Khutbah Jumat: Bahaya Kezaliman Sesama Manusia

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 21 September 2026 - 15:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: arsip).

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: arsip).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Keadilan merupakan prinsip agung dalam ajaran Islam yang wajib menjunjung tinggi hak setiap manusia. Sebaliknya, Islam mengharamkan segala bentuk kezaliman karena dapat merusak kehormatan serta keselamatan hidup sesama.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras bahwa perbuatan zalim dapat menghapus seluruh pahala ibadah. Oleh karena itu, bahaya kezaliman sesama manusia menyeret pelakunya ke dalam kebangkrutan yang nyata pada hari kiamat kelak.

Setiap muslim wajib menjaga lisan, perbuatan, hingga tulisan tangan mereka setiap hari. Selain itu, penyelesaian hak sesama manusia harus segera selesai sebelum ajal menjemput.

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

أَمَّا بَعْدُ،

فَاعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ، أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَقَاصِدِ هَذَا الدِّينِ إِقَامَةَ الْعَدْلِ، وَتَحْرِيمَ الظُّلْمِ عَلَى الْعِبَادِ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنَّ أَخْطَرَهُ مَا كَانَ فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاحْذَرُوا الظُّلْمَ كُلَّهُ، فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ، وَفِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَى الظُّلْمَ، وَلَا يُهْمِلُ حُقُوقَ الْمَظْلُومِينَ.

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Islam menempatkan penegakan keadilan sebagai landasan paling utama dalam kehidupan. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala melarang keras setiap tindakan aniaya dalam kondisi apa pun.

Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Kezaliman

Allah Ta’ala menegaskan larangan tersebut melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an:

أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).

Selanjutnya, Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat lainnya:

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Ghafir: 18).

Bahkan, ancaman ini berlanjut tegas dalam surah Al-An’am:

إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).

Sementara itu, Rasulullah ﷺ juga meriwayatkan firman Allah Ta’ala dalam Hadits Qudsi:

Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim, no. 6737)

Hakikat Orang yang Bangkrut di Hari Kiamat

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ memaparkan akibat paling menakutkan dari perbuatan zalim. Pasalnya, manusia kerap keliru memahami arti kebangkrutan yang sebenarnya di akhirat kelak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَدْرُونَ ما المُفْلِسُ؟ قالوا: المُفْلِسُ فِينا مَن لا دِرْهَمَ له ولا مَتاعَ، فقالَ: إنَّ المُفْلِسَ مِن أُمَّتي يَأْتي يَومَ القِيامَةِ بصَلاةٍ، وصِيامٍ، وزَكاةٍ، ويَأْتي قدْ شَتَمَ هذا، وقَذَفَ هذا، وأَكَلَ مالَ هذا، وسَفَكَ دَمَ هذا، وضَرَبَ هذا، فيُعْطَى هذا مِن حَسَناتِهِ، وهذا مِن حَسَناتِهِ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُهُ قَبْلَ أنْ يُقْضَى ما عليه أُخِذَ مِن خَطاياهُمْ فَطُرِحَتْ عليه، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ.

“Tahukah kalian siapa yang disebut sebagai orang yang bangkrut (muflis)?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah yang tidak memiliki uang dan harta.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang yang benar-benar bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencela, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sementara kezalimannya belum terbayar, dosa-dosa mereka dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)

Tiga Catatan Dosa Menurut Ibnul Qayyim

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Imam Ibnul Qayyim merinci klasifikasi dosa kezaliman dalam kitab Al-Wabilush Shayyib halaman 40. Beliau membagi perkara tersebut ke dalam tiga kelompok catatan besar di hadapan Allah ﷻ.

Baca Juga :  Ekonomi Islam Ajarkan Harta sebagai Amanah( Khutbah: 1 )

«وَالظُّلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ دَوَاوِينُ ثَلَاثَةٌ:

“Kezaliman di sisi Allah ﷻ pada hari kiamat tercatat dalam tiga buku catatan besar.

دِيوَانٌ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ مِنْهُ شَيْئًا، وَهُوَ الشِّرْكُ بِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ.
وَدِيوَانٌ لَا يَتْرُكُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُ شَيْئًا، وَهُوَ ظُلْمُ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَسْتَوْفِيهِ كُلَّهُ.
وَدِيوَانٌ لَا يَعْبَأُ اللَّهُ بِهِ شَيْئًا، وَهُوَ ظُلْمُ الْعَبْدِ نَفْسَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Catatan pertama adalah kezaliman yang tidak akan diampuni sama sekali, yaitu syirik kepada Allah. Allah tidak akan mengampuni dosa menyekutukan-Nya.

Catatan kedua adalah kezaliman yang tidak akan ditinggalkan sedikit pun, yaitu kezaliman antar sesama manusia. Semua hak akan dituntut dan diselesaikan secara tuntas. Tidak ada satu pun yang dibiarkan tanpa balasan.

Adapun catatan ketiga adalah kezaliman yang paling ringan dan paling cepat terhapus, yaitu kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri, dalam hubungannya dengan Allah.

فَإِنَّ هَذَا الدِّيوَانَ أَخَفُّ الدَّوَاوِينِ وَأَسْرَعُهَا مَحْوًا، فَإِنَّهُ يُمْحَى بِالتَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَالْحَسَنَاتِ الْمَاحِيَةِ، وَالْمَصَائِبِ الْمُكَفِّرَةِ، وَنَحْوِ ذَلِك.

Dosa-dosa ini dapat terhapus dengan taubat, istighfar, amal saleh yang menghapus dosa, musibah yang menggugurkan kesalahan, dan sebab-sebab penghapus dosa lainnya.

بِخِلَافِ دِيوَانِ الشِّرْكِ، فَإِنَّهُ لَا يُمْحَى إِلَّا بِالتَّوْحِيدِ، وَدِيوَانِ الْمَظَالِمِ، فَلَا يُمْحَى إِلَّا بِالْخُرُوجِ مِنْهَا إِلَى أَرْبَابِهَا، وَاسْتِحْلَالِهِمْ مِنْهَا.

Berbeda dengan dosa syirik yang tidak akan terhapus kecuali dengan tauhid, dan berbeda pula dengan kezaliman terhadap sesama manusia yang tidak akan terhapus kecuali dengan mengembalikan hak kepada pemiliknya dan meminta kehalalan dari mereka.”

Bahaya Menyakiti Kehormatan Orang Lain

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Para ulama memberikan penegasan khusus terkait bobot penyelesaian hak sesama manusia. Oleh karena itu, tuntutan di akhirat mengabaikan pemaafan jika korban belum merelakannya.

حُقُوقُ الْعِبَادِ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الْمُشَاحَّةِ، لَا عَلَى الْمُسَامَحَةِ.

“Hak-hak sesama manusia itu dibangun di atas tuntutan yang ketat dan perhitungan yang teliti, bukan di atas sikap saling memaafkan.”

Selain itu, para ulama juga memberikan gambaran mengenai ahli ibadah yang lisan mereka lalai:

وَقَدْ تَجِدُ أناسا لَا تَكَادُ تُخْطِئُهُ صَلَاةٌ، وَلَا صِيَامٌ، وَلَا ذِكْرٌ، وَلَا دُعَاءٌ، وَلَكِنَّهُ يَفْرِي فِي أَعْرَاضِ النَّاسِ.

“Engkau bisa saja menjumpai seseorang yang hampir tidak pernah tertinggal shalatnya, puasanya, zikirnya, dan doanya. Namun pada saat yang sama, ia justru dengan mudah melukai kehormatan orang lain.”

Dampak Ucapan dan Pentingnya Menjaga Lisan

Dalam kitab Al-Jawabul Kaafi, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menekankan dampak ucapan manusia. Beliau mengutip perkataan ulama salaf berikut ini:

كُلُّ كَلَامِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لَا لَهُ، إِلَّا مَا كَانَ مِنَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ.

Setiap ucapan anak Adam pada dasarnya akan menjadi beban baginya, bukan keuntungan, kecuali ucapan yang bernilai ibadah dan kebaikan, yang mengarah kepada Allah dan diridai oleh-Nya.

وَكَانَ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُمْسِكُ عَلَى لِسَانِهِ وَيَقُولُ: هَذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ.

Diriwayatkan pula bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sering memegang lidahnya seraya berkata, “Inilah yang telah menyeretku ke berbagai kebinasaan.”

وَالْكَلَامُ أَسِيرُكَ، فَإِذَا خَرَجَ مِنْ فِيكَ صِرْتَ أَنْتَ أَسِيرَهُ.

Ucapan itu pada awalnya berada dalam kendalimu. Namun ketika ia sudah keluar dari mulutmu, engkaulah yang justru menjadi tawanan ucapanmu sendiri. (Artinya: Selama ucapan masih berada di dalam hati dan pikiran, kitalah yang menguasainya. Kita bisa menahan, memilih, atau membatalkannya. Namun ketika ucapan itu sudah terlanjur keluar, kita tidak lagi menguasainya).

وَاللَّهُ عِنْدَ لِسَانِ كُلِّ قَائِلٍ

Karena itulah Allah selalu mengawasi lisan setiap orang.

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ.

“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaaf: 18).

Kezaliman Digital di Media Sosial

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Perkembangan teknologi membuat kezaliman menyebar lewat ketikan jari di media sosial. Akibatnya, pesan elektronik hingga unggahan status kerap menjadi sarana menyakiti perasaan orang lain.

Satu kalimat singkat sanggup menyebarkan keburukan sesama yang sebelumnya tersimpan rapi. Oleh sebab itu, setiap individu harus segera meminta maaf dan meminta kehalalan atas kesalahan mereka.

Keutamaan Menyelesaikan Hak Manusia Lebih Awal

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Baca Juga :  Khutbah Jumat: Kesejahteraan Guru Honorer Tanggung Jawab Pemerintah dalam Islam

Urusan hak sesama manusia memerlukan penyelesaian yang cepat tanpa menunda waktu. Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menekankan beratnya beban dosa ini:

إن لَقِيتَ اللَّهَ تَعَالَىٰ بِسَبْعِينَ ذَنْبًا فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَىٰ دُونَ الشِّرْكِ، أَهْوَنُ عَلَيْكَ مِنْ أَنْ تَلْقَاهُ بِذَنْبٍ وَاحِدٍ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِبَادِ

“Jika engkau menghadap Allah dengan tujuh puluh dosa yang berkaitan antara dirimu dan Allah—selama itu bukan syirik—maka itu masih lebih ringan bagimu dibandingkan menghadap-Nya dengan satu dosa saja yang berkaitan dengan hak sesama manusia.” (Tanbih Al-Ghaafilin, 1:380)

Empat Faktor Pencegah Tindakan Zalim

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Islam memaparkan faktor pembenteng yang sanggup menahan seseorang dari tindakan aniaya. Imam Al-Mawardi rahimahullah merinci empat faktor tersebut dalam kitabnya:

هَذِهِ الْعِلَّةُ الْمَانِعَةُ مِنَ الظُّلْمِ لَا تَخْلُو مِنْ أَحَدِ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: إِمَّا عَقْلٌ زَاجِرٌ، أَوْ دِينٌ حَاجِزٌ، أَوْ سُلْطَانٌ رَادِعٌ، أَوْ عَجْزٌ صَادٌّ، فَإِذَا تَأَمَّلْتَهَا لَمْ تَجِدْ خَامِسًا يَقْتَرِنُ بِهَا

“Faktor yang mencegah seseorang dari berbuat zalim tidak pernah lepas dari salah satu dari empat hal: akal sehat yang menegur dan mengendalikan, agama yang membatasi dan menahan, kekuasaan yang memberi efek jera, atau ketidakmampuan yang membuatnya tidak sanggup berbuat zalim.

Anjuran Doa Mohon Ampunan dari Kezaliman

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa penuh makna kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu:

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ، فَاغْفِرْ لي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وارْحَمْنِي، إنَّكَ أنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

ALLOOHUMMA INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIROO WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIROTAN MIN ‘INDIK, WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFUURUR ROHIIM.

(Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang besar. Tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu. Kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 834 dan Muslim, no. 2705)

Oleh karena itu, umat Islam harus menimbang setiap ucapan dan tindakan sebelum melangkah. Sebab, seluruh perbuatan manusia akan menghadapi pertanggungjawaban yang teliti di hadapan Allah Ta’ala.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ

فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، وغِنَى

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا،

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِينَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

Berita Terkait

Khutbah Jumat: Teladan Keadilan Rasulullah SAW
Khutbah Jumat: Hubungan Shalat dan Rezeki Keluarga Menurut Al-Qur’an
Khotbah Jumat: Rahasia Hikmah Musibah dan Tobat
Khutbah Jumat: Memahami Makna Sukses Hakiki
Khutbah Jumat: Kunci Syafaat Rasulullah
Khutbah Jumat: Ubah Hati Sebelum Terlambat
Khutbah Jumat: Pertanggungjawaban Nikmat
Khutbah Jumat: Penyebab Utama Musibah Datang dari Dosa dan Maksiat Diri
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 15:51 WIB

Khutbah Jumat: Bahaya Kezaliman Sesama Manusia

Senin, 21 September 2026 - 15:40 WIB

Khutbah Jumat: Teladan Keadilan Rasulullah SAW

Senin, 21 September 2026 - 15:32 WIB

Khutbah Jumat: Hubungan Shalat dan Rezeki Keluarga Menurut Al-Qur’an

Sabtu, 19 September 2026 - 19:25 WIB

Khotbah Jumat: Rahasia Hikmah Musibah dan Tobat

Sabtu, 19 September 2026 - 19:18 WIB

Khutbah Jumat: Memahami Makna Sukses Hakiki

Berita Terbaru

Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama resmi menggelar peluncuran e-SMART KOMITE Kemenag di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Kemenag Luncurkan e-SMART KOMITE untuk Madrasah

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:29 WIB

Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan logo Hari Santri 2026 beserta rangkaian agenda nasional di Jakarta.(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Resmi Meluncurkan Logo Hari Santri 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 07:42 WIB

Sunnah mengangkat tangan saat Shalat di 4 tempat.(ilustrasi poto: AI)

Fiqih

4 Posisi Mengangkat Tangan Dalam Shalat Sesuai Sunnah

Senin, 21 Sep 2026 - 17:14 WIB

Saat mau sujud, tangan dulu atau lutut dulu.simak penjelasannya.(poto: ilustrasi: istimewa).

Fiqih

Lutut atau Tangan Dulu Saat Sujud? Ini Penjelasan Fiqih

Senin, 21 Sep 2026 - 17:05 WIB