Jakarta, dorlanhikmah.com – Setiap pekan seluruh umat Islam berkumpul di masjid untuk melangsungkan ibadah shalat Jumat secara berjamaah. Khutbah Jumat menjadi sarana pengingat yang sangat berharga untuk memperkuat nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Khatib menggarisbawahi pentingnya perubahan hati khutbah jumat sebagai pondasi utama perbaikan akhlak seorang hamba.
Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا، وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab kehidupan dunia ini sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah perkara yang sangat dekat dengan kehidupan kita: Mengapa terkadang kita mengetahui bahwa sesuatu itu salah, tetapi kita tetap melakukannya? Mengapa kita sudah berkali-kali berjanji untuk berubah, tetapi kembali lagi kepada kebiasaan lama? Mengapa hati kita sulit menerima nasihat, padahal kita tahu nasihat itu benar?
إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa perubahan sejati memerlukan kesungguhan dan langkah nyata. Keinginan semata tanpa adanya perjuangan memperbaiki diri tidak akan memberikan dampak apa pun. Setiap muslim harus berani mengevaluasi kebiasaan hidupnya demi meraih keberkahan Allah SWT.
Faktor Penyebab Hati Manusia Sulit Berubah
Jamaah yang dimuliakan Allah… Ada dua penyebab besar yang sering membuat hati manusia sulit berubah. Pertama: Terlalu Cinta kepada Dunia dan Mengikuti Hawa Nafsu. Dunia memang bukan sesuatu yang harus kita tinggalkan. Kita boleh bekerja, berdagang, memiliki harta, membangun rumah dan menikmati rezeki Allah.
Tetapi masalahnya adalah ketika dunia masuk ke dalam hati, sementara akhirat hanya menjadi urusan sampingan. Ketika dunia menjadi tujuan utama, seseorang bisa mengorbankan shalat demi pekerjaan, mengorbankan kejujuran demi keuntungan, mengorbankan silaturahmi demi kepentingan pribadi, bahkan mengorbankan akhirat demi kesenangan sesaat.
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘la: 16–17)
Jamaah rahimakumullah, Hawa nafsu juga sering menjadi penghalang perubahan. Kita tahu shalat itu wajib, tetapi hawa nafsu berkata, “Nanti saja.” Kita tahu Al-Qur’an harus dibaca, tetapi hawa nafsu berkata, “Besok saja.” Kita tahu harus meminta maaf, tetapi ego berkata, “Kenapa harus saya?”
Kita tahu harus meninggalkan dosa, tetapi hawa nafsu berkata, “Sekali lagi saja.” Akhirnya, “nanti” menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi karakter. Karena itu, jangan selalu menunggu hati menjadi baik baru melakukan kebaikan. Justru lakukan kebaikan agar hati menjadi baik.
Bahaya Dosa Berulang Tanpa Bertaubat
Kedua: Banyak Dosa dan Sedikit Muhasabah. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Penyebab kedua hati sulit berubah adalah dosa yang terus dilakukan tanpa taubat dan tanpa evaluasi diri. Dosa yang dilakukan berulang-ulang dapat membuat hati menjadi keras.
إِذَا أَخْطَأَ الْعَبْدُ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Apabila seorang hamba melakukan suatu dosa, maka ditorehkan satu titik hitam di hatinya.” (HR. Tirmidzi)
Bayangkan sebuah hati yang setiap hari diisi dengan dosa, tetapi jarang diisi dengan istighfar. Hati yang dahulu mudah menangis ketika mendengar ayat Al-Qur’an, perlahan menjadi biasa. Hati yang dahulu takut melakukan dosa, perlahan menjadi berani. Hati yang dahulu merasa bersalah setelah berbuat salah, perlahan tidak lagi merasakan apa-apa.
Inilah yang berbahaya. Bukan karena Allah tidak memberi kesempatan untuk berubah. Allah selalu membuka pintu taubat selama kita masih hidup.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللّٰهِ ۚ إِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)
Maka jangan pernah berkata, “Saya sudah terlalu banyak dosa.” Jangan berkata, “Saya sudah terlalu jauh dari Allah.” Jangan berkata, “Saya tidak mungkin berubah.” Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.
Langkah Praktis Mengubah Hati
LALU, BAGAIMANA CARA MENGUBAH HATI? Jamaah rahimakumullah, Jika kita ingin hati berubah, maka kita harus memulai dari diri sendiri.
-
Perbanyak istighfar dan taubat. Jangan menunggu menjadi orang baik untuk bertaubat. Bertaubatlah agar Allah menjadikan kita lebih baik.
-
Jaga shalat. Shalat bukan sekadar kewajiban. Shalat adalah sarana kita membersihkan hati dan mengingat Allah.
أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
-
Dekatkan diri dengan Al-Qur’an. Jangan hanya membaca Al-Qur’an ketika Ramadan. Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setiap hari.
-
Pilih lingkungan yang baik. Teman sangat memengaruhi hati dan kehidupan seseorang. Bertemanlah dengan orang-orang yang ketika kita bersamanya, kita semakin dekat kepada Allah.
-
Biasakan muhasabah. Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri: “Hari ini apa yang sudah saya lakukan?” “Apakah ada orang yang saya sakiti?” “Apakah shalat saya sudah baik?” “Dosa apa yang harus saya tinggalkan?” Sebab orang yang rajin mengevaluasi dirinya akan lebih mudah memperbaiki kehidupannya.
Jamaah Jumat rahimakumullah… Jangan menunggu sakit untuk mengingat sehat. Jangan menunggu tua untuk rajin beribadah. Jangan menunggu kematian mendekat untuk bertaubat. Dan jangan menunggu kehilangan baru menghargai nikmat Allah. Berubah tidak harus menunggu besok.
Mulailah hari ini. Jika selama ini shalat kita masih sering terlambat, perbaiki mulai hari ini. Jika selama ini Al-Qur’an jarang kita buka, buka kembali hari ini. Jika selama ini kita mudah marah, belajar menahan amarah hari ini. Jika selama ini kita memiliki kesalahan kepada orang tua, pasangan, anak, saudara atau sesama, segera meminta maaf. Sebab kita tidak pernah tahu berapa lama lagi Allah memberikan kesempatan kepada kita.
Peringatan Khutbah Kedua dan Doa Keselamatan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالصَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُنْكَرِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah, Sekali lagi saya mengingatkan kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian: Jangan takut untuk berubah, Yang harus kita takutkan adalah ketika kita tidak mau berubah, sementara umur terus berkurang dan kematian semakin mendekat. Jangan merasa diri kita sudah baik. Jangan pula merasa diri kita terlalu buruk untuk mendapatkan rahmat Allah. Allah melihat kesungguhan kita untuk kembali kepada-Nya.
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Maka mari kita mulai perubahan dari hati. Kurangi dosa. Perbanyak istighfar. Jaga shalat. Dekat dengan Al-Qur’an. Perbaiki akhlak. Dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا.
Ya Allah, perbaikilah hati kami, perbaikilah amal kami, ampuni dosa-dosa kami dan tutupilah aib-aib kami.
اللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ.
Ya Allah, bersihkan hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya, lisan kami dari kebohongan, dan mata kami dari pengkhianatan.
اللّٰهُمَّ اهْدِنَا وَاهْدِ بِنَا، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِمَنْ اهْتَدَى.
Ya Allah, berilah kami petunjuk dan jadikanlah kami sebab bagi orang lain mendapatkan petunjuk.
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَتَوْبَةً نَصُوحًا.
Ya Allah, karuniakan kepada kami hati yang khusyuk, lisan yang selalu berdzikir, amal yang saleh, dan taubat yang sebenar-benarnya.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.










Komentar