Ja’far bin Abi Thalib: Kisah Keberanian Ath-Thayyar

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 19 Juni 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Ja’far bin Abi Thalib Ath-Thayyar, sahabat Rasulullah SAW yang berani( poto : hidayatullah.com )

Kisah Ja’far bin Abi Thalib Ath-Thayyar, sahabat Rasulullah SAW yang berani( poto : hidayatullah.com )

Jakarta, dorlanhikmah.com  – Kisah Ja’far bin Abi Thalib Ath-Thayyar menjadi salah satu teladan besar dalam sejarah Islam yang menggambarkan keberanian, kejujuran, dan pengorbanan tanpa batas. Ja’far bin Abi Thalib tampil sebagai sahabat Rasulullah SAW yang mengabdikan hidupnya untuk Islam sejak awal dakwah hingga akhir hayatnya di medan perang.

Ja’far tidak hanya dikenal sebagai sepupu Rasulullah, tetapi juga saudara kandung Ali bin Abi Thalib. Ia tumbuh dalam lingkungan Bani Hasyim yang terhormat. Namun, ia memilih jalan iman meskipun harus menghadapi tekanan besar dari kaum Quraisy.

Latar Keluarga dan Keislaman Awal Ja’far

Ja’far bin Abi Thalib lahir di keluarga mulia. Ayahnya, Abu Thalib, merupakan pelindung Rasulullah SAW. Sejak muda, Ja’far menunjukkan karakter lembut, tenang, dan penuh empati.

Ketika Rasulullah SAW membawa risalah Islam, Ja’far segera menerima kebenaran itu. Ia tidak menunda keimanan meskipun situasi Makkah saat itu sangat menekan umat Islam.

Ia menjaga lisannya dari kebohongan, menjauhi perbuatan maksiat, dan berpegang pada akhlak mulia bahkan sebelum Islam datang. Hal ini kemudian menjadi salah satu sebab kemuliaannya di sisi Allah SWT.

Hijrah ke Habasyah dan Kepemimpinan Ja’far

Saat tekanan Quraisy semakin keras, Rasulullah SAW memerintahkan sebagian sahabat untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Ja’far bin Abi Thalib memimpin rombongan ini.

Ia membawa kaum Muslimin keluar dari Makkah dengan penuh tanggung jawab. Ia menjaga mereka selama perjalanan dan memastikan keselamatan mereka di negeri asing.

Di Habasyah, Ja’far tampil sebagai juru bicara kaum Muslimin. Ia menghadapi Raja Najasyi dengan tenang ketika utusan Quraisy mencoba memprovokasi.

Ja’far berkata dengan penuh keyakinan:

“Kami dahulu adalah kaum yang hidup dalam kebodohan, menyembah berhala, memakan bangkai, dan melakukan keburukan…”

Ia kemudian menjelaskan ajaran Islam dengan jujur dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dari Surah Maryam:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), ketika ia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.” (QS. Maryam: 16)

Ayat itu membuat Raja Najasyi tersentuh. Ia menangis dan kemudian memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin di Habasyah.

Baca Juga :  Mengenal Asy-Syifa binti Abdullah: Tokoh Literasi dan Pelopor Perempuan Islam

Setelah bertahun-tahun di Habasyah, Ja’far kembali ke Madinah. Kedatangannya membuat Rasulullah SAW sangat bahagia.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyambut Ja’far dengan penuh kegembiraan. Beliau bahkan menyamakan kebahagiaan itu dengan kemenangan besar umat Islam.

Rasulullah SAW memeluk Ja’far dan menunjukkan rasa rindu yang mendalam. Hal ini menunjukkan kedudukan Ja’far di hati Nabi.

Keistimewaan dan Akhlak Ja’far bin Abi Thalib

Ja’far dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga akhlak. Ia tidak pernah berdusta, tidak pernah berzina, dan tidak pernah mabuk, bahkan sebelum dan sesudah Islam datang.

Dalam sebuah percakapan, Rasulullah SAW bertanya tentang keistimewaan yang ia dapatkan. Ja’far menjawab dengan rendah hati bahwa ia hanya menjauhi tiga hal tersebut.

Rasulullah SAW kemudian memuji keteguhan akhlaknya.

Imam Ibn Kathir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah menjelaskan bahwa Ja’far termasuk sahabat yang memiliki keimanan kuat sejak awal dan menunjukkan kesempurnaan akhlak dalam berbagai situasi, terutama saat hijrah ke Habasyah.

Perang Mu’tah: Awal Pengorbanan Besar

Puncak perjuangan Ja’far terjadi dalam Perang Mu’tah pada tahun 8 Hijriah. Rasulullah SAW menunjuk tiga panglima secara berurutan:

  1. Zaid bin Haritsah
  2. Ja’far bin Abi Thalib
  3. Abdullah bin Rawahah

Pasukan Muslim menghadapi kekuatan besar dari Romawi. Jumlah mereka jauh lebih sedikit, tetapi semangat iman tidak pernah surut.

Baca Juga :  Asal Usul Nama Bulan Hijriah dari Tradisi Arab Kuno

Keberanian Ja’far di Medan Perang

Ketika Zaid bin Haritsah gugur, Ja’far segera mengambil panji komando. Ia maju ke medan perang tanpa ragu.

Ia menyerang barisan musuh dengan penuh keberanian. Tubuhnya terus menerima luka, tetapi ia tidak mundur.

Musuh kemudian memotong tangan kanannya. Ja’far tetap memegang panji dengan tangan kirinya.

Ketika tangan kirinya juga terputus, ia tidak melepaskan panji. Ia memeluknya dengan kedua lengannya hingga tetap berdiri tegak di medan perang.

Syahidnya Ja’far Ath-Thayyar

Ja’far akhirnya gugur sebagai syahid setelah menerima banyak luka. Ia jatuh dalam keadaan mempertahankan panji Islam hingga akhir hayat.

Rasulullah SAW kemudian mengabarkan kabar gembira tentang kedudukan Ja’far di surga. Beliau menyampaikan bahwa Allah mengganti kedua tangan Ja’far dengan dua sayap.

Rasulullah SAW bersabda:

“Aku melihat Ja’far terbang di surga bersama para malaikat dengan dua sayapnya.”

Sejak itu, Ja’far dikenal dengan gelar Ath-Thayyar, yang berarti “yang terbang”.

Makna Gelar Ath-Thayyar

Gelar ini bukan sekadar simbol. Ia menunjukkan kemuliaan yang Allah SWT berikan kepada Ja’far atas pengorbanannya.

Ja’far tidak hanya kehilangan dunia, tetapi Allah menggantinya dengan kemuliaan abadi di akhirat.

Ulama menjelaskan bahwa gelar ini menjadi bukti bahwa pengorbanan di jalan Allah tidak pernah sia-sia.

Kisah Ja’far memberikan banyak pelajaran penting bagi umat Islam.

Pertama, kejujuran dan akhlak mulia menjadi fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Ja’far menjaga lisannya sejak sebelum Islam.

Kedua, keberanian dalam membela kebenaran harus hadir dalam setiap keadaan, bahkan ketika nyawa menjadi taruhannya.

Ketiga, hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga pengorbanan total demi menjaga iman.

Keempat, Allah SWT selalu memberikan balasan terbaik bagi hamba yang ikhlas.(ust)

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri
Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Berita Terbaru

Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi mengawal langsung survei kerukunan umat beragama di Kabupaten Batang Hari.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Jambi Awasi Survei Kerukunan di Batang Hari

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:56 WIB

Kegiatan gelar wicara bertajuk “Akses Rumah Pertama bagi Pekerja Muda” dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(poto: republika).

Berita Islam

Bank BSN Rilis KPR Tenor 40 Tahun untuk Pekerja Muda

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:39 WIB

Gus Nadir.(poto: istimewa).

Pendidikan

Santri Masa Kini Mesti Kuasai AI dan Keterampilan Digital

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:32 WIB

Ponpes THOHIR YASIN Lendang Nangka-Masbagik-Lombok Timur(poto: istimewa).

Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:17 WIB

Isim Isyarah.

Bahasa Arab

Panduan Lengkap Isim Isyarah: Jenis dan Contoh Kalimat

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:56 WIB