Nabi Yusya’ bin Nun: Penakluk Baitul Maqdis

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 22 Juni 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Nabi Yusya’ bin Nun penerus Nabi Musa AS, penakluk Baitul Maqdis.( poto : istimewa )

Kisah Nabi Yusya’ bin Nun penerus Nabi Musa AS, penakluk Baitul Maqdis.( poto : istimewa )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Nabi Yusya’ bin Nun memegang peran penting sebagai penerus Nabi Musa AS dalam memimpin Bani Israil menuju Baitul Maqdis. Ia melanjutkan tongkat kepemimpinan dengan penuh keteguhan setelah masa panjang pengasingan di padang Tih.

Oleh karena itu, kisah Nabi Yusya bin Nun menjadi salah satu kisah penting dalam sejarah para nabi yang menunjukkan hubungan antara iman, kesabaran, dan kemenangan besar dari Allah SWT.

Selain itu, ia tumbuh sebagai murid sekaligus sahabat setia Nabi Musa AS. Ia selalu mendampingi Nabi Musa dalam perjalanan penting, termasuk saat menuju pertemuan dengan Nabi Khidir.

Penjelasan Al-Qur’an tentang “Fatâ”

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Kahfi ayat 60:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبْرَحُ حَتَّىٰٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ ٱلْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا

Artinya: Musa berkata kepada pemudanya bahwa ia tidak akan berhenti hingga mencapai pertemuan dua lautan atau berjalan bertahun-tahun.

Kemudian, Imam ath-Thabari menegaskan dalam tafsirnya bahwa pemuda tersebut adalah Yusya’ bin Nun. Ia menulis:

واذكر يا محمد إذ قال موسى بن عمران لفتاه يوشع

Artinya: “Ingatlah wahai Muhammad, ketika Musa bin ‘Imran berkata kepada pelayannya, yaitu Yusya’ bin Nun.”

Selanjutnya, Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa Nabi Musa melakukan perjalanan bersama Yusya’ bin Nun ketika mencari Nabi Khidir. Dengan demikian, para ulama tafsir sepakat bahwa sosok “fatâ” tersebut merujuk kepada Yusya’.

Nasab Nabi Yusya’ bin Nun

Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Imam Ibnu Katsir menjelaskan nasab Nabi Yusya’ bin Nun secara rinci. Ia berasal dari keturunan Nabi Yusuf AS melalui Nabi Ya’qub AS.

Nasabnya adalah sebagai berikut:

Yusya’ bin Nun bin Afrayim bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim AS.

Kemudian, Ibnu Katsir menegaskan bahwa Yusya’ mengambil alih kepemimpinan Bani Israil setelah wafatnya Nabi Musa dan Nabi Harun. Ia melanjutkan tugas besar tersebut dengan penuh tanggung jawab dan keteguhan iman.

Klarifikasi Ulama tentang Wahyu

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa wahyu sempat berpindah kepada Yusya’ pada akhir masa Nabi Musa. Namun demikian, Imam Ibnu Katsir menolak kesimpulan tersebut.

Baca Juga :  Uwais al-Qarni, Lelaki Saleh yang Dirindukan Langit

Ia menjelaskan bahwa Nabi Musa tetap menerima wahyu langsung dari Allah hingga akhir hayatnya. Selain itu, beliau juga menegaskan bahwa sebagian riwayat tersebut berasal dari Israiliyat yang tidak bisa dijadikan dasar utama dalam akidah.

Oleh karena itu, para ulama menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menerima riwayat yang tidak memiliki dasar kuat dari Al-Qur’an dan hadis sahih.

Nabi Musa dan Malaikat Maut

Dalam riwayat shahih, Nabi Musa AS pernah bertemu dengan malaikat maut. Dalam peristiwa itu, Nabi Musa berdialog dengan malaikat tersebut, kemudian Allah memberikan pilihan kepadanya.

Setelah memahami ketetapan Allah, Nabi Musa memilih untuk wafat. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi Musa tetap berada dalam bimbingan wahyu hingga akhir hayatnya.

Yusya’ bin Nun Memimpin Bani Israil

Setelah Nabi Musa dan Nabi Harun wafat, Yusya’ bin Nun mengambil alih kepemimpinan Bani Israil. Ia kemudian membimbing generasi baru yang tumbuh setelah 40 tahun berada di padang Tih.

Padang Tih berada di antara Mesir dan Palestina, tepatnya di wilayah Semenanjung Sinai. Di tempat tersebut, Bani Israil hidup dalam kebingungan karena pembangkangan mereka terhadap perintah Allah SWT.

Allah berfirman:

فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡ اَرۡبَعِيۡنَ سَنَةً ۚ يَتِيۡهُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ ۚ فَلَا تَاۡسَ عَلَى الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِيۡنَ

Perjalanan Menuju Baitul Maqdis

Setelah masa hukuman selesai, Yusya’ segera memimpin Bani Israil keluar dari padang Tih. Ia menyeberangkan mereka melalui Sungai Yordan menuju Baitul Maqdis.

Selanjutnya, ia menghadapi kota Yerikho yang memiliki benteng sangat kuat. Ia mengepung kota itu selama enam bulan hingga Allah memberikan kemenangan besar kepadanya.

Selain itu, ia melanjutkan ekspedisi hingga menundukkan puluhan kerajaan di wilayah Syam.

Imam ath-Thabari menjelaskan kondisi kaum tersebut dengan kutipan berikut:

لأنهم كانوا لشدة بطشهم وعظيم خلقهم، فيما ذكر لنا، قد قهروا سائر الأمم غيرهم

Baca Juga :  Fatimah dan Ulama Hanafi: Jejak Ilmu Mazhab Klasik

Artinya: “Karena mereka memiliki kekuatan yang sangat besar dan postur tubuh yang tinggi, sebagaimana diriwayatkan, mereka menundukkan seluruh bangsa selain mereka.”

Mukjizat Penahanan Matahari

Ketika pengepungan Baitul Maqdis berlangsung, waktu hampir memasuki hari Sabtu. Karena itu, Nabi Yusya’ berdoa kepada Allah agar matahari ditahan.

Ia mengucapkan doa berikut:

إنك مأمورة وأنا مأمور، اللهم احبسها عليَّ

Artinya: “Engkau diperintahkan dan aku juga diperintahkan. Ya Allah, tahanlah matahari untukku.”

Kemudian Allah SWT mengabulkan doa tersebut dan menahan matahari hingga kemenangan tercapai.

Rasulullah SAW bersabda:

إن الشمس لم تحبس لبشر إلا ليوشع ليالي سار إلى بيت المقدس

Artinya: “Matahari tidak pernah ditahan untuk seorang manusia pun kecuali untuk Yusya’ ketika ia berjalan menuju Baitul Maqdis.”

Penaklukan Baitul Maqdis

Setelah itu, Yusya’ bin Nun bersama Bani Israil memasuki Baitul Maqdis. Mereka menghadapi kaum jabbârîn yang terkenal kuat, keras, dan zalim.

Namun demikian, mereka berhasil mengalahkan kaum tersebut setelah perjuangan panjang. Selanjutnya, mereka memasuki kota dengan penuh kemenangan dan ketundukan kepada Allah SWT.

Allah memerintahkan mereka:

وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ ۚ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

Namun sebagian dari mereka mengganti perintah tersebut, sehingga Allah menurunkan azab kepada mereka.

Pembangunan Peradaban Baru

Setelah kemenangan itu, Yusya’ bin Nun membangun kembali Baitul Maqdis bersama kaum yang beriman. Ia menegakkan hukum Allah dan mengatur kehidupan Bani Israil berdasarkan syariat.

Dengan demikian, masa kepemimpinannya menjadi fondasi awal kejayaan Bani Israil. Selanjutnya, kejayaan itu berkembang pada masa Nabi Daud dan Nabi Sulaiman AS.

Menurut Imam Ibnu Katsir, Nabi Yusya’ bin Nun wafat pada usia sekitar 127 tahun. Ia meninggal sekitar 27 tahun setelah wafatnya Nabi Musa AS.

Ia meninggalkan warisan besar berupa kepemimpinan yang berhasil membawa Bani Israil kembali ke tanah suci dan menegakkan syariat Allah SWT di sana.(ust)

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri
Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Berita Terbaru

Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi mengawal langsung survei kerukunan umat beragama di Kabupaten Batang Hari.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Jambi Awasi Survei Kerukunan di Batang Hari

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:56 WIB

Kegiatan gelar wicara bertajuk “Akses Rumah Pertama bagi Pekerja Muda” dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(poto: republika).

Berita Islam

Bank BSN Rilis KPR Tenor 40 Tahun untuk Pekerja Muda

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:39 WIB

Gus Nadir.(poto: istimewa).

Pendidikan

Santri Masa Kini Mesti Kuasai AI dan Keterampilan Digital

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:32 WIB

Ponpes THOHIR YASIN Lendang Nangka-Masbagik-Lombok Timur(poto: istimewa).

Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:17 WIB

Isim Isyarah.

Bahasa Arab

Panduan Lengkap Isim Isyarah: Jenis dan Contoh Kalimat

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:56 WIB