Jakarta, dorlanhikmah.com – Khatib menyusun khutbah ini dengan bahasa yang menggugah hati serta sarat akan pesan moral keislaman. Naskah ini memuat penjabaran lengkap tentang hakikat syafaat, ketakwaan, dan pembuktian kalimat tauhid. Berikut adalah naskah utuh khutbah Jumat pertama untuk Anda pelajari dan resapi secara cermat:
𝑲𝑯𝑼𝑻𝑩𝑨𝑯 𝑷𝑬𝑹𝑻𝑨𝑴𝑨:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin Sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Mengawali khutbah di hari yang mulia ini, mari kita luruskan niat, mari kita jernihkan pikiran, dan tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa yang bukan sekadar hafalan di lisan, tapi takwa yang inasya Allah mampu menundukkan ego di dalam jiwa kita.
Jama’ah Jum’at sekalian, hari ini, mari Kita bertafakur sejenak. Setiap kita yang bernapas di bumi ini, dari yang paling miskin sampai yang paling kaya, dari rakyat jelata sampai pejabat tinggi, pasti menginginkan satu hal: yaitu “Kemudahan”. Ingin urusan rumah tangganya mudah, ingin pekerjaannya mudah, dan yang paling memuncak: yaitu “ingin sakaratul mautnya mudah dan urusan di alam barzakhnya dimudahkan oleh Allah!”
Dalam diksi Al-Qur’an, kemudahan dan pertolongan mutlak dari Allah itu diistilahkan dengan Syafaat. Syafaat bukanlah hak manusia, syafaat adalah hak prerogatif Sang Pencipta!
Buka Al-Qur’an Anda, perhatikan Surah Az-Zumar ayat 44:
قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“𝐾𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ: ‘𝐻𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎𝑎𝑛 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑦𝑎𝑓𝑎𝑎𝑡 𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝐾𝑒𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑖𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑚𝑖. 𝐾𝑒𝑚𝑢𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎-𝑁𝑦𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘𝑎𝑛’.” (𝑄𝑆. 𝐴𝑧-𝑍𝑢𝑚𝑎𝑟: 44).
Lalu pertanyaannya: Siapa manusia yang kelak di akhirat berhak mendapatkan Syafaat ini melalui lisan Rasulullah ﷺ?
Apakah mereka yang hartanya paling berlimpah? BUKAN!
Apakah mereka yang pangkatnya paling tinggi? BUKAN!
Firaun, Qarun, Namrud, mereka punya harta dan tahta yang tak tertandingi hari ini, tapi apakah mereka bahagia? Tidak! Mereka hancur lebur!
Mari kita buka lembaran sejarah. Dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, ada seorang sahabat mulia bernama Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah contoh nyata bahwa kesempatan mendekat kepada Allah tidak pernah tertutup, meskipun kita merasa terlambat. Abu Hurairah ra, Beliau masuk Islam di tahun ke-7 Hijriah, hanya tiga tahun sebelum Nabi wafat. Tapi visinya luar biasa. Ia mengejar ketertinggalannya dari Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan dengan berusaha untuk selalu bersama Nabi siang dan malam.
Suatu hari, Abu Hurairah bertanya kepada Nabi:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟
“𝑌𝑎 𝑅𝑎𝑠𝑢𝑙𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ, 𝑚𝑎𝑛 𝑎𝑠’𝑎𝑑𝑢𝑛 𝑛𝑎𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑖 𝑠𝑦𝑎𝑓𝑎’𝑎𝑡𝑖𝑘𝑎 𝑦𝑎𝑢𝑚𝑎𝑙 𝑞𝑖𝑦𝑎𝑚𝑎ℎ?
(𝑊𝑎ℎ𝑎𝑖 𝑅𝑎𝑠𝑢𝑙𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ, 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎𝑘𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑔𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑦𝑎𝑓𝑎𝑎𝑡𝑚𝑢 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑘 𝑑𝑖 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑖𝑎𝑚𝑎𝑡?)”
Dengarkan baik-baik jawaban Rasulullah ﷺ. Beliau tidak menyebut harta, beliau tidak menyebut gelar akademik pendidikan. Rasulullah ﷺ menjawab:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
“Manusia yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH, dengan ikhlas dari kedalaman hatinya!” (HR. Bukhari).
Hadirin, mari kita jujur pada Dzat Yang Maha Menatap kedalaman hati kita saat ini… Jangan-jangan sampai Jumat ini, jangan sampai di detik ini, di tempat yang mulia ini, kalimat syahadat kita baru sampai di ujung lisan, tapi belum pernah tembus hidup dan berakar ke dalam hati kita!
Kita semua sudah mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah”. Secara hukum, syahadat lisan menjadikan kita seorang Muslim. Tapi tunggu dulu! Al-Qur’an membedakan antara Muslim dan Mukmin (yaitu orang yang imannya sudah menancap di hati).
Buka Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 14:
۞ قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
“𝑂𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝐴𝑟𝑎𝑏 𝐵𝑎𝑑𝑢𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑎𝑡𝑎, “𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛.” 𝐾𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ (𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎), “𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛, 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑘𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ, ‘𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑠𝑙𝑎𝑚’ 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑖𝑚𝑎𝑛 (𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎) 𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑘𝑒 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑡𝑖𝑚𝑢. “
Bagaimana cara menguji apakah syahadat kita sudah tembus ke hati atau belum?
Lihat respons tubuh kita saat diserukan kalimat Allah! Apakah ada getaran jiwa saat kalimat ini terdengar dan terucap?. Orang beriman akan merasakan hatinya bergetar atau gemetar serta keimanannya semakin bertambah saat mendengar nama atau ayat-ayat Allah disebut.
Coba perhatikan, adakah kata “Iman” dalam Al-Qur’an yang berdiri sendiri? Tidak! Kata iman selalu disandingkan dengan Amal Shaleh (Alladzina amanu wa ‘amilush shalihat). Karena amal shaleh adalah output dari iman yang menyala di dada!
Allah menguji kita lima kali dalam sehari. Suara adzan diperdengarkan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar!”
Kalau iman itu sudah sampai ke hati, ketika mendengar nama Allah disebut, hatinya akan bergetar! (Wajilat qulubuhum). Ia akan segera meninggalkan pekerjaannya, meletakkan segala urusannya, dan bergegas menuju masjid.
Tapi apa yang terjadi hari ini? Ketika muadzin berteriak “Hayya ‘alal Falah” (Mari menuju kebahagiaan/kesuksesan/syafaat), apa respons kita? Kita masih asyik dengan tontonan kita! Kita masih sibuk menghitung keuntungan dagang kita! Kita masih santai dengan kegiatan kita! Pantaskah lisan yang sombong ini berharap Syafaat Rasulullah di padang Mahsyar nanti?, sementara panggilan Allah saja kita abaikan?!
Ingat hadits Nabi yang sangat tajam ini:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim).
Maka, untuk meraih Syafaat itu, rubah mindset (cara pandang) kita! Jangan melihat ibadah sebagai beban. Jangan sampai kita mengeluh saat sudah tiba Waktu Ashar, Sudah tiba waktu Magrib. JANGAN sampai wahai jama’ah sekalian!
Lihat ibadah sebagai pintu kemudahan! Mungkin saat Anda sujud dalam dhuha, di situlah Allah melunaskan hutang-hutang Anda! Mungkin saat Anda menahan amarah dan memaafkan tetangga Anda, di situlah Allah mengangkat penyakit yang sedang menggerogoti tubuh Anda!
Maka mumpung napas masih berhembus, mari kita berhijrah. Runtuhkan ego duniawi kita. Menangislah disepertiga malam, Tahajjud. Muhasabah total! Jika selama ini syahadat kita baru di ujung bibir, mari kita buktikan, mulai hari ini dengan amal nyata. Jaga shalat lima waktu berjamaah. Jangan sentuh harta yang haram meskipun ekonomi kita sedang sulit. Basahilah lisan dengan istighfar dan dzikir.
Tingkatkan ketakwaan Anda, karena Allah berjanji dalam Surah At-Thalaq: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
Semoga kelak, ketika mata kita tertutup meninggalkan dunia yang fana ini, kalimat Laa ilaha illallah tidak hanya terucap di lisan kita, tapi membimbing ruh kita menuju surga-Nya, dan kita disambut oleh senyuman terindah dari Baginda Rasulullah ﷺ.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
𝑲𝑯𝑼𝑻𝑩𝑨𝑯 𝑲𝑬𝑫𝑼𝑨
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ الْمَصَابِيحِ الْغُرِّرِ، خُصُوصًا مِنْهُمْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٌّ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ، مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ، وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ الدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ لَا دَارُ مَقَرٍّ، فَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى لَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَعْيُنًا دَامِعَةً مِنْ خَشْيَتِكَ، وَأَلْسِنَةً ذَاكِرَةً. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَالْكِبْرِ، وَطَهِّرْ أَمْوَالَنَا مِنَ الْحَرَامِ.
اَللَّهُمَّ إِنْ كَانَ فِينَا مَهْمُومٌ فَفَرِّجْ هَمَّهُ، وَإِنْ كَانَ فِينَا مَكْرُوبٌ فَنَفِّسْ كَرْبَهُ، وَإِنْ كَانَ فِينَا مَرِيضٌ فَاشْفِهِ، وَإِنْ كَانَ فِينَا عَاصٍ فَتُبْ عَلَيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا خَوَاتِيمَ الْخَيْرِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا شَفَاعَةَ نَبِيِّكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوْرِدْنَا حَوْضَهُ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.










Komentar