Khutbah Jumat: Hubungan Shalat dan Rezeki Keluarga Menurut Al-Qur’an

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 21 September 2026 - 15:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: arsip).

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: arsip).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Banyak orang tua hari ini menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan masa depan finansial anak-anak mereka. Namun, sebagian orang tua justru sering kali alpa untuk menjaga shalat keluarga rezeki yang sebenarnya telah dijamin oleh Sang Pencipta.

Allah Ta‘ala secara tegas menggandengkan perintah menjaga ibadah anggota keluarga dengan jaminan rezeki dalam Al-Qur’an. Melalui petunjuk ini, umat Islam belajar bahwa mendidik anak bukan hanya tentang ketangkasan mencari nafkah, melainkan juga membangun ketaatan kepada Sang Pemberi rezeki.

Naskah khutbah Jumat berikut ini menguraikan secara mendalam bagaimana hubungan antara ibadah shalat, ketenangan jiwa, dan keberkahan rezeki dalam sebuah rumah tangga.

Khutbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Allah Ta‘ala menegaskan perintah-Nya dalam firman berikut:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Ayat yang mulia ini menyatukan dua perkara penting dalam kehidupan sehari-hari, yakni ibadah shalat dan pemenuhan rezeki. Para orang tua sering kali memikul kecemasan besar terkait dengan kecukupan finansial serta masa depan anak-anak mereka.

Khawatir saat pendapatan menurun atau cemas menghadapi persaingan kerja merupakan hal yang sangat lumrah dialami manusia. Namun, Allah mengingatkan setiap hamba agar tidak membiarkan kesibukan duniawi mengikis perhatian terhadap kewajiban ibadah.

Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?

Susunan kata dalam Surah Thaha ayat 132 memberikan ikatan makna yang sangat jelas dan mendalam. Allah memerintahkan kepala keluarga untuk menegakkan shalat, lalu menegaskan bahwa Dialah yang memberi rezeki kepada seluruh hamba.

Prinsip ini mengingatkan setiap Muslim agar tidak membiarkan perburuan harta membuat mereka melalaikan perintah agama. Kepala keluarga tentu wajib bekerja keras dan mencari nafkah yang halal demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Meski demikian, seorang hamba tidak boleh menggantungkan hatinya pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau sesama manusia. Pemilik dan penyalur rezeki yang sejati pada hakikatnya tetaplah Allah Ta’ala semata.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah memberikan penjelasan yang memuat pesan mendalam ketika menafsirkan ayat tersebut:

يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ

“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”

Keterangan Ibnu Katsir ini selaras dengan janji Allah dalam bagian ayat Al-Qur’an yang lain:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya

Umat Islam perlu memahami pesan Surah Thaha ayat 132 secara tepat dan tidak terjebak dalam pemikiran serba instan. Keaktifan menjalankan ibadah shalat bukan berarti rumus otomatis untuk melipatgandakan kekayaan materi secara mendadak.

Seorang hamba mendirikan shalat murni sebagai bentuk penyerahan diri dan pemenuhan hak Allah Ta’ala. Mengenai pembagian rezeki, Allah membagikannya berdasarkan kadar hikmah dan kehendak-Nya yang sempurna.

Bentuk rezeki bernilai tinggi sebenarnya tidak selalu berwujud angka numerik di dalam rekening bank. Ketenteraman jiwa, rasa cukup, keharmonisan rumah tangga, serta kesehatan fisik merupakan wujud rezeki yang tak ternilai harganya.

Keberkahan harta dan kemudahan dalam menjalankan ketaatan juga menjadi karunia besar yang tidak bisa kita ukur dengan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan ini dalam sebuah hadits qudsi yang amat menyentuh:

Baca Juga :  Khutbah Jumat: Memahami Makna Sukses Hakiki

يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).

Hadits ini menekankan bahwa kekayaan hakiki berakar pada kekayaan jiwa dan rasa syukur. Orang tua berkewajiban menanamkan pemahaman ini agar anak-anak tidak menjadikan tolok ukur kesuksesan hanya dari kepemilikan barang-barang mewah.

Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat

Para ulama terdahulu memberikan teladan nyata dalam menghadapi himpitan ekonomi rumah tangga. Imam Az-Zamakhsyari rahimahullah mengutip riwayat mendidik dari seorang tabi‘in saleh bernama Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani.

Ketika keluarganya berada dalam kesulitan finansial, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani memberikan arahan tegas namun menenangkan:

قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ

“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”

Beliau kemudian membacakan Surah Thaha ayat 132 di hadapan anggota keluarganya. Sikap ini menunjukkan cara mengedukasi keluarga saat menghadapi masa-masa sulit agar tidak terjebak dalam keluhan tanpa arah.

Mengarahkan keluarga ke sajadah tentu saja tidak menghilangkan kewajiban berikhtiar secara nyata. Seseorang yang kehilangan mata pencaharian tetap wajib berusaha mencari lapangan kerja baru dengan gigih.

Namun, seorang mukmin sejati akan menenangkan hatinya terlebih dahulu melalui shalat sebelum melangkah melakukan ikhtiar fisik. Pendekatan ini meneladani kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dituturkan oleh Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).

Pola pendidikan iman seperti ini menghindarkan anak dari kepanikan berlebih saat menghadapi badai kehidupan. Anak-anak akan terbiasa mengingat Allah, mendirikan shalat, berdoa, baru kemudian memaksimalkan usaha terbaik mereka.

‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia

Terdapat pelajaran berharga lain yang bisa kita petik dari perenungan terhadap rangkaian Surah Thaha. Imam Ath-Tabari rahimahullah mencatat kisah mengenai tokoh tabi’in terkemuka, ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah.

Apabila menyaksikan kemewahan dan fasilitas melimpah milik para penguasa, ‘Urwah langsung pulang ke rumahnya. Di hadapan keluarganya, beliau lantas membaca firman Allah Ta’ala berikut:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…

“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)

Beliau melanjutkan bacaannya hingga ayat berikutnya:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَ

Setelah membacakan ayat-ayat tersebut, ‘Urwah bin Az-Zubair menyerukan imbauan dengan suara yang hangat:

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ

“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”

Metode pengajaran ini terasa sangat relevan untuk membentengi mental generasi muda di era digital saat ini. Anak-anak zaman sekarang setiap hari terpapar paparan gawai, gaya hidup mewah, serta tren konsumtif melalui media sosial.

Tanpa fondasi iman yang kokoh, anak-anak akan dengan mudah membandingkan nasib dan merasa kurang berkecukupan. Orang tua harus aktif mengajarkan bahwa kebahagiaan hidup tidak diukur dari seberapa banyak perhiasan dunia yang berhasil dipamerkan.

‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat

Komitmen menjaga shalat keluarga tercermin amat kuat dalam rekam jejak kepemimpinan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Khalifah kedua ini senantiasa konsisten menjalankan shalat malam di tengah kesibukan mengurus negara.

Ketika waktu menjelang fajar, beliau selalu membangunkan seluruh anggota keluarganya sambil menyerukan kalimat ajakan:

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ

“Shalat, shalat.”

Beliau kemudian membacakan firman Allah Ta’ala sebagai pengingat bersama:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”

Al-Baihaqi meriwayatkan kisah keteladanan ini dalam kitab Syu‘ab Al-Iman (4/466, no. 2822) melalui jalur sanad Malik dari Zaid bin Aslam, dari Aslam, hingga sampai kepada ‘Umar.

Kisah ini memancarkan prinsip pengasuhan yang sangat berharga, yakni memberi contoh nyata sebelum memberikan perintah. ‘Umar bin Al-Khaththab membuktikan ibadahnya sendiri terlebih dahulu sebelum mengajak anggota keluarga yang lain.

Baca Juga :  Khutbah Idul Adha 1447 H: Kurban dan Semangat Berbagi (Khutbah 1)

Anak-anak membutuhkan instruksi yang jelas, namun mereka jauh lebih membutuhkan contoh teladan dari orang tua. Nasihat lisan akan kehilangan kesaktiannya jika anak melihat orang tua mereka sendiri sering menunda-nunda waktu shalat.

Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil

Pembentukan karakter anak yang taat beribadah memerlukan proses pembiasaan yang panjang dan telaten. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk teknis mengenai tahapan pendidikan shalat bagi anak:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud, no. 495; dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).

Dalam hadits yang sama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkan tindakan pembinaan yang lebih tegas apabila anak telah menginjak usia sepuluh tahun namun masih mengabaikan shalat.

Petunjuk ini menegaskan bahwa ketertiban ibadah anak tidak bisa tumbuh secara mendadak saat mereka dewasa. Orang tua memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membimbing, mengingatkan, serta mendampingi anak dalam membangun rutinitas ibadah harian.

Langkah Praktis Mendidik Anak di Rumah

Para orang tua dapat menerapkan beberapa langkah sederhana untuk menanamkan kebiasaan shalat pada anak dalam kehidupan sehari-hari:

  • Mengutamakan Panggilan Azan: Hentikan aktivitas sejenak dan segeralah berwudu saat azan berkumandang agar anak memahami keutamaan shalat di atas agenda lainnya.

  • Mengajak Berdoa Saat Menghadapi Masalah: Latih anak untuk shalat sunnah dan berdoa bersama ketika keluarga sedang menghadapi cobaan, di samping tetap melakukan usaha nyata.

  • Menanamkan Sifat Qana’ah: Ajarkan anak untuk tidak iri terhadap materi milik orang lain dan senantiasa bersyukur atas setiap rezeki yang diterima keluarga.

  • Menjadi Teladan Utama: Tampilkan konsistensi dalam menjaga ibadah karena teladan tindakan orang tua jauh lebih berkesan daripada untaian kata-kata.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.

رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.

اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Berita Terkait

Khutbah Jumat: Bahaya Kezaliman Sesama Manusia
Khutbah Jumat: Teladan Keadilan Rasulullah SAW
Khotbah Jumat: Rahasia Hikmah Musibah dan Tobat
Khutbah Jumat: Memahami Makna Sukses Hakiki
Khutbah Jumat: Kunci Syafaat Rasulullah
Khutbah Jumat: Ubah Hati Sebelum Terlambat
Khutbah Jumat: Pertanggungjawaban Nikmat
Khutbah Jumat: Penyebab Utama Musibah Datang dari Dosa dan Maksiat Diri
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 15:51 WIB

Khutbah Jumat: Bahaya Kezaliman Sesama Manusia

Senin, 21 September 2026 - 15:40 WIB

Khutbah Jumat: Teladan Keadilan Rasulullah SAW

Senin, 21 September 2026 - 15:32 WIB

Khutbah Jumat: Hubungan Shalat dan Rezeki Keluarga Menurut Al-Qur’an

Sabtu, 19 September 2026 - 19:25 WIB

Khotbah Jumat: Rahasia Hikmah Musibah dan Tobat

Sabtu, 19 September 2026 - 19:18 WIB

Khutbah Jumat: Memahami Makna Sukses Hakiki

Berita Terbaru

Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama resmi menggelar peluncuran e-SMART KOMITE Kemenag di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Kemenag Luncurkan e-SMART KOMITE untuk Madrasah

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:29 WIB

Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan logo Hari Santri 2026 beserta rangkaian agenda nasional di Jakarta.(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Resmi Meluncurkan Logo Hari Santri 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 07:42 WIB

Sunnah mengangkat tangan saat Shalat di 4 tempat.(ilustrasi poto: AI)

Fiqih

4 Posisi Mengangkat Tangan Dalam Shalat Sesuai Sunnah

Senin, 21 Sep 2026 - 17:14 WIB

Saat mau sujud, tangan dulu atau lutut dulu.simak penjelasannya.(poto: ilustrasi: istimewa).

Fiqih

Lutut atau Tangan Dulu Saat Sujud? Ini Penjelasan Fiqih

Senin, 21 Sep 2026 - 17:05 WIB