Khutbah Pertama:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul di majelis Jumat yang mulia ini. Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Melalui kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa—menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015. Tanggal tersebut dipilih merujuk pada peristiwa bersejarah, yaitu seruan Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.
Resolusi jihad tersebut membakar semangat para ulama, santri, dan masyarakat untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman agresi militer penjajah. Puncak dari semangat jihad tersebut meletus dalam pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya, yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Jika di masa lalu para kiai dan santri mengangkat senjata melawan penjajah fisik secara langsung, maka apa bentuk jihad para santri di era sekarang ini?
Jihad kita hari ini bukan lagi melawan tentara kolonial dengan bambu runcing, melainkan jihaad bil bayaan—perjuangan dengan ilmu, pena, pemikiran, dan narasi yang mencerahkan. Tantangan terbesar bangsa hari ini adalah kebodohan, kemalasan, kemerosotan akhlak, kemiskinan, serta derasnya arus disinformasi dan radikalisme.
Santri masa kini harus tampil di garda terdepan dalam tiga peran penting:
-
Menjaga tradisi keilmuan yang beradab. Santri tidak hanya dituntut unggul secara intelektual, tetapi juga menjunjung tinggi akhlakul karimah dan adab kepada guru serta sesama, sebagaimana tuntunan para ulama salaf.
-
Memegang teguh komitmen kebangsaan. Santri adalah benteng persatuan bangsa yang merawat keberagaman dalam bingkai NKRI. Prinsip hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman) harus senantiasa hidup dan terpatri di dalam dada.
-
Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Santri harus adaptif terhadap dinamika zaman, cakap dalam literasi digital, siap mengawal kemajuan bangsa menuju peradaban yang bermartabat, dan tidak tertinggal dalam persaingan global.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita renungkan kembali warisan keteladanan para pendahulu kita. Peran santri sangat vital bagi keberlangsungan peradaban Islam yang ramah, moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), dan teguh di atas manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.
Semoga momentum Hari Santri ini memperbarui tekad kita untuk terus menuntut ilmu, berakhlak mulia, serta memberikan kontribusi nyata bagi agama, masyarakat, dan bangsa Indonesia.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua:
Setelah duduk sejenak di antara dua khutbah, khatib bangkit kembali untuk menyampaikan khutbah kedua beserta rangkaian doa penutup:
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَامِلًا وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. أَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.







Komentar