Mengenal Tafsir Surat Al-Ikhlas: Asbabun Nuzul dan Keutamaan

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 21 September 2026 - 16:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Surat Al-ikhlas.(poto: istimewa).

Surat Al-ikhlas.(poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com  – Para ulama mengkaji secara mendalam status penurunan Surat Al-Ikhlas dalam Al-Qur’an. Sebagian ulama menetapkan surah ini masuk kelompok Makkiyah, sementara sebagian lainnya mengategorikannya sebagai Madaniyah. Bagi kelompok yang meyakininya sebagai surat Makkiyah, surah ini menempati urutan ke-19 atau ke-22 yang turun setelah Surat An-Nas dan sebelum Surat An-Najm. Surah pendek ini memuat 4 ayat, 15 kalimat, dan 47 huruf.

Tafsir keutamaan surat alikhlas selalu menarik perhatian umat Islam karena kandungan tauhidnya yang sangat murni. Hubungan atau munasabah surat ini dengan Surat Al-Lahab sangat erat. Pada surat sebelumnya, Allah menegaskan bentuk permusuhan kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad saw, terutama aksi paman beliau sendiri yakni Abu Lahab.

Surat Al-Ikhlas hadir untuk menegaskan ajaran tauhid sekaligus menolak seluruh bentuk penyembahan berhala. Surah ini memberikan hiburan khusus kepada Nabi Muhammad saw dalam menjalankan dakwah. Selain itu, ayat-ayatnya memberi isyarat bahwa Allah melindungi hamba yang bergantung kepada-Nya dari kekuasaan pihak lain dan membebaskannya dari kesusahan.

Syeikh Ahmad bin Muhammad As-Shawi memberikan penjelasan mendalam dalam karya beliau mengenai hal tersebut:

(Ahmad bin Muhammad As-Shawi, Hasyiyah As-Shawi, [Surabaya, Dar Ilm: tanpa tahun], juz IV, halaman 497).

Asbabun Nuzul Surat Al-Ikhlas

Banyak riwayat shahih menerangkan latar belakang atau asbabun nuzul penurun surah ini. Syekh Wahbah Az-Zuhaili merangkum beberapa riwayat terpercaya dalam kitab karyanya, At-Tafsirul Munir. Setiap riwayat menggambarkan betapa besarnya rasa penasaran berbagai kelompok pada masa itu terhadap sifat Allah.

Riwayat pertama datang dari Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Jarir yang bersumber dari Ubay bin Ka’ab. Kaum musyrikin mendatangi Rasulullah saw untuk meminta penjelasan mengenai nasab dan sifat Tuhan yang beliau sembah. Allah kemudian menurunkan seluruh ayat dalam surah ini sebagai jawaban tegas.

Ulama meriwayatkan teks Arab peristiwa tersebut secara utuh:

أن المشركين قالوا للنبي صلّى اللَّه عليه وسلّم: يا محمد، انسب لنا ربك، فأنزل اللَّه تعالى: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ

Artinya, “Sungguh kaum musyrikin berkata kepada Nabi saw: “Wahai Muhammad, sifati Tuhanmu kepada kami!” Lantas Allah menurunkan surah al-Ikhlaash samapi selesai.”

Riwayat kedua berasal dari Ibnu Jarir dan At-Tirmidzi yang menjelaskan makna mendalam kata As-Shamad. Makna tersebut menegaskan sifat Allah yang Maha Kekal dan tidak membutuhkan sesuatu pun. Setiap makhluk yang lahir pasti akan mati dan mewariskan hartanya, sedangkan Allah tidak mati dan tidak diwarisi.

Penjelasan tersebut termaktub dalam naskah Arab berikut:

الصَّمَدُ الذي لم يلد ولم يولد لأنه ليس شيء يولد إلا سيموت، وليس شيء يموت إلا سيورث، وإن اللَّه عز وجل لا يموت ولا يورث. وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ ولم يكن له شبيه ولا عدل، وليس كمثله شيء

Artinya, “As-Shamad maknanya adalah Dzat tempat bergantung yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada sesuatu yang dilahirkan melainkan dia akan mati dan tidak ada sesuatu yang mati melainkan diwarisi. Sesungguhnya Allah swt tidak akan mati dan tidak akan diwarisi. Tiada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai dan membandi-Nya dan tidak ada suatupun yang serupa dengan Dia.”

Riwayat ketiga berasal dari Imam Qatadah, Ad-Dhahhak, dan Muqatil mengenai kedatangan rombongan kaum Yahudi. Mereka mengajukan pertanyaan terperinci mengenai zat Allah, bahan pembuat-Nya, hingga kebiasaan makan dan minum. Allah menjawab seluruh pertanyaan tersebut dengan menurunkan surah ini sebagai sifat khusus bagi-Nya.

Para perawi mencatat dialog tersebut dalam teks berikut:

جاء ناس من اليهود إلى النبي صلّى اللَّه عليه وسلّم، فقالوا: صف لنا ربك، فإن اللَّه أنزل نعته في التوراة، فأخبرنا من أي شيء هو؟ ومن أي جنس هو؟ أذهب هو أم نحاس أم فضة؟ وهل يأكل ويشرب؟ وممن ورث الدنيا ومن يورثها؟ فأنزل اللَّه تبارك وتعالى هذه السورة، وهي نسبة اللَّه خاصة

Artinya, “Ada sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi saw dan berkata: “Sifati Tuhanmu kepada kami. Sesungguhnya Allah menurunkan sifat-Nya di dalam kitab Taurat. Dia memberitahu kami dari mana Dia berasal dan dari jenis apa Dia dibuat? Apakah dari emas, timah atau perak? Apakah Dia makan dan minum? Dari siapa Dia mewarisi dunia dan siapa yang mewariskannya?” Lantas Allah swt menurunkan surat ini. Surat ini adalah sifat khusus bagi Allah swt.” (Wahbah bin Musthafa Az-Zuhaili, At-Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1418 H], juz XXX, halaman 463).

Ragam Nama Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas memiliki keistimewaan luar biasa sehingga memiliki banyak nama kehormatan. Imam Fakhruddin Ar-Razi dan Imam As-Shawi mencatat sedikitnya 20 nama khusus untuk surah ini. Banyaknya nama tersebut mencerminkan keagungan dan kedudukan tinggi surah ini di sisi Allah.

Berikut adalah deretan nama lain bagi Surat Al-Ikhlas beserta makna di baliknya:

  • Surat Al-Ikhlas

  • Surat At-Tanzil

  • Surat At-Tajrid (Penafian segala sekutu bagi-Nya), karena orang yang bergantung (hatinya) dengan surat ini akan kokok dari berubah-ubah.

  • Surat At-Tauhid, karena surat ini menunjukan kepada ajaran pokok tauhid.

  • Surat An-Najat (Keselamatan), karena pembaca surat ini akan selamat dari api Neraka.

  • Al-Wilayah (Kedekatan kepada Allah), karena orang yang ahtinya bergantung dengan surat ini, maka Allah akan memberinya wilayah (derajat wali).

  • Surat An-Nisbah karena perkataan seseorang dalam asbabu nuzul surat: “انسب لنا ربك” (Sifati tuhanmu kepada kami).

  • Surat Al-Ma’rifah (Pengetahuan tentang Allah), karena orang yang memahami surat ini maka ia mengetahui atau mengenal Allah.

  • Surat Al-Jamal (Keindahan), karena surat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Indah.

  • Surat Al-Muqasyqasyah, yakni penyembuhan dari kemusyrikan dan munafik.

  • Surat Al-Mu’awwidah yakni menjaga orang yang membaca surat ini dari fitnah dunia dan akhirat.

  • Surat As-Shamad, karena penyebutan kata tersebut dalam surat.

  • Surat Al-Asas, karena surat ini merupakan pokoknya agama.

  • Surat Al-Mani’ah, karena surat ini mencegah dari fitnah kubur dan siksa neraka.

  • Surat Al-Muhtadzir karena malaikat hadir mendengarkan bila surat ini dibaca.

  • Surat Al-Munfirah, karena setan akan lari terbirit-birit saat dibacakan surat ini.

  • Surat Al-Bara’ah, karena surat ini membebaskan dari syirik.

  • Mudzakkirah, (Pemberi peringatan), karena surat ini mengingatkan hamba akan kemurnian Tauhid.

  • Surat An-Nur, karena surat ini menerangi hati.

  • Surat Al-Insan, karena manusia sangat memerlukan surat ini.

Baca Juga :  Prinsip Imam Syafi'i Memahami Nas

Banyaknya penamaan ini menegaskan kedudukan istimewa Surat Al-Ikhlas dalam khazanah Islam. Para ulama menyimpulkan kaidah penting mengenai banyaknya nama ini melalui ungkapan populer.

Kaidah tersebut tertulis dalam teks berikut:

زيادة الاسماء تدل على شرف المسمى

Artinya, “Penambahan banyak nama menunjukkan atas mulianya yang dinamai.” (As-Shawi, juz IV/497).

Keutamaan Luar Biasa Membaca Surat Al-Ikhlas

Berbagai hadits shahih meriwayatkan keutamaan dan pahala melimpah bagi pembaca Surat Al-Ikhlas. Salah satu keutamaan utamanya adalah nilai pahala yang setara dengan membaca sepertiga Al-Qur’an. Hal ini terjadi karena isi surah memuat pokok-pokok syariat Islam, khususnya pilar tauhid dan penyucian Allah.

Imam Al-Bukhari, Abu Dawud, dan An-Nasa’i meriwayatkan kisah sahabat Abu Sa’id al-Khudri tentang seseorang yang mengulang-ulang bacaan surah ini. Rasulullah saw memberikan ketegasan mengenai nilai agung surah tersebut kepada sahabat yang sempat meremehkannya.

Rasulullah saw bersabda dalam teks riwayat berikut:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتعدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Artinya, “Demi Zat yang jiwaku dalam kekuasaan- Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlas itu pastilah setimpal dengan sepertiga Al-Qur’an.”

Dalam riwayat Imam Al-Bukhari lainnya, Rasulullah saw menawarkan amalan ringan berpahala besar kepada para sahabat. Beliau menegaskan kembali kedudukan surah ini saat para sahabat merasa berat untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam.

Keterangan tersebut tercantum dalam hadits berikut:

أيعجز أحدكم أن يقرأ ثلث القرآن في ليلة؟ فشقّ ذلك عليهم، وقالوا: أينا يطيق ذلك يا رسول اللَّه؟ فقال: اللَّه الواحد الصمد ثلث القرآن

Artinya, “Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur’an semalam?” Mereka pun merasa berat dan berkata, “Siapa di antara kami yang mampu melakukan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Surat Al-Ikhlas merupakan sepertiga Al-Qur’an”.” (Az-Zuhaili, XXX/462).

Imam As-Shawi mengumpulkan berbagai riwayat tambahan mengenai faedah membaca surah ini dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 100 kali sebelum tidur dengan posisi lambung kanan di bawah akan menerima panggilan khusus di hari kiamat untuk melangkah masuk ke surga.

Naskah riwayat tersebut tercatat secara lengkap:

من أراد أن ينام على فراشه فنام على يمينه ثم قرأ وقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ مائة مرة، فإذا كان يوم القيامة يقول له الرب عز وجل يا عبدي ادخل بيمينك الجنة

Artinya, ” Barang siapa hendak tidur di atas ranjangnya, lalu ia tidur di atas sisi kanan tubuhnya (lambung kanan berada di bawah), kemudian membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” 100 kali, maka saat hari kiamat datang Allah berkata kepadanya: ” Wahai hambaku, masuklah kamu ke dalam surga.”

Amalan membaca surah ini sebanyak 50 kali memberikan pengampunan dosa selama lima puluh tahun. Allah juga menjanjikan bangunan istana megah di surga bagi siapa saja yang merutinkan bacaannya.

Ketentuan jumlah bacaan dan balasan istana tersebut tertera dalam hadits berikut:

من قرأ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ خمسين مرة، غفرت له ذنوب خمسين سنة

Artinya, “Barang siapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” 50 kali akan dimaafkan dosa-dosanya selama 50 tahun.”

من قرأ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدُ عشر مرات بني له قصر في الجنة، ومن قرأها عشرين مرة بني له قصران في الجنة ومن قرأها ثلاثين مرة بني له ثلاث قصور في الجنة. قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : يا رسول الله إذن تكثر قصورنا، فقال رسول الله ﷺ أوسع من ذلك

Artinya, ” Barang siapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” 10 kali maka Allah membangunkan untuknya satu istana di surga. Barang siapa membacanya sebanyak 20 kali maka Allah membangunkan untuknya dua istana di surga. Barang siapa membacanya sebanyak 30 kali maka Allah membangunkan untuknya tiga istana di surga.” Umar bin Khatab bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau begitu istana kami di surga menjadi banyak?” Rasulullah menjawab: “Lebih luas daripada itu.”

Baca Juga :  Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi

Membaca surah ini saat mengalami sakit menjelang kematian memberikan perlindungan dari fitnah dan himpitan kubur. Para malaikat akan membawa pembacanya dengan penuh kemuliaan melintasi shirath menuju surga.

Janji perlindungan tersebut tertuang dalam riwayat berikut:

من قرأ قل هُوَ اللهُ أَحَدٌ في مرضه الذي يموت فيه، لم يفتن في قبره، وأمن من ضغطة القبر، وحملته الملائكة يوم القيامة بأكفها، حتى تجيزه من الصراط إلى الجنة

Artinya, “Barang siapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” pada saat sakit yang menjadikanya meninggal, maka ia tidak akan mendapatkan fitnah kubur, aman dari himpitan liang kubur, dan malaikat pada hari kiamat akan membawanya dengan tangan-tangannya, hingga malaikat membiarkannya melewati shirat menuju surga.”

Surat Al-Ikhlas juga membawa keberkahan rezeki bagi rumah tangga dan lingkungan sekitar. Membaca surah ini saat memasuki rumah dapat mengusir kefakiran dari penghuni rumah serta para tetangga.

Keterangan tersebut tercatat dalam dua riwayat terpisah:

من قرأ قل هُوَ اللهُ أَحَدٌ حين يدخل منزله نفت الفقر عن أهل ذلك المنزل وعن الجيران

Artinya, “Barang siapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” manakala masuk rumahnya maka kafakiran disingkirkan dari penghuni rumah itu dan tetangganya.”

من قرأ وقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ مرة بورك عليه، ومن قرأها مرتين بورك عليه وعلى أهله، ومن قرأها ثلاث مرات بورك عليه وعلى جميع جيرانه، ومن قرأها اثنتي عشرة مرة، بنى الله له اثني عشر قصراً في الجنة، فإن قرأها مائة مرة كفر الله عند ذنوب خمسين سنة، ما خلا الدماء والأموال، فإن قرأها ماتتي مرة كفر الله عنه ذنوب مائة سنة، فإن قرأها ألف مرة لم يمت حتى يرى مكانه في الجنة، أو يرى له

Artinya, “Barang siapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” satu kali maka ia diberkahi Allah. Barang siapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” dua kali dirinya dan keluarganya diberhaki Allah. Barang siapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” tiga kali maka dirinya dan tetangganya diberkahi Allah. Barang siapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” 12 kali maka Allah akan membangunkan untuknya 12 istana di surga. Apabila ia membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” 100 kali maka Allah akan melebur dosanya selama 50 tahun, selain dosa membunuh dan yang berhubungan dengan harta. Apabila ia membacanya 1000 kali maka ia tidak akan meninggal hingga ia melihat tempatnya di surga atau Allah memperlihatkan kepadanya.”

Suatu hari seorang sahabat mengadukan kesulitan ekonomi dan kemiskinan kepada Rasulullah saw. Beliau memberikan nasihat praktis untuk mengucapkan salam dan membaca Surat Al-Ikhlas setiap kali memasuki rumah. Sahabat tersebut mengamalkan petunjuk Nabi hingga Allah melimpahkan rezeki berlimpah sampai merambah ke para tetangganya.

Kisah penuh hikmah tersebut tercantum dalam riwayat berikut:

أنه شكا رجل إلى رسول الله ﷺ الفقر وضيق المعيشة، فقال له رسول الله : إذا دخلت البيت فسلم إن كان فيه أحد، فإن لم يكن فيه أحد فسلم علي واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة ففعل الرجل ذلك فأدر الله عليه الرزق حتى أفاض على جيرانه

Artinya, “Seorang lelaki mengadu kepada Rasulullah saw tentang kefakiran dan himpitan kehidupan.” Kemudian Rasulullah bersabda:”Apabila kamu masuk rumah maka bacalah salam, jika ada seseorang di dalamnya. Jika di dalamnya tidak ada seorangpun maka bacalah salam kepadaku lalu bacalah surat “Qul Huwallahu Ahad” satu kali.” Kemudian laki-laki tersebut mengamalkannya, lalu Allah melimpahkan kepadanya rezeki sampai melimpah kepada tetanga-tetangganya”.”

Keutamaan tertinggi tercapai ketika seseorang membaca surah ini sebanyak 100 ribu kali sebagai bentuk pembebasan diri di hadapan Allah. Namun, keutamaan besar ini menuntut syarat mutlak berupa penyelesaian seluruh hak sesama manusia atau hak adami.

Syarat ketat dan peringatan bagi orang zalim tertera dalam riwayat penutup berikut:

أن من قرأها مائة ألف مرة، فقد اشترى نفسه من الله، ونادي مناد من قبل الله تعالى في سماواته وفي أرضه ألا إن فلاناً عتيق الله، الي ان قال لكن بشرط أن لا يكون عليه حقوق للعباد أصلاً، أو عليه وهو عاجز عن أدائها، أما من قدر عليها فهو كالمستهزى بربه، لما ورد في الحديث: يا داود قل للظلمة لا يذكروني، فإنهم إن ذكروني ذكرتهم وذكري لهم أن ألعنهم

Artinya, “Barang siapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” 100 ribu kali maka ia telah membeli dirinya dari Allah, dan ada yang memanggil dari sisi Allah di langit dan bumi-Nya, “Ingat, sesungguhnya fulan adalah orang yang dimerdekakan Allah … Akan tetapi dengan syarat tidak ada sama sekali padanya hak-hak adami, atau ada tapi ia tidak mampu untuk memenuhinya. Adapun apabila sebenarnya ia mampu maka ia seperti halnya orang yang mengejek Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Wahai Dawud, katakan kepada orang-orang zalim, “Janganlah kalian mengingatku, sesungguhnya mereka apabila mengiangatku maka Aku akan mengingat mereka, dan ingatku kepada mereka adalah aku akan melaknat mereka.” (As-Shawi, IV, 497-498).(ust)

Berita Terkait

Tafsir Surah Al Qadr Syekh Utsaimin Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Refleksi Ibnul Qayyim: Hartamu Habis di Mana?
Fungsi Gunung Stabilkan Bumi dalam Al-Qur’an dan Tafsir
Menyelami Makna Dahsyatnya Kiamat Lewat Erupsi Gunung
Tafsir Surah At-Tur: Sumpah Allah dengan Gunung dan Hikmahnya
Tafsir Surat Al Fatihah Ayat 1-7
Tafsir Surah Al Lail Lengkap
Rincian Kronologi Peristiwa Jin Mendengar Al-Qur’an
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 16:28 WIB

Tafsir Surah Al Qadr Syekh Utsaimin Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Senin, 21 September 2026 - 16:19 WIB

Mengenal Tafsir Surat Al-Ikhlas: Asbabun Nuzul dan Keutamaan

Minggu, 20 September 2026 - 15:58 WIB

Refleksi Ibnul Qayyim: Hartamu Habis di Mana?

Sabtu, 19 September 2026 - 18:56 WIB

Fungsi Gunung Stabilkan Bumi dalam Al-Qur’an dan Tafsir

Sabtu, 19 September 2026 - 18:49 WIB

Menyelami Makna Dahsyatnya Kiamat Lewat Erupsi Gunung

Berita Terbaru

Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama resmi menggelar peluncuran e-SMART KOMITE Kemenag di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Kemenag Luncurkan e-SMART KOMITE untuk Madrasah

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:29 WIB

Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan logo Hari Santri 2026 beserta rangkaian agenda nasional di Jakarta.(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Resmi Meluncurkan Logo Hari Santri 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 07:42 WIB

Sunnah mengangkat tangan saat Shalat di 4 tempat.(ilustrasi poto: AI)

Fiqih

4 Posisi Mengangkat Tangan Dalam Shalat Sesuai Sunnah

Senin, 21 Sep 2026 - 17:14 WIB

Saat mau sujud, tangan dulu atau lutut dulu.simak penjelasannya.(poto: ilustrasi: istimewa).

Fiqih

Lutut atau Tangan Dulu Saat Sujud? Ini Penjelasan Fiqih

Senin, 21 Sep 2026 - 17:05 WIB