Jombang, dorlasnhikmah.com – Suasana hangat menyelimuti gerbang Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ribuan peziarah terus berdatangan melintasi gapura kompleks Makam KH Wahab Chasbullah di tengah kemeriahan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama.
Petugas Satlantas Polres Jombang bersama barisan Banser siaga mengarahkan alur kedatangan para peziarah. Langkah kaki peziarah tidak hanya tertuju ke area makam, tetapi juga tertahan di sebuah tenda pameran foto sejarah.
Pameran Arsip Foto Langka Penyemarak Perhelatan Muktamar NU
Tenda putih menutupi pameran bertajuk “Jejak yang Tak Pernah Padam: Pameran Foto Kiai Wahab & Perjalanan Muktamar NU”. BAZNAS Kabupaten Jombang bersama Ribath Al-Falah memprakarsai pameran foto langka tersebut.
Puluhan bingkai foto koleksi Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional Republik Indonesia terpajang rapi di sana. Pengunjung antusias mengamati foto Kiai Wahab tahun 1954 hingga momen kebersamaannya dengan Presiden Sukarno pada Muktamar NU 1962.
Salah satu panel menampilkan dokumen kliping koran beraksara ejaan lama yang menyedot perhatian banyak orang. Kliping tersebut mencatat peran aktif Kiai Wahab dalam menggalang bantuan bagi kaum Muslimin di Palestina.
Peziarah dari berbagai daerah mengaku kagum setelah mengetahui fakta sejarah pendiri NU tersebut. Seorang peziarah asal Tegal bahkan baru menyadari bahwa lagu Ya Lal Wathon merupakan karya Kiai Wahab pada tahun 1934.
Menjadikan Makam Pahlawan Nasional Sebagai Wahana Edukasi Sejarah
Panel riwayat hidup di dekat area makam merangkum perjalanan panjang pendidikan sang pahlawan nasional. Kiai Wahab menimba ilmu selama 20 tahun di pelbagai pesantren sebelum mendirikan Nahdlatul Wathon dan organisasi NU.
Pusara Kiai Wahab berdiri sederhana di balik pagar besi berpenerangan terang. Batu nisan marmer krem bertuliskan gelar Pahlawan Nasional melengkapi suasana tahlil yang terus berkumandang dari berbagai sudut.
Ziarah kubur di Tambakberas tidak lagi sebatas ritual doa untuk mengharapkan keberkahan. Kehadiran pameran visual ini efektif mengubah kompleks pemakaman menjadi wahana edukasi sejarah yang terbuka bagi masyarakat luas.
Para peziarah membawa pulang pengetahuan baru mengenai rekam jejak perjuangan ulama Nusantara. Informasi sejarah yang tersaji memperkaya pemahaman generasi muda tentang nilai-nilai pengabdian Kiai Wahab bagi bangsa Indonesia.
Penyelenggaraan pameran edukatif ini membuktikan pentingnya pengemasan sejarah yang menarik di area peziarahan. Pihak pengelola berpeluang mempertahankan konsep arsip terbuka ini agar edukasi sejarah terus berjalan secara berkelanjutan.(ust)






Komentar