Hukum Berbakti kepada Orang Tua Zalim Menurut Ajaran Islam

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Islam tetap mewajibkan anak berbakti kepada orang tua meski pernah mengalami kezaliman.( ilustrasi poto: istimewa).

Islam tetap mewajibkan anak berbakti kepada orang tua meski pernah mengalami kezaliman.( ilustrasi poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Pertanyaan mengenai alasan seseorang harus berbakti kepada orang tua kerap memicu perdebatan di tengah masyarakat. Publik umumnya menganggap jasa besar orang tua membuat kewajiban tersebut tidak perlu dipertanyakan lagi.

Namun, tidak sedikit orang tumbuh dalam bayang-bayang trauma fisik maupun batin akibat perbuatan orang tua sendiri. Sebagian orang memandang tuntutan berbakti sebagai sebuah ketidakadilan ketika masa kecil mereka terenggut oleh rasa sakit.

Pandangan Agama Islam

Syariat Islam menegaskan kewajiban anak untuk berbakti tidak serta-merta gugur meskipun orang tua berlaku zalim. Kedudukan amalan mulia ini berada pada tingkatan yang sangat istimewa dalam ajaran agama.

Al-Qur’an bahkan menyandingkan perintah berbuat baik kepada orang tua langsung setelah perintah bertauhid kepada Allah. Firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Isra’ ayat 23 menegaskan hal tersebut secara jelas:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”

Penegasan serupa juga tercantum dalam Surah An-Nisa ayat 36 yang memerintahkan umat Muslim untuk tidak menyekutukan Allah. Ayat tersebut sekaligus memerintahkan setiap hamba untuk selalu memperlakukan kedua orang tua dengan santun:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.”

Para ulama meletakkan perintah ini pada kedudukan tertinggi karena berulang kali bersanding dengan asas utama Islam. Landasan ini menjadi bukti kuat bahwa penghormatan kepada orang tua tidak terpengaruh oleh kondisi emosional semata.

Dalil Kewajiban Tetap Berbuat Baik

Ajaran Islam melarang anak membangkang meski orang tua memaksa sang anak melakukan perbuatan syirik. Allah Ta’ala menyampaikan petunjuk tersebut melalui Surah Luqman ayat 15:

Baca Juga :  Kaidah Nahy dalam Islam: Kapan Larangan Bermakna Haram?

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكِ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Artinya: “Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Ayat ini memperlihatkan batas tegas antara menolak ajaran yang salah dan tetap menjaga pergaulan yang santun. Anak wajib menolak ajakan syirik tanpa harus kehilangan kelembutan saat berinteraksi dengan mereka di dunia.

Hikmah di Balik Ujian Berat

Kewajiban ini menyimpan hikmah besar bagi siapapun yang bersabar menanggung luka masa lalu. Allah menyediakan ganjaran surga bagi anak yang tetap memilih jalan kebaikan di tengah ujian berat.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah mengingatkan kerugian besar bagi orang yang menyia-nyiakan keberadaan orang tua mereka. Hadis riwayat Muslim mencatat teguran keras tersebut:

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

Artinya: “Celakalah dia (hidungnya tersungkur ke debu), celakalah dia, celakalah dia!” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, namun hal itu tidak membuatnya masuk surga.”

Hadis lain riwayat Tirmidzi menggambarkan keberadaan orang tua sebagai pintu surga paling tengah yang sangat berharga:

الوالد أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع هذا الباب، أو احفظه

Baca Juga :  Hukum Penyewa Rumah Minta Kompensasi, Begini Penjelasan Islam

Artinya: “Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, engkau boleh menyia-nyiakan pintu tersebut, atau engkau boleh menjaganya.”

Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan makna pintu paling tengah sebagai kedudukan tertinggi untuk meraih keridaan Allah. Penjelasan beliau menegaskan pentingnya menaati serta menjaga kehormatan orang tua:

أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُولِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ، مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ

Artinya: “Maksudnya adalah pintu paling baik dan paling tinggi derajatnya. Maknanya bahwa sarana paling baik yang mengantarkan seseorang untuk masuk surga, dan merupakan sarana yang paling tinggi derajatnya, yaitu menaati orang tua dan menjaga hak dan kehormatannya.”

Memulai Siklus Kebaikan

Mengubah keburukan menjadi kebaikan menjadi langkah efektif untuk memutus rantai kebencian dalam keluarga. Surah Fushshilat ayat 34 mengingatkan dampak positif dari kelembutan hati:

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْم

Artinya: “Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.”

Sikap mengalah dapat meredam perpecahan sekaligus melunakkan hati orang tua yang keras. Langkah ini juga menjadi teladan nyata bagi anak cucu dalam memahami makna bakti secara utuh.

Meskipun mempraktikkan bakti saat merasa terzalimi sangat berat, syariat Islam memberikan ruang pahala melimpah bagi pemenang ujian ini. Kesabaran tersebut menjadi kunci pembuka jalan menuju kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.(ust)

Berita Terkait

Ibadah yang Paling Utama Menurut Ibnul Qayyim
Hukum Sisa Kuota Hangus dalam Fikih Islam dan Ijarah
Bukan Jam 12 Malam, Ini Waktu Utama Shalat Tahajud Menurut Ustaz Adi Hidayat
Catat, Inilah Batas Minimal Bacaan Shalat yang Benar
Hukum Rujuk Talak Tiga dan Muhallil Menurut Fikih
Hukum Mengeluarkan Sisa Makanan di Gigi Ketika Shalat: Ini Penjelasan Fiqih Lengkapnya
Hukum Hangus Gaji Pekerja Resign Akibat Sakit dalam Islam
Hukum Melarang Anak Bertemu Ayah Usai Perceraian
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:01 WIB

Ibadah yang Paling Utama Menurut Ibnul Qayyim

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:12 WIB

Hukum Sisa Kuota Hangus dalam Fikih Islam dan Ijarah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:59 WIB

Bukan Jam 12 Malam, Ini Waktu Utama Shalat Tahajud Menurut Ustaz Adi Hidayat

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Catat, Inilah Batas Minimal Bacaan Shalat yang Benar

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:35 WIB

Hukum Rujuk Talak Tiga dan Muhallil Menurut Fikih

Berita Terbaru

Ilustrasi membaca Al-Qur'an.(poto: AI).

Al-Qur'an

Hukum Tajwid dan Seni Baca Al-Qur’an: Mana Lebih Utama?

Sabtu, 10 Okt 2026 - 18:13 WIB

Ilustrasi tilawah Al-Qur'an di masjid sebagai amalan terbaik sesuai tuntutan waktu.(poto: AI).

Fiqih

Ibadah yang Paling Utama Menurut Ibnul Qayyim

Sabtu, 10 Okt 2026 - 18:01 WIB

Ilustrasi skema alur akad ijarah dalam fikih muamalah, mengatur hak sewa manfaat tanpa memindahkan kepemilikan aset.(poto: AI).

Fiqih

Hukum Sisa Kuota Hangus dalam Fikih Islam dan Ijarah

Kamis, 8 Okt 2026 - 15:12 WIB