Jakarta, dorlanhikmah.com – Banyak masyarakat meyakini jam 12 malam sebagai waktu utama shalat tahajud paling mustajab. Namun, pendakwah kondang Ustaz Adi Hidayat meluruskan pemahaman keliru tersebut melalui kajian keagamaannya.
Secara bahasa, kata tahajud mengandung makna melawan atau meninggalkan kebiasaan tidur malam. Fikih mendefinisikan ibadah ini sebagai shalat sunnah malam hari sesudah seseorang bangun dari tidur.
Amalan sunnah ini menyimpan keistimewaan besar yang memengaruhi perjalanan karier serta keberkahan hidup seseorang. Allah SWT menjanjikan pengangkatan derajat hamba yang rajin menunaikan shalat malam istimewa ini.
Ketetapan agung tersebut tercantum tegas dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 79 berikut ini:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Ayat suci tersebut menegaskan bahwa Allah SWT menyediakan tempat terpuji bagi siapa saja yang menegakkan tahajud. Umat Islam dapat memetik ganjaran mulia tersebut dengan menjaga rutinitas ibadah malam secara konsisten.
Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa shalat malam memiliki keampuhan mempercepat pengabulan doa hamba. Siapa pun yang mendambakan kelapangan urusan hidup dapat memperbanyak sujud pada sepertiga malam terakhir.
Allah SWT memberikan kepastian pertolongan kepada setiap hamba yang menunaikan tahajud dengan benar. Kesiapan hati dan kekhusyukan menjadi kunci utama dalam meraih keberkahan ibadah sunnah tersebut.
Penjelasan Lengkap Pembagian Rentang Tiga Waktu Malam
Umat Islam membagi waktu malam pelaksanaan tahajud ke dalam tiga bagian umum. Setiap rentang waktu memberi keleluasaan bagi jamaah sesuai kesiapan fisik masing-masing.
Sepertiga pertama bermula tepat selepas shalat Isya hingga pukul 22.00 waktu Indonesia barat. Jamaah yang khawatir tertidur pulas kerap memanfaatkan permulaan malam ini untuk shalat.
Rentang sepertiga kedua bergulir mulai pukul 22.00 sampai pukul 01.00 dini hari. Suasana malam yang semakin hening membantu jamaah meraih konsentrasi ibadah yang lebih tenang.
Adapun sepertiga terakhir membentang mulai pukul 01.00 dini hari hingga menjelang masuknya waktu Subuh. Para ulama sepakat menempatkan fase penghujung malam ini sebagai momen yang paling utama.
Meskipun syariat membolehkan pelaksanaan pada jam berapa pun, terdapat perbedaan nilai keutamaannya. Ustaz Adi Hidayat menyarankan kaum muslimin memilih jam yang paling mendekati waktu subuh.
Pemilihan waktu yang tepat melatih kedisiplinan seorang muslim dalam mengendalikan jam istirahat. Kebiasaan mulia ini melahirkan ketenangan batin sekaligus menguatkan daya tahan spiritual seseorang.
Waktu Sahar Menjelang Subuh Jadi Momen Paling Utama
Ustaz Adi Hidayat menganjurkan jamaah mendirikan shalat sekitar pukul 04.00 menjelang subuh. Beliau mendasarkan anjuran tersebut pada petunjuk Al-Qur’an mengenai waktu akhir malam.
Momen menjelang fajar menyandang sebutan khusus dalam terminologi syariat Islam sebagai waktu sahar. Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang beribadah pada waktu sahar dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 18:
وَبِالۡاَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُوۡنَ
Ayat tersebut mengisahkan kemuliaan orang-orang saleh yang senantiasa memohon ampunan sebelum fajar merekah. Mereka memanfaatkan waktu sahar untuk beristighfar seraya memohon rahmat serta perlindungan kepada Allah SWT.
Jamaah dapat merangkaikan shalat tahajud dengan untaian zikir panjang sebelum adzan berkumandang. Waktu sahar menjadi momentum emas untuk memanjatkan seluruh hajat besar dalam hidup.
Rahmat Allah turun begitu dekat menyambut rintihan hamba yang merendahkan diri saat fajar. Oleh karena itu, kaum muslimin hendaknya bangun lebih awal demi menjemput berkah akhir malam.(ust)







Komentar