Jakarta, Dorlanhikmah.com – Bulan Muharram menyimpan keutamaan agung sekaligus membawa risalah penting mengenai prinsip akidah seorang mukmin. Para ulama kerap mengingatkan umat muslim agar memperteguh ketakwaan sekaligus memahami batasan hukum tasyabbuh dalam islam secara benar. Momentum istimewa ini menjadi pengingat bagi kaum muslimin untuk menjaga identitas syariat dalam menjalankan rutinitas harian.
Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ اللهِ الْقَائِمُ بِحُقُوْقِ اللهِ وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Pesan khutbah tersebut mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memanjatkan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Wujud rasa syukur yang hakiki tampak dari upaya meningkatkan ketakwaan melalui pelaksanaan perintah-Nya dan penjauhan diri dari segala larangan-Nya.
Anjuran Puasa Asyura dan Penyelisihan Terhadap Tradisi Luar
Bulan Muharram memiliki salah satu momentum istimewa yang jatuh pada hari kesepuluh, yakni puasa Asyura. Sejarah mencatat dialog penting para sahabat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pelaksanaan ibadah sunnah tersebut.
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma menuturkan peristiwa saat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjalankan puasa hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk mengerjakannya. Para sahabat kemudian menyampaikan pengamatan mereka:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى
Mendengar pernyataan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memberikan ketegasan arah syariat:
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
Namun, ketetapan takdir menentukan ajal beliau lebih dahulu sebelum memasuki tahun berikutnya, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas:
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
Riwayat hadits dalam Shahih Muslim nomor 1134 tersebut memperlihatkan tekad kuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjalankan puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram bersamaan dengan puasa Asyura tanggal 10 Muharram. Langkah ini menegaskan komitmen kaum muslimin agar tidak menyamai ritual keagamaan kaum terdahulu.
Menghapus Dosa Setahun Lewat Shaum Asyura
Ibadah puasa pada tanggal sepuluh Muharram menjanjikan pengampunan dosa yang sangat besar bagi orang-orang yang menunaikannya secara tulus. Nilai keutamaan ini tercantum jelas dalam kitab hadits induk rujukan umat.
Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu menyampaikan keterangan langsung dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Hadits riwayat Muslim nomor 1162 ini memaparkan bahwa puasa hari Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sementara itu, puasa Asyura memiliki keistimewaan menghapuskan catatan dosa setahun yang telah lewat.
Perpaduan antara puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram dan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram merangkum dua tujuan mulia sekaligus. Tujuan pertama menggapai ampunan Ilahi, sedangkan tujuan kedua menyelisihi kebiasaan Ahli Kitab.
Bahaya Tasyabbuh dan Peringatan Keras Rasulullah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan bahaya perilaku tasyabbuh atau meniru-niru non-muslim dalam perkara yang menjadi identitas khas mereka. Larangan ini mencakup aspek ritual peribadatan maupun perkara keduniaan seperti penampilan lahiriah.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai fenomena akhir zaman:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ
Hadits riwayat Bukhari nomor 7319 tersebut menggambarkan bagaimana sebagian umat muslim kelak meniru jejak peradaban terdahulu langkah demi langkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan bahwa bangsa yang mereka ikuti antara lain bangsa Persia dan Romawi.
Peringatan serupa datang melalui riwayat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dengan pengibaratan yang sangat tajam:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
Riwayat Muslim nomor 2669 ini melukiskan ketidakberdayaan orang-orang yang mengekor budaya asing hingga ke lubang hewan dhob yang sempit sekalipun. Sikap latah meniru Yahudi dan Nasrani menjadi sorotan tajam dalam nubuat kenabian tersebut.
Kecaman terhadap tindakan meniru golongan lain ditegaskan kembali dalam riwayat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Hadits riwayat Ahmad (2: 50) dan Abu Daud nomor 4031 tersebut mendapat penilaian sanad yang jayyid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah serta dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani. Riwayat ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya turut memperkuat ancaman ini lewat sabda beliau:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
Hadits riwayat Tirmidzi nomor 2695 yang berstatus hasan ini mempertegas bahwa pelaku tasyabbuh terancam keluar dari barisan kesempurnaan pengikut ajaran Rasulullah.
Standar dan Pengaruh Keserupaan Lahiriah
Ulama kontemporer Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah merumuskan kaidah mendasar mengenai batasan tasyabbuh. Rumusan ini menepis keraguan masyarakat awam dalam menilai aktivitas muamalah sehari-hari.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan dalam Majmu’ Fatawa jilid 3 halaman 30:
“Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir. Adapun jika sesuatu sudah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin dan tidak jadi kekhasan atau pembeda dengan orang kafir, maka tidak lagi disebut tasyabbuh. Seperti itu tidaklah dihukumi tasyabbuh, tetapi bisa jadi dinilai haram dari sisi lain.”
Kaidah tersebut membedakan perkara yang murni menjadi simbol orang kafir dengan perkara umum yang sudah membaur luas di tengah kaum muslimin. Keserupaan pada hal-hal yang bersifat khusus memicu pergeseran nilai secara perlahan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Al Fatawa jilid 22 halaman 154 menguraikan dampak psikologis dari keserupaan fisik:
أَنَّ الْمُشَابَهَةَ فِي الْأُمُورِ الظَّاهِرَةِ تُورِثُ تَنَاسُبًا وَتَشَابُهًا فِي الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَلِهَذَا نُهِينَا عَنْ مُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ
Keserupaan lahiriah lambat laun menumbuhkan keserupaan dalam perangai dan perbuatan batiniah. Beliau menguatkan argumentasi ini dalam Majmu’ Al Fatawa jilid 25 halaman 332:
فَإِذَا كَانَ هَذَا فِي التَّشَبُّهِ بِهِمْ وَإِنْ كَانَ مِنْ الْعَادَاتِ فَكَيْفَ التَّشَبُّهُ بِهِمْ فِيمَا هُوَ أَبْلَغُ مِنْ ذَلِكَ ؟!
Larangan keras berlaku pada perkara adat dan kebiasaan duniawi, sehingga larangan pada aspek ritual kepercayaan tentu berbobot jauh lebih berat.
Klasifikasi Penyerupaan yang Diharamkan dan yang Dibolehkan
Para ulama membagi konsep tasyabbuh terhadap non-muslim ke dalam dua kategori besar. Pemilahan ini bersandar pada buku rujukan As-Sunan wal-Atsar fi An-Nahyi ‘an At-Tasyabbuh bil-Kuffar karya Suhail Hasan halaman 58–59.
Kategori pertama mencakup penyerupaan yang diharamkan. Tindakan ini mencakup pelaksanaan sesuatu yang merupakan ciri khas agama orang-orang kafir dengan penuh kesadaran, sementara perbuatan itu tidak memiliki dasar dalam syariat Islam.
Perbuatan tersebut menyandang status haram bahkan dapat tergolong sebagai dosa besar. Sebagian tindakan tersebut bahkan mampu menjerumuskan pelakunya ke jurang kekufuran, tergantung pada ketetapan dalil-dalil yang berlaku.
Hukum ini menjerat siapa saja, baik mereka yang melakukannya demi meniru orang kafir, menuruti hawa nafsu, maupun akibat termakan syubhat yang mengira perbuatan itu bermanfaat. Ketidaktahuan seseorang menggugurkan dosa awal, namun ia wajib menerima pengajaran syariat; jika ia tetap berkeras melanjutkannya setelah paham, barulah dosa itu jatuh atasnya.
Kategori kedua memuat penyerupaan yang dibolehkan. Bentuk ini terwujud ketika seorang muslim melakukan suatu perbuatan yang pada asalnya bukan adopsi dari orang kafir, namun secara kebetulan mereka juga mempraktikkannya.
Penyerupaan jenis kedua tidak memuat larangan dosa, meski berpotensi melenyapkan hikmah utama dari upaya menyelisihi mereka. Ulama menetapkan enam syarat ketat yang membolehkan tasyabbuh dalam ranah urusan duniawi:
-
Perbuatan tersebut tidak tergolong sebagai tradisi maupun simbol khas yang menjadi ciri pembeda mereka.
-
Kebiasaan itu tidak berakar dari syariat mereka yang terkonfirmasi sumber tepercaya seperti Al-Qur’an, hadits, atau riwayat mutawatir, semisal praktik sujud penghormatan pada masa umat lampau.
-
Syariat Islam belum memaparkan penjelasan khusus, sebab umat wajib berpegang penuh jika aturan penyelisihan telah tertulis tegas.
-
Praktik penyerupaan tidak menyeret pelakunya melanggar ketentuan syariat Islam yang baku.
-
Perbuatan tersebut tidak melibatkan partisipasi maupun peniruan terhadap hari-hari raya keagamaan mereka.
-
Praktik peniruan hanya berjalan sebatas kebutuhan riil tanpa melampaui takaran yang semestinya.
Melalui pemahaman kaidah ini, kaum muslimin memperoleh kemudahan untuk menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya secara jernih tanpa terjebak ekstremitas.
Khotib mengakhiri sesi khutbah pertama dengan memanjatkan doa istighfar bagi seluruh jamaah:
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ، أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،
عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Doa:
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ،
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ







Komentar