Jakarta, Dorlanhikmah.com – Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama merangkul Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk mematangkan agenda peringatan Hari Santri 2026. Langkah strategis ini mengemuka saat Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said menemui Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz di Jakarta pada Kamis malam (15/10/2026).
Kedua tokoh tersebut membedah persiapan teknis perayaan nasional sekaligus meneladani perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama. Mereka juga merumuskan arah masa depan lembaga keagamaan serta kontribusi nyata para santri bagi keutuhan Republik Indonesia.
Ketua Umum PBNU yang akrab disapa Gus Kikin menyambut hangat kehadiran direktorat baru di tubuh Kemenag tersebut. Beliau menilai kehadiran Ditjen Pesantren membuktikan keseriusan pemerintah dalam mendukung ekosistem pendidikan keislaman tradisional.
Gus Kikin menegaskan bahwa pendirian instansi teknis ini merupakan buah manis dari perjuangan panjang para kiai sepuh. Karena itu, PBNU siap mengawal lembaga baru ini agar mampu menaungi seluruh pondok pesantren di pelosok tanah air.
Organisasi Islam terbesar ini berniat memperkuat akses layanan keagamaan demi memajukan kemandirian ekonomi para santri. Komitmen tersebut menjadi landasan kokoh bagi penguatan kerja sama antara ormas dan pembuat kebijakan.
Menanggapi hal itu, Basnang Said menegaskan tekad kementeriannya untuk terus membenahi tata kelola birokrasi yang memihak pondok pesantren. Ditjen Pesantren membutuhkan pandangan jernih serta arahan moral dari para pengurus Nahdlatul Ulama.
Basnang menganggap rekam jejak Nahdlatul Ulama menjadi modal berharga bagi penguatan kebijakan negara. Jaringan pesantren NU yang mengakar kuat di nusantara sanggup mempercepat pemerataan program pendidikan Islam.
Titik Fokus Apel Akbar Bersejarah di Tebuireng
Rangkaian acara peringatan Hari Santri 2026 sendiri akan berlangsung meriah melalui berbagai kegiatan nasional. PBNU memusatkan apel akbar pada 22 Oktober 2026 di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Pemilihan lokasi ini bertujuan mengingatkan generasi muda pada tetesan keringat para ulama saat merebut kemerdekaan. Wakil Ketua Umum PBNU H Saifullah Yusuf menyampaikan langsung kabar penting tersebut di Gedung PBNU Jakarta.
Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu membeberkan rencana tersebut seusai Rapat Gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah. Seluruh jajaran pengurus cabang maupun pengurus wilayah Nahdlatul Ulama akan bergabung mengikuti upacara khidmat ini secara daring.
Panitia pelaksana juga menyiapkan malam resepsi penuh sejarah di Kota Pahlawan, Surabaya. Agenda syukuran tersebut mengambil lokasi di bekas kantor bersejarah tempat kelahiran jam’iyah Nahdlatul Ulama tahun 1926 silam.
Gus Ipul mengingatkan publik agar tidak sekadar memandang momen 22 Oktober sebagai agenda seremonial belaka. Momen tahunan ini menyuguhkan ajakan terbuka bagi anak bangsa guna menyelami kembali keteladanan para pahlawan sarungan.
Generasi muda saat ini memikul kewajiban moral untuk mewarisi api semangat para pejuang bangsa terdahulu. PBNU menaruh harapan besar agar nilai keikhlasan para pendahulu terus hidup di dada para santri modern.
Meneladani Pengorbanan Ulama Menjaga Kedaulatan Negeri Kita
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sebelumnya telah membagikan pedoman resmi pelaksanaan kegiatan kepada khalayak ramai. Dokumen teknis tersebut memuat instruksi jelas bagi seluruh warga nahdliyin di berbagai penjuru wilayah.
PBNU menginstruksikan penyelenggaraan apel upacara serentak pada tingkat basis bersamaan dengan aksi donor darah dan layanan sosial. Para pengurus daerah juga menggelar ziarah makam aulia serta doa mujahadah khusus untuk keselamatan warga Palestina.
Kemenag memastikan pedoman resmi ini selaras dengan rancangan program kerja pemerintah pusat. Penyelenggara menyatukan seluruh visi peringatan agar gaung keteladanan para kiai menjangkau masyarakat lapis bawah.
Kemandirian santri kini menjadi pilar utama pembangunan sumber daya manusia yang digalakkan kedua lembaga. Sinergi Kemenag bersama PBNU membuktikan kebersamaan erat antara umara dan ulama dalam memajukan peradaban Indonesia.(ust)







Komentar