi hajat hidup orang banyak.
Sahabat Utsman menerjemahkan dorongan nabi dengan menggelontorkan harta demi menebar manfaat seluas-luasnya. Rasa gembira seketika merekah di wajah kaum muslimin Madinah karena ancaman kelangkaan air berhasil musnah tuntas.
Semangat kedermawanan Sayyidina Utsman sangat relevan memandu sikap warga menghadapi bencana kabut asap karhutla hari ini. Manusia modern memang tidak sanggup membeli udara bersih sebagaimana Utsman membeli sumur Rumah berabad-abad silam.
Kendati demikian, masyarakat dapat meneladani ruh pengorbanannya melalui tindakan konkret meringankan beban penderitaan korban kabut asap. Warga dapat menyalurkan bantuan medis, mengantarkan makanan bagi keluarga terdampak, serta menyokong logistik tim pemadam yang bertarung di garis api.
Kepedulian sosial juga mencakup kehati-hatian dalam menyaring informasi agar tidak menyebarkan kabar bohong yang memicu kepanikan warga. Selain itu, masyarakat wajib menghentikan praktik membakar lahan sembarangan demi mencegah kobaran api meluas ke pemukiman lain.
Mempererat Ukhuwah Wathaniyah Menjaga Kelestarian Bumi
Langkah kepedulian bersama ini menjadi cerminan nyata dari ukhuwah wathaniyah, yakni ikatan persaudaraan sesama warga bangsa Indonesia. Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji jiwa mulia para pendahulu yang mendahulukan kepentingan saudaranya:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Firman Allah tersebut menegaskan: “Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan.” (QS. al-Hasyr: 9).
Ayat suci ini mengenang ketulusan kaum Anshar yang menyambut hangat saudara Muhajirin mereka dengan penuh kerelaan berkorban. Kaum Anshar sama sekali tidak memandang perbedaan latar belakang suku maupun asal-usul kedaerahan sebagai penghalang untuk saling berbagi.
Semangat kerelaan kaum Anshar patut menjadi teladan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam merespons musibah alam. Perbedaan suku, bahasa, afiliasi organisasi, hingga preferensi politik tidak boleh mengikis kepedulian terhadap keselamatan lingkungan hidup bersama.
Masyarakat tidak perlu berkecil hati jika merasa belum mampu memadamkan api atau mengucurkan sumbangan dana berukuran raksasa. Setiap individu memiliki ruang kontribusi masing-masing untuk menolong sesama saudara yang tengah tercekik kabut asap.
Sebagian warga dapat mendampingi para tetangga lanjut usia yang rentan terpapar polusi udara berbahaya di dalam rumah. Warga lainnya dapat membagikan masker penyaring partikel, merawat vegetasi pekarangan, ataupun menyumbangkan tenaga serta rupiah sesuai kemampuan kantong.
Bantuan yang tampak remeh di mata sang pemberi sering kali menjadi penyambung napas yang luar biasa berharga bagi sang penerima. Mimbar Jumat mengajak seluruh hadirin agar tidak memperlakukan kabar penderitaan sesama sekadar angin lalu di beranda berita gawai.
Khotib mengakhiri Khutbah I dengan doa keberkahan serta permohonan ampunan kepada Sang Maha Pengampun:
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً
اَمَّابَعْدُ : فَيَاعِبَادَ ﷲ… اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ.
إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ …ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ وَسَلِّمْ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ التَّوْفِيقَ وَالسَّدَادَ فِي جَمِيعِ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَخِيرُونَكَ فِي أُمُورِهِمْ، وَيَرْضَوْنَ بِقَضَائِكَ وَقَدَرِكَ، وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ.
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ







Komentar