Jakarta, dorlanhikmah.com – Kisah kelahiran Nabi Muhammad menjadi titik awal perjalanan sejarah Islam yang sangat penting. Pada fase ini, Allah mulai membentuk pribadi Nabi Muhammad sebagai manusia pilihan sejak lahir hingga beliau menikah dengan Khadijah.
Selain itu, setiap peristiwa dalam hidup beliau selalu membawa pelajaran besar. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami perjalanan hidup Rasulullah sejak kecil hingga dewasa agar dapat meneladani akhlaknya.
Kelahiran Nabi Muhammad di Tahun Gajah
Nabi Muhammad ﷺ lahir di Makkah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah (20 April 571 M). Kemudian, ayah beliau, Abdullah, wafat sebelum beliau lahir sehingga beliau tumbuh sebagai seorang yatim sejak awal kehidupan.
Selain itu, ibunda beliau, Aminah, mengalami kelahiran yang penuh keberkahan. Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ فَقَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Artinya: “Hari Senin adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, kelahiran beliau membawa tanda-tanda kemuliaan sejak awal.
Masa Menyusui di Bani Sa’d
Setelah kelahiran, Allah mengatur perjalanan hidup Nabi Muhammad melalui para wanita penyusu. Salah satunya adalah Halimah binti Abu Dzu’aib.
Kemudian, Halimah membawa Nabi Muhammad ke kampung Bani Sa’d. Sejak saat itu, ia merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Misalnya, ternak menjadi lebih subur, susu menjadi melimpah, dan kehidupan keluarganya meningkat.
Selain itu, masyarakat sekitar juga melihat keberkahan yang tidak biasa. Oleh karena itu, Halimah semakin yakin bahwa anak tersebut membawa rahmat besar.
Wafatnya Ibunda dan Asuhan Kakek
Setelah masa menyusui, Nabi Muhammad kembali ke Makkah bersama ibunya. Namun, dalam perjalanan pulang dari Yatsrib, ibunda beliau wafat di daerah Abwa.
Selanjutnya, kakek beliau, Abdul Muthalib, mengambil peran penting dalam mengasuh beliau. Ia sangat menyayangi Nabi Muhammad dan memberikan perhatian besar kepadanya.
Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, Abdul Muthalib juga wafat ketika Nabi Muhammad berusia delapan tahun. Dengan demikian, Nabi Muhammad tumbuh tanpa orang tua dan kakek, tetapi Allah selalu menjaga beliau.
Diasuh oleh Abu Thalib
Setelah itu, Nabi Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib melindungi beliau dengan penuh kasih sayang, bahkan lebih dari anaknya sendiri.
Kemudian, ketika Nabi Muhammad berusia 12 tahun, Abu Thalib membawanya berdagang ke Syam. Di sana, seorang rahib bernama Buhaira mengenali tanda kenabian pada diri beliau.
Oleh karena itu, Buhaira menyarankan Abu Thalib agar menjaga beliau dengan baik karena beliau akan menjadi nabi akhir zaman.
Masa Remaja dan Pekerjaan Menggembala
Pada masa remaja, Nabi Muhammad bekerja sebagai penggembala kambing. Selain itu, pekerjaan ini melatih kesabaran, tanggung jawab, dan kemandirian beliau.
Di sisi lain, Allah juga menjaga beliau dari kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah. Setiap kali beliau ingin mendekati hiburan, Allah membuat beliau tertidur sehingga beliau tidak terlibat dalam hal tersebut.
Dengan demikian, Allah menyiapkan beliau secara langsung untuk tugas besar sebagai Rasul.
Perang Fijar dan Hilful Fudul
Ketika berusia sekitar 15 tahun, Nabi Muhammad ikut membantu dalam Perang Fijar dengan mengumpulkan anak panah untuk pamannya.
Setelah perang berakhir, masyarakat Makkah membentuk perjanjian Hilful Fudul untuk menegakkan keadilan. Nabi Muhammad ikut menyaksikan perjanjian ini.
Selain itu, beliau sangat menghargai perjanjian tersebut. Beliau bahkan menyatakan bahwa jika diundang kembali, beliau tetap akan mendukungnya.
Oleh karena itu, sejak sebelum kenabian, beliau sudah menunjukkan komitmen terhadap keadilan.
Perdagangan ke Syam dan Awal Pertemuan dengan Khadijah
Ketika berusia 25 tahun, Nabi Muhammad berdagang ke Syam dengan modal dari Khadijah. Kemudian, beliau menjalankan perdagangan tersebut dengan jujur dan amanah.
Maysarah yang menemani beliau melihat langsung kejujuran dan akhlak mulia beliau. Selain itu, perdagangan tersebut menghasilkan keuntungan besar.
Dengan demikian, Khadijah semakin yakin terhadap kepribadian Nabi Muhammad.
Pernikahan dengan Khadijah
Setelah itu, Khadijah mengirim utusan untuk menyampaikan keinginannya menikah dengan Nabi Muhammad. Kemudian, Nabi Muhammad menerima lamaran tersebut dengan penuh kehormatan.
Pernikahan berlangsung dengan mahar 20 ekor unta muda. Saat itu, Nabi Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.
Dari pernikahan ini, lahir enam anak: Al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.
Selain itu, pernikahan ini memberikan dukungan besar bagi Nabi Muhammad dalam perjalanan hidup dan dakwah beliau.
Gelar Al-Amin dan Peristiwa Hajar Aswad
Masyarakat Makkah memberikan gelar Al-Amin kepada Nabi Muhammad karena kejujuran dan amanah beliau.
Kemudian, saat renovasi Ka’bah, terjadi perselisihan besar tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Hampir saja konflik berubah menjadi peperangan.
Namun, Nabi Muhammad datang dan menyelesaikan masalah dengan sangat bijak. Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain, lalu semua suku mengangkatnya bersama-sama.
Dengan demikian, beliau berhasil mencegah pertumpahan darah di Makkah.
Kutipan Hadis dan Ulama
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
Artinya: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim)
Selain itu, Ibn Hisham dalam Sirah Nabawiyah menjelaskan bahwa Allah memilih garis keturunan Nabi Muhammad dari keluarga paling mulia.(ust)









Komentar