Jombang, dorlanhikmah.com – Istri mendiang Presiden Abdurrahman Wahid, Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, menyampaikan kritik tajam terkait penyelenggaraan pembukaan Muktamar ke-35 Tambak Beras. Beliau secara terbuka mempertanyakan ketiadaan sosok pemimpin doa perempuan muktamar dalam seremoni pembukaan acara besar tersebut.
Seluruh tokoh yang tampil memimpin doa di panggung utama merupakan kiai laki-laki. Sinta Nuriyah menyuarakan sorotan tersebut saat menjadi pembicara dalam Musyawarah Besar Warga NU 2026.
Acara Mubes Warga NU berlangsung di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur. Forum tersebut menyelenggarakan rangkaian diskusi pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Sinta Nuriyah mempertanyakan kebiasaan masyarakat pesantren yang selalu mengagungkan mukjizat doa seorang ibu. Beliau menegaskan bahwa warga santri selalu mencari doa ibu saat memiliki hajat besar.
Namun, tradisi penghormatan terhadap peran ibu tersebut justru pupus dalam tata acara resmi organisasi. Panggung formal muktamar belum memberi ruang setara bagi kiai perempuan untuk memimpin doa.
Lokasi penyampaian kritik tersebut memberi makna historis yang sangat kuat bagi gerakan perempuan. Pesantren Seblak berdiri kokoh melestarikan jejak perjuangan Nyai Khoiriyah Hasyim.
Putri Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tersebut mencatatkan nama sebagai salah satu ulama perempuan paling berpengaruh dalam sejarah pesantren di Indonesia. Kiprah beliau menjadi bukti sejarah kepemimpinan ulama perempuan di tanah air.
Sinta Nuriyah Soroti Peran Ulama Perempuan Pesantren NU
Panitia menggelar Mubes Warga NU 2026 sepanjang hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB di Pesantren Seblak. Pertemuan tersebut menghadirkan warga nahdliyin dari berbagai daerah untuk merumuskan arah organisasi menjelang abad kedua.
Agenda kegiatan mengawali sesi pagi melalui Forum Pleno pada pukul 08.30 sampai 11.30 WIB. Panitia mengusung tema utama “NU Abad Kedua: Khidmah, Kemandirian, dan Kemaslahatan”.
Empat pembicara utama mengisi jalannya Forum Pleno dengan pemikiran strategis mereka. Para narasumber tersebut meliputi KH. Umar Wahid, Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, dan H. Lukman Hakim Saifuddin.
Mayadina memimpin jalannya alur diskusi tersebut dengan bertindak sebagai moderator. Seluruh peserta menyimak pemaparan narasumber hingga sesi jeda siang.
Musyawarah Besar Warga NU Merumuskan Arah Abad Kedua
Panitia melanjutkan agenda Mubes melalui Sidang Komisi pada pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Panitia membagi para peserta ke dalam tiga kelompok pembahasan komisi.
Komisi pertama mengusung topik pembahasan bertajuk “Kemandirian NU, Demokrasi, dan Kemaslahatan Jamaah”. Forum ini membedah penguatan kemandirian organisasi demi kesejahteraan seluruh jamaah.
Komisi kedua mendalami isu mendasar bertajuk “Politik Uang, Integritas, dan Demokrasi Internal NU”. Sesi ini menyoroti pentingnya menjaga integritas tata kelola organisasi dari praktik politik uang.
Komisi ketiga mengkaji gagasan bertema “Kewargaan NU: Dari Jamaah Menuju Gerakan Warga”. Pembahasan ini mendorong transformasi peran jemaah menuju gerakan warga yang aktif dan mandiri.
Rangkaian Musyawarah Besar Warga NU 2026 sukses menyerap aspirasi kritis dari para tokoh nahdliyin. Penyampaian kritik Sinta Nuriyah mempertegas pentingnya kesetaraan peran perempuan dalam struktur maupun acara resmi organisasi.(ust)






Komentar