Keajaiban Kehamilan Aminah Menjelang Kelahiran Rasulullah

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi Kehamilan Sayyidah Aminah saat mengandung Rasullah SAW ( Ilustrasi Poto : Klinik Keluarga ).

ilustrasi Kehamilan Sayyidah Aminah saat mengandung Rasullah SAW ( Ilustrasi Poto : Klinik Keluarga ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Kehamilan Sayyidah Aminah menjadi salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Banyak ulama klasik menceritakan munculnya tanda-tanda luar biasa sejak awal Sayyidah Aminah mengandung Nabi Muhammad saw.

Para ulama menyebut peristiwa itu sebagai irhash, yaitu kejadian luar biasa yang Allah hadirkan sebelum mengutus seorang nabi.

Peristiwa besar itu menghadirkan keberkahan bagi masyarakat Makkah dan seluruh alam. Langit, bumi, serta para malaikat menyambut perpindahan cahaya kenabian ke rahim Sayyidah Aminah dengan penuh kemuliaan.

Malam Rajab yang Penuh Kemuliaan

Riwayat Al-Khatib al-Baghdadi menjelaskan bahwa kehamilan Sayyidah Aminah bermula pada malam Jumat di bulan Rajab. Malam itu menjadi awal hadirnya manusia paling mulia di muka bumi.

Syekh Syihabuddin al-Qastalani menulis pembahasan khusus tentang tanda-tanda kelahiran Rasulullah saw dalam kitab Mawahibul Ladduniyah. Ia memberi judul pembahasan tersebut Ayatu Wiladatihi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dalam kitab itu, Al-Qastalani menjelaskan perpindahan cahaya kenabian ke rahim Sayyidah Aminah. Malaikat Ridwan membuka pintu-pintu surga sebagai bentuk penghormatan atas hadirnya calon nabi terakhir.

Para malaikat lalu bersujud sambil memuji Allah. Seluruh makhluk di langit dan bumi ikut merasakan kemuliaan malam tersebut.

Riwayat itu memuat seruan para malaikat:

ألا إن النور المخزون المكنون الذى يكون منه النبى الهادى، فى هذه الليلة يستقر فى بطن أمه الذى فيه يتم خلقه ويخرج إلى الناس بشيرا ونذيرا

Artinya:

“Ketahuilah, cahaya yang selama ini tersimpan, yang kelak menjadi nabi pemberi petunjuk, pada malam ini berpindah ke rahim ibunya. Ia akan lahir sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan bagi manusia.”
(Al-Qastalani, Mawahibul Ladduniyah, juz 1, halaman 118)

Cahaya Kenabian dalam Diri Abdullah

Sebelum menikah dengan Sayyidah Aminah, Abdullah bin Abdul Muthalib memiliki cahaya yang terpancar dari wajahnya. Banyak perempuan Quraisy mengetahui keberadaan cahaya tersebut.

Seorang perempuan dari Bani Asad bahkan pernah meminta Abdullah menikahinya karena ingin mendapatkan kemuliaan cahaya kenabian itu. Namun setelah Abdullah menikahi Aminah, cahaya tersebut berpindah.

Perempuan itu akhirnya memahami bahwa Allah memilih Sayyidah Aminah sebagai tempat terbaik bagi nur Muhammad. Kisah tersebut memperlihatkan bahwa Allah sudah menyiapkan kelahiran Rasulullah jauh sebelum beliau lahir.

Alam Menyambut Kehamilan Rasulullah

Sejak awal kehamilan Sayyidah Aminah, berbagai tanda luar biasa mulai muncul di Makkah. Tanah yang sebelumnya tandus berubah subur. Pepohonan menghasilkan buah lebih banyak dari biasanya.

Baca Juga :  Sebab Perbedaan Bacaan Al-Qur'an dan Sejarah Ilmu Qira'at

Masyarakat juga merasakan perubahan besar dalam kehidupan mereka. Banyak orang memperoleh rezeki lebih mudah dan menikmati suasana yang lebih damai.

Sebagian ulama menyebut tahun itu sebagai Tahun Kebahagiaan karena keberkahan hadir di banyak tempat. Kehadiran Rasulullah membawa harapan baru bagi masyarakat yang saat itu hidup dalam masa jahiliyah.

Riwayat-riwayat klasik juga menceritakan kegembiraan seluruh makhluk hidup. Hewan-hewan seolah ikut menyampaikan kabar tentang kelahiran nabi akhir zaman.

Allah menegaskan kedudukan Rasulullah dalam Al-Qur’an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Artinya:

“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS Al-Anbiya: 107)

Mimpi Istimewa Sayyidah Aminah

Selama mengandung Rasulullah saw, Sayyidah Aminah beberapa kali menerima mimpi penuh makna. Dalam salah satu mimpi, ia mendengar kabar bahwa anak yang dikandungnya akan menjadi pemimpin umat manusia.

Mimpi itu juga memintanya memberi nama “Muhammad” kepada sang anak. Nama tersebut berarti “orang yang banyak dipuji.”

Pesan tersebut membuat Sayyidah Aminah memahami bahwa bayi yang dikandungnya memiliki kedudukan sangat mulia. Allah mempersiapkan Rasulullah untuk membawa rahmat dan petunjuk bagi umat manusia.

Para ulama memandang mimpi-mimpi itu sebagai kabar gembira sekaligus penguat hati bagi ibunda Rasulullah.

Kehamilan yang Penuh Kemudahan

Sayyidah Aminah menjalani masa kehamilan dengan sangat ringan. Ia tidak merasakan gangguan berat seperti yang biasa dialami perempuan hamil pada umumnya.

Tubuhnya justru terasa lebih sehat dan kuat selama mengandung Rasulullah saw. Keadaan tersebut memperlihatkan kemuliaan yang Allah berikan kepada ibunda Nabi Muhammad saw.

Suasana rumah Sayyidah Aminah juga terasa lebih damai. Banyak orang merasakan ketenangan ketika berada di dekatnya. Aroma harum bahkan sering tercium dari rumahnya.

Kondisi tersebut semakin memperkuat keyakinan masyarakat bahwa anak yang dikandung Sayyidah Aminah bukan manusia biasa.

Cahaya yang Menerangi Berbagai Negeri

Beberapa riwayat menyebut cahaya terpancar dari diri Sayyidah Aminah selama masa kehamilan. Cahaya itu bahkan terlihat hingga negeri Syam.

Para ulama menafsirkan cahaya tersebut sebagai simbol petunjuk yang kelak Rasulullah bawa untuk seluruh manusia. Kehadiran Nabi Muhammad saw memang menjadi awal datangnya cahaya Islam di tengah dunia yang dipenuhi kesesatan.

Ajaran Rasulullah kemudian mengubah kehidupan manusia melalui tauhid, akhlak mulia, dan kasih sayang.

Berhala Mulai Berjatuhan

Menjelang kelahiran Rasulullah saw, banyak peristiwa aneh terjadi di sekitar Ka’bah. Patung-patung berhala yang selama ini berdiri kokoh tiba-tiba jatuh.

Baca Juga :  Siapa Sebenarnya Ahlul Kitab dalam Al-Qur'an? Ini Kata Ulama

Kejadian tersebut menjadi simbol runtuhnya kekufuran dan datangnya cahaya kebenaran. Ka’bah juga dipenuhi cahaya dan keberkahan menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw.

Melalui berbagai tanda itu, Allah menunjukkan bahwa dunia sedang bersiap menyambut nabi terakhir.

Para Rahib Mengetahui Tanda Kenabian

Tidak hanya masyarakat Makkah yang mengetahui tanda-tanda kelahiran Rasulullah. Para rahib dan ulama dari berbagai wilayah juga membaca pertanda kemunculan nabi akhir zaman.

Mereka mempelajari tanda-tanda tersebut melalui kitab-kitab terdahulu. Sebagian dari mereka bahkan sudah menunggu kelahiran seorang nabi yang akan membawa ajaran tauhid.

Keadaan itu menunjukkan bahwa risalah Rasulullah ditujukan untuk seluruh umat manusia tanpa membedakan bangsa dan wilayah.

Tahun Gajah dan Perlindungan Allah

Masyarakat Arab mengenal tahun kelahiran Rasulullah sebagai Tahun Gajah. Pada tahun itu, Abrahah datang bersama pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah.

Allah menggagalkan serangan tersebut melalui burung Ababil yang membawa batu panas dari neraka. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa itu dalam Surah Al-Fil:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

Artinya:

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?”
(QS Al-Fil: 1)

Peristiwa itu memperlihatkan perlindungan Allah terhadap Ka’bah dan kota Makkah menjelang kelahiran Rasulullah saw.

Kehamilan Rasulullah Membawa Kedamaian

Kehamilan Sayyidah Aminah juga membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Makkah. Konflik antarsuku mulai berkurang dan masyarakat menikmati suasana lebih tenang.

Banyak orang merasakan kemudahan dalam mencari rezeki. Hasil panen meningkat dan perdagangan berjalan lebih baik dibanding sebelumnya.

Perubahan tersebut menghadirkan keyakinan bahwa akan lahir sosok besar yang membawa keberkahan bagi dunia.

Kehadiran Rasulullah saw memang membawa misi perdamaian dan persatuan bagi umat manusia.

Kedudukan Al-Qastalani sebagai Ulama Hadits

Riwayat tentang keajaiban kehamilan Sayyidah Aminah memang tidak berasal dari kitab hadits primer seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Namun para ulama tetap memberi perhatian besar terhadap riwayat tersebut.

Syekh Syihabuddin al-Qastalani dikenal sebagai ulama hadits terkemuka pada masanya. Ia menulis sejumlah karya penting, termasuk syarah Shahih Bukhari berjudul Irsyadus Sari li Syarhi Shahihil Bukhari.

Kepakarannya dalam ilmu hadits membuat banyak ulama menghormati penjelasan yang ia tulis dalam Mawahibul Ladduniyah, terutama tentang sejarah kehidupan Rasulullah saw.(ust)

Berita Terkait

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Sejarah Panjang Penurunan Kitab Suci Al-Qur’an
Berita ini 20 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Minggu, 20 September 2026 - 16:05 WIB

Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:38 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:33 WIB

Pusat Studi Al-Qur'an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan.(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Nilai Pesantren Jadi Kompas Hadapi Era AI

Kamis, 22 Okt 2026 - 14:57 WIB