Jakarta, dorlanhikmah.com – Profil Muammar ZA qori legendaris asal Indonesia terus menginspirasi generasi muda melalui perjalanan hidup dan deretan prestasi cantiknya di dunia qiraah. Sosok pemilik nama lengkap Qori Muammar Zainal Asyikin ini lahir pada 14 Juni 1954 di Dusun Pamulihan, Warungpring, Pemalang.
Masyarakat dunia mengenal tokoh agama ini berkat kemampuan olah vokal dan napas panjang yang amat khas saat melantunkan ayat suci. Bakat alaminya bahkan sudah memikat banyak orang sejak ia menjuarai lomba membaca Al-Qur’an di Pemalang pada usia tujuh tahun.
Perjalanan Pendidikan Dan Prestasi MTQ Muammar ZA
Pendidikan keagamaan sosok ulama ini bermula dari Pondok Pesantren Kaliwungu Kendal setelah ia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. Tokoh kelahiran Jawa Tengah ini kemudian melanjutkan studi ke Pendidikan Guru Agama (PGA) serta IAIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta.
Semangat belajarnya terus berlanjut hingga ia menempuh pendidikan tinggi di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Ciputat Jakarta. Selama menimba ilmu di Yogyakarta, bakat seni baca Al-Qur’an sang qori berkembang sangat pesat hingga meraih berbagai penghargaan.
Pria paruh baya ini sukses menyabet gelar juara pertama MTQ tingkat remaja se-Provinsi DIY pada tahun 1967. Keberhasilan tersebut mengantarkan sang hafiz menjadi kontingen andalan Yogyakarta dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional.
Keunggulan suaranya terbukti lewat raihan juara pertama MTQ tingkat nasional selama tiga kali berturut-turut pada 1967, 1972, dan 1973. Prestasi luar biasa ini semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pembaca Al-Qur’an terbaik yang dimiliki Indonesia.
Puncak karier internasionalnya terjadi ketika ia berhasil merebut gelar juara pertama lomba qori tingkat internasional pada 1979 dan 1986. Keberhasilan menembus panggung dunia ini membuat namanya melambung tinggi hingga ke mancanegara.
Kiprah Syiar Al Quran Hingga Tingkat Internasional
Kemampuan suaranya membawa sang qori menerima berbagai undangan resmi dari para pemimpin negara di pelbagai belahan dunia. Pemimpin Kerajaan Brunei Darussalam Raja Hassanal Bolkiah dan Istana Yang di-Pertuan Agong Malaysia pernah mengundangnya secara khusus untuk mengaji.
Umat Islam di kawasan Jazirah Arab juga sering mendengarkan lantunan merdu ayat suci Al-Qur’an langsung dari suaranya. Pemerintah Turki mengundangnya melantunkan ayat Al-Qur’an pada 2004, disusul kunjungan syiar ke Pakistan pada tahun 2009.
Kehidupan pribadinya terbentuk dalam lingkungan keluarga yang taat beragama sebagai putra ketujuh dari pasangan H. Zainal Asykin dan Hj. Mu’minatul Afifah. Tokoh ini kemudian mempersunting Syarifah Nadiya wanita asal Aceh pada 1984 dan mendidik lima orang anak.
Darah seni membendung ayat suci mengalir kuat di keluarganya hingga sang adik Imron Rosyadi ZA ikut menjuarai MTQ nasional. Keinginan mencetak generasi penerus mendorong sang tokoh mendirikan Pesantren Ummul Quro di Cipondoh Tangerang pada tahun 2002.
Lembaga pendidikan tersebut fokus membina qori dan qariah muda agar mampu bersaing di tingkat internasional sejak usia dini. Dedikasi tanpa henti ini menjadikan sosoknya sebagai pilar penting dalam sejarah syiar Al-Qur’an di Nusantara.(ust)










Komentar