Jakarta, Dorlanhikmah.com – Santri masa kini mesti kuasai AI agar mampu menjawab tantangan zaman yang berubah sangat cepat. Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama, Prof Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir, menyampaikan pesan penting tersebut menjelang Hari Santri Nasional.
Menurut Gus Nadir, santri era sekarang menghadapi lanskap sosial dan teknologi yang jauh berbeda dari generasi terdahulu. Perkembangan pesat kecerdasan buatan menuntut kalangan pesantren bergerak lebih lincah dan adaptif.
Dahulu, para santri cukup mengandalkan hafalan kuat serta kemampuan membaca kitab kuning secara fasih. Tradisi belajar tersebut memang terbukti sukses menempa akhlak mulia dan kedalaman ilmu agama santri.
Namun, modal ilmu agama klasik saja kini belum memadai untuk merespons persoalan masyarakat yang kian rumit. Santri memerlukan bekal baru agar bisa berkiprah nyata di tingkat nasional maupun panggung global.
Kebutuhan Literasi Digital dan Pola Pikir Kritis Santri
Gus Nadir mendorong para santri agar aktif memperluas wawasan dunia serta mendalami literasi teknologi. Santri juga perlu rajin mengikuti berbagai pelatihan yang mengasah keahlian kerja praktis.
Kemampuan berpikir kritis menjadi kunci utama agar santri tidak mudah terombang-ambing oleh banjir informasi digital. Santri mesti terampil memilah kabar yang benar sekaligus memanfaatkan gawai secara produktif dan bertanggung jawab.
Penguasaan alat-alat komputasi modern membuka jalan bagi santri untuk memecahkan ragam masalah sosial di sekitarnya. Dengan begitu, peran dakwah santri dapat menjangkau ruang-ruang publik virtual dengan pesan yang menyejukkan.
Langkah ini juga membuka pintu karier yang lebih luas bagi para lulusan pesantren di berbagai sektor profesional. Santri tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif di tengah gelombang transformasi industri serba otomatis.
Kecakapan digital melengkapi ilmu fikih yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun di bilik asrama pesantren. Sinergi antara pemahaman agama dan keahlian teknis inilah yang membuat kehadiran santri tetap relevan bagi masyarakat modern.
Merawat Warisan Kitab Kuning Sambil Menyerap Ilmu Baru
Kendati mendesak modernisasi kemampuan, Gus Nadir meminta pesantren tidak membuang warisan berharga para ulama terdahulu. Pengkajian kitab-kitab kuning klasik harus tetap tegak berdiri sebagai jati diri utama kaum santri.
Prinsip dasar pesantren tetap berpegang teguh pada upaya menjaga tradisi lama yang baik sambil mengambil hal-hal baru yang lebih bermanfaat. Kaidah penting ini menjadi kompas bagi santri dalam menyaring arus modernitas yang masuk.
Pesantren dapat menyusun kurikulum terpadu yang memadukan pengajian kitab turats dengan kelas pemrograman komputer atau kecerdasan buatan. Model pembelajaran terpadu semacam ini melahirkan generasi santri yang berakhlak mulia sekaligus fasih mengoperasikan peranti lunak canggih.
Fondasi keilmuan agama yang kokoh berfungsi sebagai benteng moral ketika santri bersentuhan langsung dengan teknologi mutakhir. Di sisi lain, tambahan keterampilan terapan memberi mereka daya saing tinggi saat berbaur dengan masyarakat luas.
Melalui integrasi dua jalur ilmu tersebut, santri siap tampil memimpin perubahan zaman tanpa khawatir kehilangan akar tradisi Islam nusantara.(ust)










Komentar