Semarang, dorlanhikmah.com – M. Basri (45) dari Tanjung Jabung Barat dan Jusmiarni (36) dari Kerinci menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Al-Qur’an tidak mengenal batas usia maupun kondisi fisik. Keduanya hadir memperkuat Kafilah Provinsi Jambi pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 yang berlangsung di Jawa Tengah.
Basri dan Jusmiarni melangkah percaya diri untuk tampil pada cabang Tilawah Golongan Cacat Netra. Keikutsertaan mereka di panggung nasional ini berawal dari semangat belajar yang kuat serta pembinaan rutin di daerah hingga dipercaya membawa nama Provinsi Jambi.
Perjuangan Melantunkan Ayat Suci Al-Qur’an Tanpa Batas
Bagi kedua qari dan qariah tersebut, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan untuk memenangkan kompetisi. Kalam ilahi ini telah menjadi bagian utama dari perjalanan hidup mereka dalam menimba ilmu serta mengasah potensi diri.
Keterbatasan penglihatan sama sekali tidak menyurutkan tekad Basri dan Jusmiarni untuk terus berlatih. Keduanya terus menyempurnakan alunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan ketekunan yang luar biasa.
Keberhasilan mereka menembus tingkat nasional membuktikan efektivitas pembinaan keagamaan yang berjalan secara berkelanjutan di daerah. Pemerintah daerah terus memberikan ruang dan kesempatan setara bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk para penyandang disabilitas.
Dukungan tersebut memungkinkan para peserta mengembangkan bakat seni baca Al-Qur’an hingga mampu bersaing di tingkat nasional. Langkah ini menunjukkan sinergi positif antara semangat individu dan fasilitas pembinaan yang memadai.
Pesan Penting Dari Panggung MTQ Nasional XXXI
Kehadiran Basri dan Jusmiarni pada MTQ Nasional XXXI membawa makna mendalam bagi syiar keagamaan. Ajang ini terbukti tidak hanya berfokus pada pencapaian juara, tetapi juga memperluas kesempatan belajar bagi siapa saja.
Kisah mereka menjadi gambaran nyata bahwa pembinaan Al-Qur’an dapat tumbuh subur di tengah masyarakat tanpa membeda-bedakan latar belakang. Nilai-nilai inklusivitas ini memberikan inspirasi besar bagi peserta lain maupun masyarakat luas.
Perjalanan dari Jambi menuju panggung nasional ini menyampaikan pesan sederhana namun sangat kuat kepada publik. Keterbatasan fisik bukan menjadi alasan untuk berhenti mencintai, mempelajari, dan mengamalkan isi Al-Qur’an.(ust)










Komentar