Khutbah Jumat: Rahasia Shalat Pengetuk Rezeki Keluarga Muslim

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Jakarta, Dorlanhikmah.com  – Para kepala keluarga memeras keringat setiap hari demi memastikan roda ekonomi rumah tangga terus berputar lancar. Menariknya, khazanah Islam telah lama menyingkap rahasia shalat pengetuk rezeki yang kerap terlewatkan saat kesibukan duniawi mendominasi hari-hari kita. Risalah mimbar Jumat mengingatkan umat bahwa penjagaan tiang agama di rumah memegang kunci utama pembuka keberkahan hidup.

Khutbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

Pesan khutbah tersebut langsung menyentuh realitas keseharian yang dihadapi oleh jutaan keluarga di tanah air. Orang tua kerap memusingkan masa depan anak, biaya pendidikan yang melambung, hingga cicilan rumah yang belum lunas. Namun, Allah Ta’ala justru mengarahkan perhatian hamba-Nya pada urusan shalat melalui firman-Nya dalam Surah Thaha:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Mengapa Shalat dan Rezeki Terangkai Erat?

Ayat agung tersebut mempertemukan dua pilar paling mendasar dalam kehidupan keluarga: penegakan ibadah dan pemenuhan kebutuhan jasmani. Umat manusia sering kali menguras tenaga memikirkan rezeki, namun mereka abai menjaga kualitas shalat anggota keluarganya. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan agar urusan mencari nafkah tidak membuat keluarga muslim melupakan Dzat yang membagikan rezeki.

Islam tentu tidak pernah melarang seorang kepala keluarga bekerja keras mengais rupiah dari pagi hingga petang. Mencari nafkah halal tetap bernilai ibadah yang mulia dalam timbangan syariat Islam. Kendati demikian, seorang mukmin sejati pantang menaruh gantungan harapan pada relasi bisnis, jabatan kantor, maupun pelanggan pasar semata.

Ahli tafsir kenamaan, Ibnu Katsir rahimahullah, menguraikan rahasia besar di balik korelasi ayat ke-132 Surah Thaha ini. Beliau memaparkan jalan datangnya kelapangan hidup bagi siapa saja yang menegakkan ibadah shalat di lingkungan rumahnya:

يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ

“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”

Tafsir Ibnu Katsir tersebut sejalan dengan kaidah agung tentang balasan bagi orang-orang yang senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Janji kemudahan dan jalan keluar itu terpampang nyata dalam Surah Ath-Thalaq:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Keluarga yang mengutamakan panggilan Allah akan menuai pertolongan tak terduga saat menghadapi jalan buntu kehidupan. Allah membuka pintu-pintu rezeki yang melampaui perhitungan akal dan logika manusia. Menjaga hubungan vertikal dengan Sang Pencipta menjadi kunci utama meraih ketenteraman finansial yang hakiki.

Meluruskan Niat: Shalat Bukan Transaksi Menjadi Kaya

Masyarakat muslim perlu meluruskan pemahaman yang menganggap shalat sebagai ritual instan demi mempertebal saldo rekening bank. Pemikiran sederhana seperti “rajin shalat pasti langsung banyak uang” mengaburkan makna luhur dari penghambaan seorang makhluk. Ibadah shalat merupakan hak mutlak Allah atas hamba-Nya, bukan akad transaksi komersial.

Allah membagikan nikmat materiil maupun spiritual menurut keluasan hikmah dan keadilan-Nya yang Maha Sempurna. Karena itu, seorang muslim menunaikan shalat lima waktu murni sebagai wujud ketundukan tulus. Buah manis dari ketaatan tersebut datang sebagai karunia tambahan, bukan imbalan upah yang bisa dituntut.

Rezeki bernilai tinggi tidak selamanya mewujud dalam bentuk deretan angka pada buku tabungan. Ketenangan batin, sifat lapang dada menerima takdir, keharmonisan rumah tangga, serta anak-anak yang shalih merupakan rezeki mahal yang tak ternilai. Kesehatan raga dan kemudahan melangkahkan kaki menuju kebaikan juga tergolong nikmat besar yang patut disyukuri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan sebuah hadits qudsi yang sarat dengan bimbingan rohani:

يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).

Sabda Rasulullah di atas menegaskan bahwa kekayaan sejati berakar pada rasa cukup yang bersemayam di dalam dada. Manusia yang hatinya kaya tidak akan diperbudak oleh perlombaan menumpuk perhiasan duniawi. Sebaliknya, orang yang rakus akan selalu merasa serba kekurangan meskipun menggenggam harta berlimpah ruah.

Orang tua wajib menanamkan nilai-nilai mulia ini ke dalam alam pikiran anak sejak dini. Jangan sampai anak tumbuh dewasa dengan keyakinan keliru bahwa kesuksesan hidup hanya terukur lewat kemewahan materi. Kedekatan dengan Sang Khalik merupakan standar keberhasilan paling tinggi dalam kehidupan seorang hamba.

Menjadikan Shalat sebagai Tempat Berteduh saat Sulit

Himpitan ekonomi dan persoalan finansial kerap datang silih berganti menguji ketahanan sebuah rumah tangga. Generasi terdahulu yang shalih memberikan teladan nyata tentang cara terbaik menghadapi masa-masa sempit. Mereka tidak mengumbar keluhan kepada sesama manusia, melainkan langsung bergegas merapatkan barisan di atas sajadah.

Baca Juga :  Khotbah Jumat: Rahasia Hikmah Musibah dan Tobat

Imam Az-Zamakhsyari rahimahullah meriwayatkan sikap luar biasa dari seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Tatkala keluarganya terlilit kesempitan hidup, ia segera mengajak mereka bangkit dan mendirikan shalat:

قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ

“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”

Tokoh tabi’in tersebut kemudian melantunkan firman Allah dalam QS. Thaha ayat 132 untuk menenangkan hati keluarganya. Pola asuh ini melatih mental keluarga agar senantiasa bersandar kepada Allah ketika badai masalah menerpa. Beliau memutus rantai kepanikan dengan menghadirkan ketenangan lewat ibadah sujud.

Sikap mengutamakan shalat tentu tidak berarti meniadakan ikhtiar nyata di alam dunia. Seseorang yang kehilangan mata pencaharian tetap wajib berusaha mengirimkan lamaran pekerjaan baru ke berbagai tempat. Demikian pula kepala keluarga yang memiliki beban utang tetap harus mengatur strategi keuangan secara rasional.

Kendati demikian, seorang mukmin menenangkan hatinya terlebih dahulu melalui shalat sebelum melangkah mengambil keputusan penting. Hati yang tenang menuntun akal berpikir jernih sehingga terhindar dari perbuatan putus asa. Menyerahkan urusan kepada Allah menjadi modal utama untuk memecahkan segala kebuntuan hidup.

Langkah ini menyalin kebiasaan agung junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu merekam respons spontan Rasulullah ketika badai persoalan berat datang menghadang:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).

Keteladanan nabi ini menjadi benteng pertahanan paling kokoh bagi setiap keluarga muslim yang sedang tertimpa cobaan hidup. Ketika masalah datang menerjang, orang tua semestinya mengajak anak berwudhu, shalat, dan memanjatkan doa bersama. Pendidikan batin seperti ini membentuk mental anak menjadi pribadi yang tangguh dan pantang menyerah.

Membentengi Keluarga dari Gemerlap Pamer Duniawi

Kehidupan modern menyuguhkan pemandangan kemewahan orang lain secara telanjang lewat gawai dan media sosial. Anak-anak masa kini menyaksikan rumah megah, liburan mahal, dan pakaian mewah milik orang lain setiap detik. Tanpa bekal iman yang memadai, fenomena pamer gaya hidup ini rentan memicu penyakit hati dan kecemburuan sosial.

Ulama tabi’in terkemuka, ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah, menunjukkan metode jitu dalam membentengi keluarga dari silau kemewahan duniawi. Imam Ath-Tabari meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa setiap kali melihat kemegahan para penguasa, beliau segera pulang ke rumah dan melantunkan ayat Al-Qur’an secara utuh:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Beliau melanjutkan bacaan tersebut hingga tuntas pada ayat berikutnya yang memuat perintah shalat dan penegasan rezeki dari Allah:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Setelah membaca rangkaian firman Allah tersebut, ‘Urwah langsung menyeru segenap anak istrinya dengan seruan penuh kasih sayang:

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ

“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”

Metode pendidikan ‘Urwah bin Az-Zubair ini membuktikan relevansi luar biasa dalam konteks kehidupan keluarga modern. Orang tua perlu menyadarkan anak-anak bahwa kehidupan bukanlah ajang perlombaan memamerkan barang-barang mewah. Terus-menerus menatap nikmat milik orang lain hanya akan merusak kebahagiaan dan mengikis rasa syukur atas rezeki sendiri.

Menanamkan sifat qana‘ah menghindarkan keluarga dari jeratan gaya hidup konsumtif yang membebani keuangan rumah tangga. Anak-anak yang memiliki kepuasan batin akan tumbuh mandiri tanpa terbebani oleh rasa gengsi pergaulan. Mereka memandang kenikmatan akhirat jauh lebih bernilai daripada gemerlap dunia yang fana.

Menegakkan Keteladanan Nyata Sebelum Mengeluarkan Perintah

Instruksi dan ceramah lisan sering kali kehilangan taringnya jika tidak diiringi teladan perbuatan nyata dari orang tua. Anak-anak merupakan pengamat yang teliti terhadap tingkah laku ayah dan ibu mereka di dalam rumah. Karena itu, keteladanan menjadi instrumen pendidikan moral paling ampuh yang tidak bisa ditawar lagi.

Sahabat agung ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mempraktikkan pola pengasuhan berbasis teladan ini secara paripurna. Beliau menghabiskan malam dengan mendirikan shalat sunnah hingga menjelang waktu fajar tiba. Setelah menunaikan shalatnya sendiri, barulah khalifah kedua ini membangunkan seluruh anggota keluarganya:

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ

“Shalat, shalat.”

Beliau kemudian membacakan ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kesabaran dalam menegakkan shalat keluarga:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”

Jejak keteladanan emas ini tercatat rapi oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu‘ab Al-Iman (Juz 4, Halaman 466, Nomor 2822). Riwayat tersebut tersambung melalui rantai sanad tepercaya: Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya Aslam, dari ‘Umar bin Al-Khaththab.

Riwayat tersebut menyimpan kaidah pengasuhan anak yang sangat mendasar bagi setiap kepala keluarga muslim. Khalifah ‘Umar mengerjakan ibadah shalat terlebih dahulu sebelum mengajak dan membangunkan orang lain. Tindakan mendahului perintah ini mengikis kesan menggurui sekaligus menguatkan wibawa seorang pemimpin keluarga.

Baca Juga :  Khutbah Jumat: Penyebab Utama Musibah Datang dari Dosa dan Maksiat Diri

Sangat mustahil menuntut anak bersegera melangkahkan kaki ke sajadah jika orang tua sendiri kerap menunda waktu shalat fardhu. Ajakan meninggalkan gawai pun akan diabaikan anak apabila ayah dan ibu masih asyik terpaku pada layar ponsel saat azan berkumandang. Perbuatan nyata orang tua selalu berbicara jauh lebih lantang daripada seribu nasihat lisan.

Menanamkan Kebiasaan Shalat Sejak Usia Kanak-Kanak

Pembentukan kebiasaan shalat pada anak memerlukan proses pembinaan yang sabar, bertahap, dan tidak bisa berlangsung instan. Anak-anak tidak serta-merta menjadi pribadi yang disiplin beribadah saat memasuki masa baligh tanpa latihan berulang. Orang tua wajib mendampingi proses adaptasi ibadah anak sejak usia dini dengan penuh kehangatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan dasar metodologi pembiasaan ibadah anak melalui hadits beliau yang sangat populer:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya memerintahkan tindakan yang lebih tegas manakala anak telah menginjak usia sepuluh tahun namun masih mengabaikan kewajiban shalat. Hadits ini termaktub dalam kitab Sunan Abu Dawud nomor 495 dan mendapat predikat hasan shahih dari Syaikh Al-Albani.

Rentang usia tujuh hingga sepuluh tahun memberikan jeda waktu tiga tahun penuh bagi orang tua untuk mengasah kedisiplinan ibadah anak. Dalam kurun waktu tersebut, tersaji lebih dari lima ribu waktu shalat fardhu untuk mengenalkan, membimbing, dan mengevaluasi ibadah buah hati. Pengalaman beribadah yang menyenangkan di masa kecil akan menancapkan akar ketaatan yang kokoh hingga mereka dewasa.

Langkah Konkret Membiasakan Ibadah Shalat di Rumah

Para orang tua muslim dapat menerapkan lima langkah pembiasaan sederhana berikut guna menciptakan iklim rumah tangga yang islami:

  1. Dahulukan shalat begitu panggilan azan berkumandang. Langkah ini menanamkan pengertian kepada anak bahwa panggilan Allah selalu menempati prioritas tertinggi di atas kesibukan harian.

  2. Ajak keluarga kembali kepada Allah saat masalah menerpa. Bimbing anak berwudhu, mendirikan shalat, lalu berdoa bersama tanpa mengabaikan upaya nyata untuk mencari jalan keluar.

  3. Biasakan mengucap syukur tatkala memperoleh rezeki. Tanamkan di benak anak bahwa rezeki yang mereka nikmati bersumber dari kemurahan Allah, bukan semata kepintaran orang tua bekerja.

  4. Tanamkan sifat qana‘ah saat anak melihat kemewahan orang lain. Jelaskan bahwa tidak semua kepemilikan orang lain harus kita miliki, dan kebahagiaan hakiki tidak diukur dari tumpukan barang mewah.

  5. Tampilkan keteladanan sebelum melontarkan perintah. Anak yang terbiasa menyaksikan kedua orang tuanya tertib menjaga shalat akan menyerap pelajaran moral berharga yang tak terbayar oleh ceramah panjang.

Menyiapkan masa depan generasi muda tidak cukup hanya dengan membekali mereka keterampilan mencari uang di masa depan. Menanamkan kecintaan kepada Sang Pemberi Rezeki memegang peranan yang jauh lebih penting bagi keselamatan hidup mereka. Keseimbangan antara ikhtiar duniawi dan ketaatan ibadah akan mengantarkan keluarga meraih kebahagiaan abadi.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.

Do’a:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.

رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.

اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Berita Terkait

Makna Jihad Santri Era Modern: Dari Perang Fisik ke Intelektual
Khutbah Jumat Cinta Tanah Air: Napas Perjuangan Santri Mengawal Negeri
Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan
Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai
Khutbah Jumat: Ajakan Solidaritas Warga Hadapi Karhutla
Khutbah Jumat Hari Santri: Meneguhkan Jihad Ilmu dan Bangsa
Khutbah Jumat: Merawat Tiga Warisan Ulama
Khutbah Jumat: Filosofi Santri Masa Kini dan Resolusi Jihad
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Makna Jihad Santri Era Modern: Dari Perang Fisik ke Intelektual

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:55 WIB

Khutbah Jumat Cinta Tanah Air: Napas Perjuangan Santri Mengawal Negeri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:38 WIB

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:08 WIB

Khutbah Jumat: Ajakan Solidaritas Warga Hadapi Karhutla

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:38 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:33 WIB

Pusat Studi Al-Qur'an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan.(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Nilai Pesantren Jadi Kompas Hadapi Era AI

Kamis, 22 Okt 2026 - 14:57 WIB