Jakarta, dorlanhikmah.com – Ratusan jemaah menghadiri kajian bedah buku Syaikh Albani bertajuk “Syaikh Albani di Antara Muhaddits dan Bahitsul Hadits” di Masjid Al-Furqan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan akademis ini menghadirkan Ustaz Adi Hidayat (UAH), Gus Ajir Ubaidillah, Gus Wafi, Ustaz Muhammad Nuruddin, serta Ustaz Faris Baswedan.
Para narasumber mengajak umat memahami kapasitas keilmuan seorang tokoh secara objektif tanpa terjebak kultus individu. Selain itu, forum menyoroti fenomena potongan video dakwah di media sosial yang kerap memicu perdebatan dangkal tanpa rujukan utuh.
UAH membedah isi buku yang tersusun sistematis mulai dari pengantar, pendahuluan, tujuh bab utama, hingga bagian penutup. Penulis mengawali bahasan lewat pemaparan ilmu hadis dan istilah teknis seperti muhaddits, musnid, hafiz, dan bahitsul hadis.
Menurut UAH, setiap bab saling mengikat dan mengantarkan pembaca menuju pemahaman profil serta metodologi Syaikh Al-Albani. Karena itu, masyarakat wajib menuntaskan pembacaan referensi sebelum melontarkan penilaian terhadap pemikiran seorang ulama.
UAH menaruh perhatian khusus pada lembar wasiat menjelang wafatnya Syaikh Al-Albani pada halaman 193 sampai 195. Sang tokoh menitipkan pesan penting bagi para pendakwah dan penuntut ilmu agar tidak saling merendahkan saat berdakwah.
UAH mengingatkan bahwa penyampai risalah memikul beban dakwah sekaligus risiko menuai cercaan dari publik. Oleh sebab itu, jemaah yang mengaku mencintai Syaikh Al-Albani semestinya tidak melanggar pesan damai tertulis tersebut.
Penetapan Gelar Keilmuan Hadis Menuntut Proses Belajar Bersanad
Ustaz Muhammad Nuruddin menguraikan batasan tegas penggunaan gelar muhaddits dan sebutan bahitsul hadis bagi pengkaji riwayat. Ia mengutip kritik akademis pakar hadis abad ke-20, Syaikh Abdullah bin Shiddiq Al-Ghumari, terkait kapasitas ilmiah sang ulama.
Nuruddin menjelaskan bahwa sebutan bahitsul hadis merupakan bentuk penghormatan ilmiah yang sangat sopan bagi seorang peneliti naskah. Dengan demikian, penilaian berbasis kaidah akademik tidak boleh diartikan sebagai tindakan mencaci atau merendahkan martabat sesama muslim.
Nuruddin menegaskan bahwa membaca tumpukan kitab secara mandiri tidak otomatis mengangkat derajat seseorang menjadi pakar fikih maupun teolog. Gelar otoritatif dalam keilmuan Islam memerlukan proses talaqqi langsung di bawah bimbingan guru yang memiliki sanad bersambung.
Syaikh Al-Albani mengakui secara terbuka di dalam karyanya bahwa dirinya menempuh jalur belajar mandiri tanpa guru tetap. Oleh karena itu, penyematan status pengkaji atau peneliti hadis mencerminkan fakta historis tanpa mengurangi rasa hormat masyarakat.
Seruan Mengikis Fanatisme Buta Demi Menjaga Ukhuwah Islamiyah
Gus Ajir Ubaidillah mengajak umat Islam terus mengikis fanatisme buta meskipun menjumpai perbedaan sudut pandang keagamaan. Ia menilai forum ilmiah ini menjadi sarana strategis dalam mendidik publik agar senantiasa merawat persaudaraan sesama muslim.
Gus Ajir membacakan matan hadis Nabi Muhammad SAW secara lengkap mengenai larangan fanatisme kelompok:
ليسَ منَّا مَنْ دعا إلى عصَبِيَّةٍ وليس مِنَّا مَنْ قاتَلَ علَى عصَبِيَّةٍ وليس مِنَّا مَنْ ماتَ علَى عصَبِيَّةٍ
Hadis tersebut menegaskan penolakan Rasulullah SAW terhadap orang yang mengajak, berperang, maupun mati membela fanatisme buta. Peringatan tegas ini mengingatkan umat agar tidak membiarkan fanatisme golongan merusak jalinan ukhuwah serta ketulusan dakwah Islam.
Forum di UPI Bandung ini berhasil mengalihkan perdebatan label keagamaan menuju telaah metodologis yang berbobot dan bermartabat. Peserta mendapatkan gambaran komprehensif mengenai perbedaan mendasar antara penghormatan ulama, penilaian kapasitas akademik, dan kultus individu.
Panitia membagikan sekitar 3.000 paket buku wakaf secara cuma-cuma kepada peserta yang hadir di lokasi acara. Pihak penyelenggara menargetkan total pencetakan karya ilmiah tersebut mencapai 7.000 eksemplar tanpa memperjualbelikannya ke pasar umum.(ust)







Komentar