Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Kisah bekal sedikit di Perang Tabuk menjadi melimpah, bukti nyata bahwa berkah didapat melalui iman dan ketaatan.(poto: AI).

Ilustrasi: Kisah bekal sedikit di Perang Tabuk menjadi melimpah, bukti nyata bahwa berkah didapat melalui iman dan ketaatan.(poto: AI).

Jakarta, Dorlanhikmah.com – Peristiwa bersejarah kaum muslimin menghadirkan teladan nyata mengenai hakikat kelapangan rezeki melalui keajaiban berkah makanan perang tabuk. Oleh karena itu, ujian berat yang menimpa para sahabat membuktikan bahwa pertolongan Ilahi selalu menyertai ketaatan hamba. Akhirnya, keyakinan penuh kepada Allah menjadi kunci utama dalam mengubah keterbatasan menjadi kelimpahan yang mencukupi seluruh pasukan.

Sebagian besar orang kerap memandang rezeki semata-mata dari besaran angka dan wujud fisik semata. Akibatnya, pandangan keliru ini memicu kecemasan mendalam ketika manusia menghadapi kekurangan materi. Sebaliknya, catatan sejarah masa kenabian menegaskan bahwa keberkahan sejati melampaui perhitungan matematis manusia.

Keberkahan bekerja melalui jalan ketaatan, kepasrahan batin, serta kemurnian tauhid kepada Sang Pencipta. Selain itu, kisah emas di padang pasir mengabadikan momen saat segenggam perbekalan mampu mengenyangkan ribuan pejuang. Selanjutnya, warisan hikmah ini tersusun rapi dalam literatur hadits klasik yang terus membimbing kehidupan umat.

Krisis Logistik dan Ujian Fisik Pasukan

Perjalanan panjang menuju Tabuk menguji ketahanan fisik para prajurit muslim secara luar biasa. Sebab, sengatan terik gurun dan keterbatasan persediaan air menguras stamina mereka dengan cepat. Oleh sebab itu, rasa lapar yang mencekam memaksa pasukan mencari alternatif demi mempertahankan kelangsungan hidup.

Mulanya, para sahabat berinisiatif memotong unta pengangkut air untuk mengatasi kelaparan hebat tersebut. Namun, gagasan darurat tersebut mengandung risiko besar terhadap kemampuan gerak seluruh armada militer. Maka dari itu, komunikasi dua arah antara pemimpin dan prajurit segera berlangsung guna membedah masalah secara bijak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menyambut dialog terbuka bersama para sahabat beliau. Di samping itu, beliau menampung setiap masukan yang membawa kemaslahatan bersama bagi keselamatan pasukan. Alhasil, momen kritis inilah yang membuka jalan bagi hadirnya pertolongan agung dari Allah.

Teks Lengkap Hadits #416 Riyadhus Sholihin

Catatan riwayat ini termaktub secara resmi dalam karya agung Imam An-Nawawi pada Kitab Riyadhus Sholihin, tepatnya Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah). Berikut naskah riwayat nomor 416 yang tersaji secara lengkap:

ـ وعَنْ أبي هريرةَ ــ أَوْ أبي سعيدٍ الخُدْريِّ ــ رضي اللهَ عنهم شَكَّ الرَّاوِي، وَلا يَضُرُّ الشَّكُّ في عَينِ الصَّحابيِّ؛ لأنَّهُم كُلَّهُمْ عُدُولٌ، قال: لما كانَ غَزْوَةُ تَبُوكَ، أصابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ، فَقَالُوا: يا رَسُولَ الله لَوْ أَذِنْتَ لَنَا فَنَحَرْنَا نَوَاضِحَنا، فَأَكَلْنَا وَادَّهَنّا؟ فقَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «افْعَلُوا»، فَجَاءَ عُمَرُ رضي الله عنه، فقالَ: يا رَسُولَ الله، إنْ فَعَلْتَ قَلَّ الظَّهْر، وَلكِنِ ادْعُهُمْ بفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، ثُمَّ ادْعُ اللهَ لَهُمْ عَلَيْهَا بِالبَرَكَةِ، لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَجْعَلَ في ذلِكَ البَرَكَةَ فَقَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «نَعَمْ» فَدَعَا بِنِطعٍ فَبَسَطَهُ، ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يجِيءُ بِكَفِّ ذُرَةٍ، وَيجيءُ الآخَرُ بِكَفِّ تَمْرٍ، ويجيءُ الآخَرُ بِكسرَةٍ ، حَتىٰ اجْتَمَعَ عَلىٰ النِّطَعِ مِنْ ذلِكَ شَيْءٌ يَسِيرٌ، فَدَعَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم عليْهِ بِالبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ: «خُذُوا في أَوْعِيَتِكُمْ» فَأَخَذُوا في أَوْعِيَتِهِمْ حتَّىٰ ما تَرَكُوا في العَسْكَرِ وِعَاءً إلَّا مَلَؤوه، وَأَكَلُوا حَتَّىٰ شَبِعُوا وَفَضَلَ فَضْلَةٌ، فقالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إلَّا الله، وأنّي رَسُولُ الله، لاَ يَلْقَىٰ اللهَ بهما عَبْدٌ غَيْرَ شاكً فَيُحْجَبَ عَنِ الجَنَّةِ». رواه مسلم.

Terjemahan Lengkap Riwayat Sahabat

Dari Abu Hurairah atau Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma—perawi ragu, namun keraguan tentang siapa sahabat yang meriwayatkan tidaklah merugikan karena semua sahabat itu adil—ia berkata:

Ketika Perang Tabuk terjadi, orang-orang tertimpa kelaparan. Mereka lalu berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau mengizinkan kami menyembelih unta-unta kami, lalu kami memakannya dan memakai lemaknya?”

Baca Juga :  Dinasti Abbasiyah dalam Sejarah Islam dan Puncak Peradaban

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah.”

Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika itu dilakukan, kendaraan akan berkurang. Akan tetapi, suruhlah mereka membawa sisa bekal mereka, lalu berdoalah kepada Allah agar memberi keberkahan pada bekal itu. Mudah-mudahan Allah menjadikan keberkahan di dalamnya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya.”

Beliau lalu meminta dibawakan nith‘, yaitu alas dari kulit, kemudian alas itu dibentangkan. Setelah itu, beliau meminta agar sisa bekal mereka dikumpulkan. Maka ada seseorang datang membawa segenggam jagung, yang lain membawa segenggam kurma, dan yang lain lagi membawa sepotong roti. Hingga akhirnya terkumpul di atas alas itu makanan dalam jumlah yang sangat sedikit.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keberkahan pada makanan tersebut. Setelah itu beliau bersabda, “Ambillah dan isilah wadah-wadah kalian.”

Maka mereka pun mengisi wadah-wadah mereka. Tidak ada satu pun wadah di dalam perkemahan yang tersisa kecuali semuanya telah terisi penuh. Mereka makan sampai kenyang, bahkan masih ada sisanya.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba berjumpa dengan Allah dengan membawa dua kalimat ini, dalam keadaan tidak ragu terhadap keduanya, lalu ia terhalang dari surga.” (HR. Muslim)

Makna Bahasa dan Kosakata Penting

Guna mendalami konteks peristiwa tersebut, pembaca perlu memperhatikan ragam istilah kunci berikut:

  • نَوَاضِحَنَا: bentuk jamak dari نَاضِح, yaitu unta yang dipakai untuk mengangkut air.

  • الظَّهْر: hewan tunggangan yang dinaiki.

  • فَضْلِ أَزْوَادِهِمْ: sisa bekal makanan mereka.

  • الْبَرَكَة: bertambah, berkembang, dan banyak kebaikan.

  • نِطْع: alas atau hamparan dari kulit.

Hewan pengangkut air memegang peran sentral dalam memastikan kelancaran logistik di padang pasir. Oleh karena itu, menyelamatkan hewan tunggangan merupakan langkah taktis yang sangat menentukan. Dengan demikian, keselamatan seluruh barisan pejuang tetap terjaga secara optimal.

Sementara itu, hamparan kulit menjadi wadah penyatuan bekal sukarela dari para pejuang. Bahkan, kata berkah mencerminkan pertumbuhan kebaikan dari karunia Allah semata. Akibatnya, bekal yang minim tersebut bertransformasi menjadi pasokan konsumsi yang berlimpah.

Rangkuman Faedah dan Hukum Hadits

Para ulama menelaah deretan hikmah mendalam dari kisah ini melalui poin-poin berikut:

  • Dianjurkan bagi imam untuk mengajak pasukannya bermusyawarah, agar hal itu menjadi sarana bagi mereka untuk kokoh dan mantap dalam menjalankan urusan.

  • Adab para sahabat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu mereka meminta izin dalam perkara yang ingin mereka lakukan. Demikian pula, jamaah dianjurkan untuk tidak bertindak tanpa izin imam, karena bisa menimbulkan bahaya dan mudarat.

  • Menunjukkan ketepatan pendapat Umar radhiyallahu ‘anhu, baik dalam perencanaan maupun kedalaman ilmunya.

  • Kehidupan para salaf dahulu dibangun di atas musyawarah dan dialog. Mereka saling bertukar pendapat, dan Allah memberi mereka taufik menuju keputusan yang paling benar.

  • Tawadhu‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau menerima pendapat Umar radhiyallahu ‘anhu ketika di dalamnya terdapat maslahat.

  • Anjuran untuk saling bekerja sama di antara kaum muslimin dalam seluruh urusan mereka. Hal ini tampak jelas ketika masing-masing menyumbangkan sisa bekalnya; ada yang membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kurma, dan yang lain membawa sepotong roti.

  • Penetapan mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bertambahnya makanan, dan peristiwa ini terjadi lebih dari sekali.

  • Penjelasan tentang keutamaan kalimat tauhid, bahwa kalimat tersebut adalah kunci surga selama seseorang tidak ragu terhadapnya.

Baca Juga :  Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Implementasi Nilai Musyawarah dan Adab Kepemimpinan

Musyawarah menempati posisi sentral dalam sistem pengambilan keputusan kepemimpinan Islam. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ruang bagi para sahabat untuk berpendapat. Pada akhirnya, keterbukaan ini memupuk rasa percaya diri serta kekompakan seluruh anggota pasukan.

Selain itu, disiplin prajurit tercermin jelas saat mereka selalu meminta restu sebelum bertindak. Sebab, tindakan sepihak tanpa arahan pemimpin dapat memicu kekacauan fatal di lapangan. Dengan demikian, kepatuhan para sahabat berhasil menjaga kesatuan komando di tengah krisis.

Ketajaman analisis Umar radhiyallahu ‘anhu juga menunjukkan kecerdasan merancang strategi jangka panjang. Bahkan, beliau memikirkan nasib mobilitas barisan seandainya unta pengangkut air musnah. Oleh sebab itu, ide cemerlang tersebut segera memperoleh persetujuan bijak dari Rasulullah.

Di samping itu, kerendahan hati Rasulullah terpancar saat beliau menerima masukan sahabatnya secara terbuka. Beliau tidak menonjolkan ego otoritas kepemimpinan demi menjaga kemaslahatan bersama. Alhasil, keteladanan agung ini menjadi pedoman moral utama bagi setiap pemimpin di berbagai masa.

Menumbuhkan Solidaritas Sosial di Tengah Kesempitan

Sikap gotong royong terbukti nyata saat para sahabat mengumpulkan sisa makanan mereka. Menariknya, tidak ada seorang pun yang menahan simpanannya kendati hanya tersisa sepotong roti kering. Oleh karena itu, keikhlasan berbagi inilah yang mengundang turunnya pertolongan Allah secara nyata.

Peristiwa ajaib penambahan makanan seketika memperkuat bukti kebenaran risalah kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi, kejadian luar biasa ini melenyapkan keraguan yang sempat membayangi hati sebagian prajurit. Akhirnya, keyakinan spiritual seluruh pejuang semakin kokoh dalam menghadapi medan laga.

Selain mendatangkan kecukupan fisik, mukjizat tersebut langsung mengarahkan jiwa manusia pada kemurnian tauhid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa kesaksian iman yang mantap menjadi jaminan utama menuju keselamatan akhirat. Oleh sebab itu, keteguhan hati tanpa keraguan merupakan kunci pembuka gerbang surga.

Refleksi Pola Pikir Finansial dan Rasa Syukur

Masyarakat modern kerap terjebak pada ukuran materiil yang sempit saat menilai rezeki hidup. Akibatnya, kecemasan finansial sering timbul bukan karena ketiadaan rezeki, melainkan pudarnya rasa syukur. Oleh karena itu, kisah Tabuk mengajak manusia modern untuk menata kembali sudut pandang spiritual mereka.

Berbagi harta di saat sempit memang menuntut keteguhan iman serta keikhlasan jiwa yang tinggi. Padahal, sahabat yang menyerahkan segenggam kurma sejatinya sedang mengosongkan cadangan terakhir mereka. Namun, pengorbanan tulus itulah yang justru mendatangkan keberkahan berlipat ganda dari Allah.

Kerja sama kolektif senantiasa mampu mengurai kebuntuan ekonomi yang mustahil diselesaikan sendiri. Di samping itu, sinergi antara pemimpin yang bijak dan warga yang suportif menciptakan benteng sosial yang kokoh. Maka dari itu, nilai-nilai persatuan ini menjadi solusi ampuh dalam menghadapi berbagai krisis kemanusiaan.

Menjaga kemurnian tauhid menjadi fondasi utama dalam menjemput rezeki yang berkah dan halal. Dengan demikian, seorang mukmin tidak akan mudah gelisah menghadapi tantangan masa depan. Sebab, keyakinan yang mantap terhadap pemeliharaan Allah akan selalu mendatangkan ketenangan batin yang sejati.(ust)

Berita Terkait

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Sejarah Panjang Penurunan Kitab Suci Al-Qur’an
Sejarah Al Quran dan Perannya Sebagai Pedoman Hidup Umat Humanis
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Minggu, 20 September 2026 - 16:05 WIB

Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:38 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:33 WIB

Pusat Studi Al-Qur'an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan.(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Nilai Pesantren Jadi Kompas Hadapi Era AI

Kamis, 22 Okt 2026 - 14:57 WIB