Kemuliaan Sejati Menurut Islam Bukan Ditentukan Jabatan

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kemuliaan sejati lahir dari ketakwaan dan kerendahan hati, bukan sekadar harta, jabatan, atau profesi duniawi.(poto: AI).

Ilustrasi kemuliaan sejati lahir dari ketakwaan dan kerendahan hati, bukan sekadar harta, jabatan, atau profesi duniawi.(poto: AI).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Masyarakat modern kerap menjadikan harta, jabatan, serta gelar akademik sebagai ukuran kemuliaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, ukuran kemuliaan menurut Islam justru terpancar dari kerendahan hati, ketakwaan, dan cara seseorang menghormati sesama manusia.

Orang yang konsisten memelihara sikap tawaduk senantiasa meninggalkan jejak kebaikan mendalam bagi sesamanya. Nama baik mereka akan terus membekas indah di sanubari masyarakat meski masa jabatan dan kedudukan duniawi telah lama berlalu.

Menakar Ukuran Kemuliaan Hakiki

Banyak orang mengagumi sesamanya hanya karena silau oleh kilau harta, tingginya jabatan, atau tingginya tingkat kecerdasan. Padahal, ajaran Islam menegaskan bahwa seluruh pencapaian duniawi tersebut bukanlah tolok ukur utama kemuliaan seorang hamba.

Jabatan sekadar amanah sementara, kekayaan hanyalah titipan, dan ilmu merupakan tanggung jawab moral yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Kelebihan duniawi tersebut baru mendatangkan kebaikan jika diiringi kerendahan hati, namun berisiko menjerumuskan pemiliknya apabila memicu kesombongan.

Allah Swt. menegaskan kesetaraan derajat manusia serta tolok ukur kemuliaan yang hakiki dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat suci tersebut menutup rapat celah bagi siapa pun untuk merasa lebih unggul daripada sesama ciptaan Tuhan. Keberagaman profesi, warna kulit, suku, hingga tingkat pendidikan hanyalah sunnatullah yang memperkaya dinamika kehidupan sosial manusia.

Meneladani Sikap Tawaduk Rasulullah ﷺ

Nabi Muhammad ﷺ memberikan keteladanan paling sempurna dalam mempraktikkan kerendahan hati sepanjang hayatnya. Meskipun memegang posisi sebagai pemimpin negara, panglima perang, dan Nabi pilihan, beliau tetap memperlakukan semua orang dengan penuh penghormatan.

Baca Juga :  Kemerdekaan Tanpa Diskriminasi Menurut Al-Hujurat Ayat 13

Rasulullah ﷺ tidak segan menyapa anak-anak, merampungkan pekerjaan rumah tangga, serta duduk bersama masyarakat miskin. Beliau bahkan selalu memenuhi undangan hamba sahaya tanpa pernah memandang rendah kedudukan sosial siapa pun.

Terkait pentingnya kerendahan hati, beliau menyampaikan pesan mendalam melalui sabdanya:

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang berbangga diri terhadap orang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.” (HR. Muslim).

Hadis tersebut menegaskan bahwa tawaduk bukan sekadar etika kesopanan, melainkan perintah langsung dari Allah Swt. Seseorang yang tawaduk senantiasa menyadari bahwa seluruh kelebihan berasal dari Sang Pencipta dan bisa lenyap sewaktu-waktu.

Akhlak Mulia Menciptakan Penghormatan Tulus

Banyak orang menghabiskan energi demi mengejar penghormatan, padahal penghormatan sejati mengalir secara alami dari kebaikan akhlak. Masyarakat mungkin melupakan deretan prestasi teknis seseorang, tetapi mereka selalu mengingat kehangatan sikap yang pernah dirasakan.

Senyuman tulus, sapaan hangat, serta kebiasaan menghargai pendapat orang lain meninggalkan kesan positif yang sangat mendalam. Kesediaan membantu sesama tanpa membedakan status sosial memancarkan keindahan karakter yang sulit tergantikan oleh materi.

Sebaliknya, Islam memberikan peringatan keras terhadap bahaya sifat sombong yang bersembunyi di dalam dada. Rasulullah ﷺ mengingatkan ancaman tersebut melalui sabda beliau:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar zarah.” (HR. Muslim).

Baca Juga :  Alasan Mengapa Manusia Membutuhkan Kitab Allah SWT

Ketika para sahabat menanyakan perihal pakaian indah, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah menyukai keindahan. Beliau menegaskan bahwa hakikat kesombongan terletak pada tindakan menolak kebenaran dan meremehkan sesama manusia.

Karakter Utama Hamba Yang Maha Pengasih

Al-Qur’an secara khusus merincikan ciri-ciri pribadi yang mendapat kasih sayang Allah dalam kehidupan sehari-hari:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63).

Ayat ini memperlihatkan bahwa kerendahan hati tecermin langsung lewat ketenangan sikap, kontrol emosi, dan tutur kata. Pribadi tawaduk lebih memilih memelihara kehormatan diri dengan akhlak terpuji daripada membalas keburukan dengan tindakan serupa.

Nilai Kemuliaan dalam Berbagai Profesi

Setiap bidang pekerjaan menyimpan nilai kemuliaan tinggi selama pelakunya mengusung niat ibadah dan kejujuran. Petani yang jujur memegang nilai lebih mulia daripada pejabat yang mempraktikkan kezaliman dalam menjalankan tugasnya.

Guru yang ikhlas membimbing muridnya menempati derajat lebih tinggi ketimbang pengusaha sukses yang bersikap sombong. Begitu pula petugas kebersihan yang amanah meraih cinta Allah melebihi orang kaya yang gemar merendahkan orang lain.

Sikap tawaduk sekaligus menjadi kunci utama yang membuka lebar pintu persaudaraan serta kepercayaan antarsesama. Sebaliknya, kesombongan senantiasa memicu jarak sosial, menciptakan kebencian, dan merusak keharmonisan hubungan yang telah terbangun.

Umat Islam sepatutnya menjadikan tawaduk sebagai hiasan utama dalam mengarungi dinamika kehidupan modern saat ini. Pemanfaatan ilmu, jabatan, dan rezeki secara bijak untuk melayani sesama akan mendatangkan kemuliaan sejati di dunia maupun akhirat.(ust)

Berita Terkait

Membedah Standar Kebenaran Tafsir Alquran Lewat Timbangan Filsafat
Rahasia Balaghah Al-Qur’an: Mengapa Perintah Disampaikan Lewat Kalimat Berita?
Hukum Tajwid dan Seni Baca Al-Qur’an: Mana Lebih Utama?
Mengapa Surat Yasin Disebut Jantung Alquran?
Alasan Mengapa Manusia Membutuhkan Kitab Allah SWT
Rahasia Surat Al-Falaq: Kisah Ujian Sihir Rasulullah SAW
Tiga Makna Iqra dalam Pendidikan Karakter di Pesantren
Peran Manusia sebagai Khalifah Menjaga Ekosistem Laut
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:43 WIB

Membedah Standar Kebenaran Tafsir Alquran Lewat Timbangan Filsafat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Rahasia Balaghah Al-Qur’an: Mengapa Perintah Disampaikan Lewat Kalimat Berita?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Hukum Tajwid dan Seni Baca Al-Qur’an: Mana Lebih Utama?

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Mengapa Surat Yasin Disebut Jantung Alquran?

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Alasan Mengapa Manusia Membutuhkan Kitab Allah SWT

Berita Terbaru

Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi mengawal langsung survei kerukunan umat beragama di Kabupaten Batang Hari.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Jambi Awasi Survei Kerukunan di Batang Hari

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:56 WIB

Kegiatan gelar wicara bertajuk “Akses Rumah Pertama bagi Pekerja Muda” dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(poto: republika).

Berita Islam

Bank BSN Rilis KPR Tenor 40 Tahun untuk Pekerja Muda

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:39 WIB

Gus Nadir.(poto: istimewa).

Pendidikan

Santri Masa Kini Mesti Kuasai AI dan Keterampilan Digital

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:32 WIB

Ponpes THOHIR YASIN Lendang Nangka-Masbagik-Lombok Timur(poto: istimewa).

Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:17 WIB

Isim Isyarah.

Bahasa Arab

Panduan Lengkap Isim Isyarah: Jenis dan Contoh Kalimat

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:56 WIB