Jakarta, dorlanhikmah.com – Masyarakat mengenal gunung sebagai bentang alam indah yang menawarkan rekreasi dan pemandangan memukau. Kawasan pegunungan menyimpan cadangan air hujan lalu menyalurkannya ke berbagai sungai dan mata air. Hutan pegunungan juga menahan erosi, mencegah banjir, menyerap karbon, serta menjadi rumah bagi ragam flora dan fauna.
Aktivitas gunung api memuntahkan material vulkanik yang menyuburkan tanah pertanian di sekitarnya. Wilayah pegunungan menghasilkan berbagai mineral penting dan menyimpan potensi energi panas bumi yang melimpah. Bentang alam ini turut memengaruhi dinamika cuaca serta iklim kawasan secara signifikan.
Al-Qur’an menggambarkan keberadaan gunung sebagai bagian penting penopang kehidupan bumi, bukan sekadar hiasan alam. Kitab suci merekam fungsi gunung stabilkan bumi dalam Surat An-Nahl ayat 15. Para ulama tafsir mengulas makna ayat tersebut dari berbagai sudut pandang ilmiah dan teologis.
Teks Ayat Surat An-Nahl Ayat 15
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan fungsi penataan bumi tersebut melalui firman-Nya:
وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah memancangkan gunung-gunung di bumi agar permukaan tanah tidak berguncang bersama manusia. Allah juga menciptakan sungai-sungai serta jalan-jalan agar manusia memperoleh petunjuk arah.
Pandangan Imam Ibnu Jarir at-Thabari
Imam Ibnu Jarir at-Thabari (wafat 310 H) menafsirkan ayat ini sebagai bentuk nikmat agung dari Allah. Allah menancapkan gunung-gunung yang sangat kokoh di atas permukaan bumi.
ومن نعمه عليكم أيها الناس أيضا، أن ألقى في الأرض رواسي، وهي جمع راسية، وهي الثوابت في الأرض من الحبال
At-Thabari menjelaskan bahwa kata rawāsi merupakan bentuk jamak dari rāsiyah. Kata tersebut bermakna segala sesuatu yang berdiri kokoh dan tetap di atas tanah, yaitu gunung-gunung.
Tujuan utama penancapan gunung tecermin dalam frasa an tamīda bikum. At-Thabari menegaskan bahwa Allah menancapkan gunung agar bumi tidak berguncang dan mengganggu kehidupan makhluk di atasnya.
وقوله (أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ) يعني: أن لا تميد بكم، وذلك كقوله (يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا) والمعنى: أن لا تضلوا. وذلك أنه جلّ ثناؤه أرسى الأرض بالجبال لئلا يميد خلقه الذي على ظهرها، بل وقد كانت مائدة قبل أن تُرْسَى بها
At-Thabari menyamakan struktur bahasa frasa tersebut dengan ayat lain yang bermakna pencegahan. Allah memancangkan gunung supaya makhluk tidak mengalami guncangan hebat, sebab bumi sempat berguncang sebelum gunung diciptakan.
Penjelasan tersebut bersandar pada riwayat Qais bin ‘Ubad yang menggambarkan masa awal penciptaan bumi.
أن الله تبارك وتعالى لما خلق الأرض جعلت تمور، قالت الملائكة. ما هذه بمقرّة على ظهرها أحدا، فأصبحت صبحا وفيها رواسيها
Riwayat tersebut menceritakan bahwa bumi bergerak dan berguncang saat pertama kali Allah ciptakan. Para malaikat sempat meragukan bumi bisa menjadi tempat tinggal yang kokoh, hingga Allah menancapkan gunung-gunung di atasnya pada pagi hari.
At-Thabari menyimpulkan bahwa gunung berfungsi menjaga ketenangan permukaan bumi. Tanpa adanya gunung, permukaan bumi menjadi tempat yang tidak stabil bagi kehidupan makhluk.
Pandangan Mayoritas Ulama Menurut Fakhruddin ar-Razi
Imam Fakhruddin al-Razi (wafat 606 H) turut mengulas fungsi gunung dalam kitab tafsirnya. Beliau memaparkan bahwa Surat An-Nahl ayat 15 menyebutkan sebagian nikmat penciptaan di bumi.
Ulama Kufah dan Basrah memiliki sedikit perbedaan dalam memaknai frasa pencegahan guncangan. Ulama Kufah memaknainya “agar bumi tidak berguncang bersama kalian”, sedangkan ulama Basrah memahaminya “karena Allah tidak menyukai bumi berguncang bersama kalian”.
Ar-Razi kemudian mencatat pandangan masyhur yang berkembang di kalangan mayoritas mufasir.
الْمَشْهُورُ عَنِ الْجُمْهُورِ فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ أَنْ قَالُوا: إِنَّ السَّفِينَةَ إِذَا أُلْقِيَتْ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ، فَإِنَّهَا تَمِيدُ مِنْ جَانِبٍ إِلَى جَانِبٍ، وَتَضْطَرِبُ، فَإِذَا وُضِعَتِ الْأَجْرَامُ الثَّقِيلَةُ فِي تِلْكَ السَّفِينَةِ اسْتَقَرَّتْ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ فَاسْتَوَتْ. قَالُوا فَكَذَلِكَ لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى الْأَرْضَ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ اضْطَرَبَتْ وَمَادَتْ، فَخَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهَا هَذِهِ الْجِبَالَ الثِّقَالَ فَاسْتَقَرَّتْ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ بِسَبَبِ ثِقَلِ هَذِهِ الْجِبَالَ
Mayoritas ulama menganalogikan bumi seperti kapal yang mengapung di atas permukaan air. Kapal akan bergoyang ke kanan dan ke kiri sebelum penumpang memasukkan beban-beban berat ke dalamnya.
Beban berat membuat posisi kapal menjadi seimbang dan stabil di atas air. Mayoritas mufasir menilai gunung-gunung berat berfungsi menyeimbangkan bumi yang mengapung di atas air.
Kritik Ar-Razi Terhadap Analogi Kapal
Imam Fakhruddin ar-Razi tidak langsung menerima analogi kapal dan air tersebut. Beliau mengajukan beberapa argumen kritis untuk menguji keabsahan pendapat mayoritas mufasir.
Pertama, ar-Razi menilai analogi bumi dan kapal kurang tepat secara sifat benda. Jika massa bumi lebih berat daripada air, bumi seharusnya tenggelam dan bukan mengapung seperti kapal kayu yang berongga udara.
Kedua, ar-Razi meninjau Kausa gerakan dari sudut pandang ketauhidan. Jika Allah yang menciptakan seluruh gerakan dan rasa diam, Allah bisa membuat bumi diam tanpa harus bergantung pada berat fisik gunung.
Ketiga, ar-Razi mempertanyakan alasan teknis di balik kestabilan air penopang bumi. Jika gunung menstabilkan bumi di atas air, harus ada penjelasan mengapa air itu sendiri bisa tetap tenang dan tidak bergerak.
Jika air bisa diam karena sifat alaminya, bumi pun bisa memiliki sifat diam alami tanpa bantuan beban. Sebaliknya, jika Allah yang menenangkan air, Allah tentu sanggup menenangkan bumi secara langsung.
Ar-Razi juga menyinggung persepsi manusia terhadap gerakan bumi yang sangat luas. Manusia yang berada di dalam kapal besar sering kali tidak merasakan gerakan kapal, begitu pula dengan manusia yang tinggal di bumi.
Analisis Geometris Gunung Menurut Ar-Razi
Setelah menyampaikan berbagai kritik, ar-Razi merumuskan pandangan pribadinya mengenai fenomena Gunung.
وَالَّذِي عِنْدِي فِي هَذَا الْمَوْضِعِ الْمُشْكَلِ أَنْ يُقَالَ ثَبَتَ بِالدَّلَائِلِ الْيَقِينِيَّةِ أَنَّ الْأَرْضَ كُرَةٌ، وَثَبَتَ أَنَّ هَذِهِ الْجِبَالَ عَلَى سَطْحِ هَذِهِ الْكُرَةِ جَارِيَةٌ مَجْرَى خُشُونَاتٍ تَحْصُلُ عَلَى وَجْهِ هَذِهِ الْكُرَةِ
Ar-Razi menegaskan bukti-bukti meyakinkan bahwa bentuk bumi adalah bola atau bulat. Beliau memandang gunung-gunung sebagai tonjolan atau permukaan kasar di atas bola bumi tersebut.
Bola yang memiliki permukaan licin sempurna akan sangat mudah berputar meski terkena dorongan kecil. Keberadaan tonjolan dan permukaan kasar justru menahan bola agar tidak mudah menggelinding tanpa kendali.
Ar-Razi menggambarkan gunung seperti pasak yang tertancap pada permukaan bola bumi. Berat dan posisi gunung yang mengarah ke pusat bumi bertindak sebagai penghalang gerakan berputar yang berlebihan.
Mekanisme pasak inilah yang mencegah bumi dari mayd (guncangan), mayl (kemiringan), dan idhtirab (ketidakstabilan). Gunung menciptakan keseimbangan mekanis pada bentuk bumi yang bulat.
Ulasan para mufasir menunjukkan kedalaman makna Surat An-Nahl ayat 15. Kitab suci mengarahkan perhatian manusia pada hikmah penciptaan bentang alam dan keseimbangan geologis.
Gunung memegang peran vital dalam sistem pendukung kehidupan di planet ini. Keberadaannya menjamin stabilitas tanah, ketersediaan air, serta keberlanjutan ekosistem makhluk hidup.
Pemahaman atas fungsi gunung mendasari pentingnya menjaga kelestarian kawasan pegunungan. Manusia wajib merawat lingkungan gunung agar fungsi alamiah dan nikmat ilahi tersebut tetap lestari. Wallahu a’lam.(ust)










Komentar