Cirebon, dorlanhikmah.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta seluruh penghulu memahami psikologi rumah tangga saat melayani masyarakat. Penghulu memegang peran strategis untuk memberikan pembinaan perkawinan secara berkelanjutan di tengah dinamika sosial.
Nasaruddin menyampaikan pesan tersebut saat membuka National Symposium of Penghulu and Ulama (NASUHA) 2026. Forum nasional tersebut berlangsung di Pondok Buntet Pesantren, Kabupaten Cirebon, Rabu (9/9/2026).
Penghulu tidak boleh hanya menjalankan tugas administratif dan memimpin prosesi pernikahan semata. Mereka juga harus mengemban peran sebagai penyuluh perkawinan yang siap mendampingi masyarakat.
Kementerian Agama menggelar simposium ini untuk mempertemukan perspektif keulamaan dengan pengalaman praktis penghulu. Forum tersebut menghasilkan berbagai gagasan penting guna mendukung pengembangan layanan pembinaan keluarga.
Menag menegaskan bahwa pembinaan masyarakat harus bermula dari unit terkecil, yaitu keluarga. Pembentukan keluarga yang sehat menjadi fondasi utama dalam membangun tatanan masyarakat yang harmonis.
Penguatan Peran Penghulu Mewujudkan Keluarga Sakinah Masyarakat
Keluarga sakinah menciptakan ruang yang menghadirkan ketenangan, kasih sayang, kebersamaan, serta pembentukan karakter anak. Pasangan suami istri perlu membangun rumah tangga yang nyaman, bukan sekadar memiliki bangunan fisik.
Nasaruddin menjelaskan perbedaan mendasar antara konsep house dan home dalam kehidupan berumah tangga. House hanya berfungsi sebagai bangunan tempat bernaung dari panas dan hujan.
Sementara itu, home atau bait menghadirkan rasa nyaman, kebahagiaan, serta kedamaian bagi seluruh anggota keluarga. Suasana tersebut tercipta ketika keluarga rutin beribadah dan menghabiskan waktu bersama.
Menag mencontohkan kebiasaan makan bersama, salat berjamaah, serta membaca Al-Qur’an bersama sebagai wujud nyata bait. Kehangatan interaksi sehari-hari memperkuat ikatan batin antaranggota keluarga secara berkelanjutan.
Upaya menciptakan suasana kondusif di rumah memerlukan komitmen nyata dari kedua belah pihak. Setiap anggota keluarga saling mendukung untuk menciptakan iklim rumah tangga yang damai.
Kombinasi Mawaddah Dan Rahmah Menciptakan Keharmonisan Rumah Tangga
Menag mengingatkan bahwa membina keluarga sakinah membutuhkan proses panjang dan komitmen kuat. Berbagai persoalan seperti masalah ekonomi, perselingkuhan, hingga perbedaan latar belakang sering memicu konflik rumah tangga.
Pasangan suami istri harus mengelola perbedaan tersebut dengan komunikasi yang baik serta kedewasaan sikap. Ikatan pernikahan formal saja tidak cukup tanpa adanya kasih sayang sehari-hari.
Nasaruddin membagikan rumus utama untuk membentuk rumah tangga yang harmonis dan berkesinambungan. Beliau menggabungkan dua unsur penting, yaitu mawaddah dan rahmah, untuk mencapai tingkatan sakinah.
Mawaddah merupakan rasa cinta yang berlandaskan pertimbangan akal sehat dan rasa tanggung jawab. Cinta jenis ini membuat seseorang mencintai pasangan secara rasional dan matang.
Sementara itu, rahmah melambangkan kasih sayang luas yang menerima segala kekurangan pasangan tanpa syarat. Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya menjadi contoh nyata dari bentuk rahmah.
Pasangan harus memadukan dosis mawaddah dan rahmah secara seimbang dalam kehidupan pernikahan. Penghulu dan penyuluh agama wajib mendampingi calon pengantin agar memahami konsep penting ini.
Pendampingan berkelanjutan dari penghulu membantu pasangan baru melewati ujian masa awal pernikahan. Langkah ini memperkokoh ketahanan keluarga di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.(ust)








Komentar