Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 20 September 2026 - 16:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Iluistrasi Abdullah bin Abi Umayyah.(poto: istimewa).

Iluistrasi Abdullah bin Abi Umayyah.(poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Perjalanan hidup manusia senantiasa menyimpan rahasia besar yang berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah SWT. Banyak orang menyaksikan bagaimana kisah Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu menjadi cermin nyata tentang takdir dan hidayah. Sosok yang dahulu sangat keras menentang dakwah Rasulullah ﷺ ini justru menutup lembaran hidupnya sebagai seorang syahid di medan perang.

Kisah penentangan dan perubahan besar ini memberikan pelajaran mendalam bagi seluruh umat Islam. Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya sesuai kehendak-Nya, tanpa ada seorang pun yang mampu menahannya. Masa lalu yang penuh pertentangan ternyata bisa berubah menjadi jalan kemuliaan yang sangat indah.

Perubahan tersebut membuktikan bahwa pintu taubat selalu terbuka lebar bagi siapa saja. Pengalaman hidup sahabat Nabi ini mengajarkan kita untuk tidak pernah memvonis akhir kehidupan seseorang secara sepihak.

Profil dan Silsilah Keluarga Abdullah bin Abi Umayyah

Nama lengkap beliau adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi. Ia memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ dari jalur keluarga. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, yang merupakan salah seorang bibi dari Nabi Muhammad ﷺ.

Selain hubungan darah tersebut, ia juga menjadi saudara kandung dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Sebagaimana publik ketahui, Ummu Salamah merupakan salah satu istri Rasulullah ﷺ. Walaupun memiliki kekerabatan yang begitu dekat, hal itu tidak lantas membuatnya mudah menerima risalah Islam pada masa awal dakwah.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mencatat rekam jejaknya dalam kitab sejarah dengan nada yang cukup tegas:

وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا

Sikap permusuhan yang ia tunjukkan bukan sekadar penolakan pasif terhadap ajaran baru. Ia secara aktif menentang, membenci, dan bersikap sangat keras kepada kaum muslimin di Makkah.

Tuntutan Mukjizat dan Penolakan Dakwah Rasulullah

Para ulama sirah mengaitkan nama Abdullah bin Abi Umayyah dengan berbagai tuntutan mustahil kepada Nabi ﷺ. Ia sering meminta hal-hal di luar nalar sebagai alasan untuk menolak kebenaran Islam. Sikap skeptis dan penolakannya yang keras terekam jelas dalam catatan sejarah Islam.

Para ahli tafsir mengaitkan ucapannya dengan firman Allah dalam Surah Al-Isra’:

وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا

Tuntutan tersebut tidak berhenti pada permintaan memancarkan mata air dari bumi Makkah. Ia juga menuntut agar Nabi Muhammad ﷺ naik ke langit dan membawa pulang sebuah kitab yang dapat mereka baca bersama.

Imam Adz-Dzahabi menegaskan bahwa Abdullah bin Abi Umayyah memang menyuarakan tuntutan-tuntutan keras tersebut. Kendati demikian, perjalanan hidupnya tidak berakhir dalam lingkaran kekufuran. Allah telah menyiapkan takdir yang jauh berbeda untuk masa depannya.

Menghalangi Abu Thalib Memeluk Kalimat Tauhid

Salah satu peristiwa paling krusial dalam sejarah penentangannya terjadi saat paman Nabi, Abu Thalib, berada di sakaratul maut. Rasulullah ﷺ mendatangi sang paman dan berusaha keras menuntunnya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau menawarkan kebaikan tersebut dengan penuh kasih sayang:

يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Namun, Abdullah bin Abi Umayyah berdiri di samping Abu Jahal untuk memprovokasi Abu Thalib. Keduanya terus-menerus menekan sang paman agar tidak meninggalkan tradisi nenek moyang mereka. Keduanya mengajukan pertanyaan yang menohok perasaan Abu Thalib:

يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟

Rasulullah ﷺ tidak berhenti menawarkan kalimat tauhid tersebut berulang kali. Namun, dua tokoh musyrikin itu terus mengintimidasi hingga Abu Thalib menghembuskan napas terakhirnya di atas agama Abdul Muththalib. Peristiwa tragis ini diriwayatkan secara shahih oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Baca Juga :  Cara Salaf Membuktikan Keberadaan Tuhan, Panduan Berdialog dengan Ateis Menurut Al-Qur’an( Bag.1 )

Peristiwa runtuhnya harapan tersebut menjadi sebab turunnya firman Allah SWT dalam Surah Al-Qashash:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتEDِينَ

Ayat ini menyingkap rahasia besar bahwa taufik hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah. Sungguh menarik melihat bagaimana takdir berputar beberapa tahun setelah peristiwa tersebut. Orang yang dahulu gigih menghalangi Abu Thalib masuk Islam justru memeluk agama Islam dengan tulus.

Detik-Detik Datangnya Hidayah Menjelang Fathu Makkah

Waktu terus berjalan hingga memasuki tahun ke-8 Hijriah saat pasukan muslimin bergerak menuju Makkah. Peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai Fathu Makkah ini menjadi titik balik besar bagi kehidupan Abdullah bin Abi Umayyah. Ia melangkah keluar dari Makkah untuk menemui Rasulullah ﷺ di perjalanan.

Ia berjalan bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menuju suatu tempat bernama Tsaniyyatul ‘Uqab. Keduanya berniat menemui Nabi ﷺ dan menyampaikan keinginan kuat untuk memeluk Islam. Namun, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima kedatangan dua orang tersebut.

Beliau masih mengingat dengan jelas jejak permusuhan dan kalimat-kalimat kasar yang pernah mereka lontarkan di Makkah. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha kemudian tampil membela dan memohonkan maaf untuk mereka. Ia mengingatkan Nabi ﷺ tentang tali kekerabatan yang menyatukan mereka.

Rasulullah ﷺ akhirnya melunakkan hati beliau dan menerima pernyataan iman dari keduanya. Ibnu Ishaq meriwayatkan kisah ini secara panjang lebar, yang kemudian dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA. Keislaman Abdullah terjadi secara resmi sesaat sebelum pasukan muslimin memasuki kota Makkah.

Para ulama memberikan catatan khusus mengenai momentum penting ini. Sebagian kitab menyebut ia masuk Islam pada hari Fathu Makkah, namun rincian sirah menegaskan pertemuan itu terjadi di tengah jalan sebelum beliau sampai Makkah. Situs Islamweb turut menegaskan kualitas keislamannya:

ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ

Bukti Nyata Keimanan dan Perjuangan di Medan Perang

Para ulama sejarah tidak hanya mencatat perpindahan keyakinan Abdullah bin Abi Umayyah. Mereka memberikan persaksian khusus dengan kalimat:

وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ

Kualitas keislamannya terpancar dari semangatnya membela agama yang dahulu ia musuhi. Ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berdiam diri di rumah. Ia langsung bergabung dalam barisan terdepan perjuangan kaum muslimin.

Ia mendampingi Rasulullah ﷺ dalam berbagai peristiwa krusial pasca-Fathu Makkah. Ia bertempur dalam Perang Hunain dan ikut serta dalam pengepungan kota Thaif. Kehadirannya di medan perang membuktikan kejujuran taubat yang telah ia ucapkan.

Perubahan perilaku ini menunjukkan transformasi jiwa yang sangat luar biasa. Seseorang yang dahulu berdiri paling depan menghalangi dakwah kini menyerahkan seluruh jiwa dan raganya demi menegakkan kalimat Allah.

Transformasi Total dari Penentang Menjadi Pejuang

Perjalanan hidup sahabat ini menghadirkan kontras yang sangat tajam bagi siapa saja yang merenungkannya. Dahulu ia berdiri mendampingi Abu Jahal untuk menghalangi Abu Thalib mengucapkan kalimat syahadat. Beberapa tahun kemudian, ia berjalan di samping Nabi ﷺ sebagai pembela Islam yang setia.

Dahulu ia menuntut berbagai mukjizat yang mustahil hanya untuk memperolok dakwah Nabi. Namun, pada akhirnya ia sendiri yang berjalan mencari Rasulullah ﷺ demi menyatakan keimanannya. Dahulu ia bersikap sangat kejam kepada umat Islam, lalu berubah menjadi pelindung bagi saudara seimannya.

Fenomena ini menegaskan bahwa hati seluruh manusia berada dalam genggaman Sang Maha Pencipta. Rasulullah ﷺ pernah bersabda mengenai hakikat hati manusia:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

Baca Juga :  Mengenal Asy-Syifa binti Abdullah: Tokoh Literasi dan Pelopor Perempuan Islam

Hadits shahih riwayat Imam Muslim nomor 2654 ini menjadi pengingat bagi seluruh kaum muslimin. Manusia tidak boleh berputus asa melihat kondisi saudaranya yang masih jauh dari kebaikan. Allah mampu mengubah keadaan seseorang hanya dalam sekejap mata.

Gugur Menyambut Syahid dalam Peristiwa Pengepungan Thaif

Setelah menyelesaikan urusan di Makkah dan Hunain, pasukan muslimin melanjutkan perjalanan menuju Thaif. Abdullah bin Abi Umayyah tetap setia berada dalam barisan pasukan Rasulullah ﷺ. Pengepungan benteng Thaif menjadi medan pembuktian terakhir bagi keimanannya.

Sebuah anak panah yang dilepaskan musuh mengenai tubuhnya di tengah pertempuran yang sengit. Luka parah akibat tancapan anak panah tersebut akhirnya membawa dirinya menuju kematian. Ibnu Hisyam mencatat namanya dengan tinta emas di antara para sahabat yang gugur dalam peristiwa Thaif.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menuliskan catatan sejarah mengenai akhir hayatnya:

وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ

Perubahan jalan hidup ini berlangsung dalam rentang waktu yang sangat singkat. Pada awal tahun 8 Hijriah, ia masih memikul dosa permusuhan yang sangat panjang terhadap Islam. Namun, menjelang Fathu Makkah, Allah membuka pintu hatinya hingga ia gugur sebagai syahid tidak lama setelahnya.

Pelajaran Berharga dari Perjalanan Hidup Abdullah bin Abi Umayyah

Kisah perjuangan dan perubahan hidup sahabat ini menyimpan banyak pelajaran penting bagi kehidupan kita. Pertama, hidayah merupakan hak prerogatif Allah yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun. Orang yang paling keras menentang kebenaran bisa berubah menjadi pembela terdepan jika Allah telah menghendakinya.

Kedua, kita tidak boleh berputus asa dari kebaikan keluarga atau sahabat yang saat ini masih jauh dari agama. Umat Islam harus terus mendoakan dan mengajak mereka menuju kebaikan dengan cara yang bijak. Doa yang dipanjatkan secara tulus mampu menembus batasan yang terlihat mustahil bagi manusia.

Ketiga, masa lalu yang buruk tidak pernah menutup peluang seseorang untuk meraih akhir kehidupan yang husnul khatimah. Pintu taubat selalu terbuka lebar selama napas belum sampai di kerongkongan. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki diri dan menata masa depannya.

Keempat, taubat yang sejati wajib dibuktikan melalui tindakan dan amal saleh yang nyata. Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan kata taubat di hadapan Nabi ﷺ. Ia membuktikannya dengan mengorbankan harta dan nyawanya di medan pertempuran.

Kelima, kita tidak boleh merasa sombong atau aman dengan kondisi keimanan yang kita miliki hari ini. Seseorang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah agar bisa bertahan hingga akhir hayat. Sebaliknya, orang yang hari ini bergelimang dosa bisa saja mendapatkan hidayah dan mendahului kita dalam kebaikan.

Jangan Pernah Memvonis Akhir Kehidupan Seseorang

Masyarakat sering kali terjebak dalam penilaian dangkal dengan hanya melihat satu potongan masa lalu seseorang. Kita kerap menganggap seseorang tidak mungkin berubah hanya karena melihat jejak rekamnya yang kelam. Kisah luar biasa ini membuktikan bahwa penilaian manusia sering kali keliru.

Selama seseorang masih bernapas, pintu hidayah dan ampunan Allah tidak akan pernah tertutup. Oleh karena itu, kita harus terus memohon keteguhan iman untuk diri sendiri dan selalu mendoakan kebaikan bagi orang lain. Rasulullah ﷺ sendiri sangat sering memanjatkan doa memohon keteguhan hati:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Doa ini menjadi pegangan hidup agar kita selalu rested dalam naungan hidayah-Nya. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita, memberikan keteguhan iman, dan menganugerahkan akhir kehidupan yang husnul khatimah.(ust)

Berita Terkait

Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Sejarah Panjang Penurunan Kitab Suci Al-Qur’an
Sejarah Al Quran dan Perannya Sebagai Pedoman Hidup Umat Humanis
Mengenal Sistem Iqtha Dinasti Ayyubiyah Masa Salahuddin
Sejarah Shalawat Badar dan Maknanya
Sejarah Perang Badar Kubra dan Strategi Pertahanan Rasulullah
Pemakaman Nabi Muhammad SAW di Kamar Aisyah
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 16:05 WIB

Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah

Minggu, 13 September 2026 - 09:18 WIB

Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara

Minggu, 13 September 2026 - 09:13 WIB

Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan

Sabtu, 12 September 2026 - 19:51 WIB

Sejarah Panjang Penurunan Kitab Suci Al-Qur’an

Sabtu, 12 September 2026 - 19:40 WIB

Sejarah Al Quran dan Perannya Sebagai Pedoman Hidup Umat Humanis

Berita Terbaru

Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama resmi menggelar peluncuran e-SMART KOMITE Kemenag di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Kemenag Luncurkan e-SMART KOMITE untuk Madrasah

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:29 WIB

Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan logo Hari Santri 2026 beserta rangkaian agenda nasional di Jakarta.(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Resmi Meluncurkan Logo Hari Santri 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 07:42 WIB

Sunnah mengangkat tangan saat Shalat di 4 tempat.(ilustrasi poto: AI)

Fiqih

4 Posisi Mengangkat Tangan Dalam Shalat Sesuai Sunnah

Senin, 21 Sep 2026 - 17:14 WIB

Saat mau sujud, tangan dulu atau lutut dulu.simak penjelasannya.(poto: ilustrasi: istimewa).

Fiqih

Lutut atau Tangan Dulu Saat Sujud? Ini Penjelasan Fiqih

Senin, 21 Sep 2026 - 17:05 WIB