Khutbah Jumat: Pertanggungjawaban Nikmat

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 17 September 2026 - 20:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: arsip).

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: arsip).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Seorang khatib menyampaikan pesan mendalam mengenai pertanggungjawaban nikmat duniawi di hadapan Allah dalam pelaksanaan ibadah shalat Jumat. Khatib mengajak seluruh jamaah untuk terus meningkatkan kualitas ketakwaan diri melalui pelaksanaan perintah Allah dan penghindaran dari seluruh larangan-Nya.

Jamaah mendengarkan paparan materi yang mengulas tentang kehidupan sehari-hari dan keberadaan kenikmatan melimpah yang kerap terlupakan. Banyak umat manusia menikmati nikmat sehat saat orang lain terbaring sakit di rumah sakit.

Sebagian besar orang menikmati hidangan makanan lezat setiap hari tanpa kesulitan. Sementara itu, sebagian saudara sesama muslim justru tidak mengetahui makanan apa yang bisa mereka santap hari ini.

Kesadaran Atas Seluruh Pemberian Sang Pencipta

Manusia umumnya memiliki tempat tinggal yang nyaman untuk berteduh dari hujan dan terik matahari. Mereka juga memanfaatkan kendaraan untuk bepergian, memiliki pekerjaan tetap guna mencari rezeki, serta merasakan cinta dari keluarga.

Allah SWT melengkapi kenikmatan tersebut dengan pancaindra yang berfungsi sangat baik. Mata berfungsi untuk melihat, telinga untuk mendengar, kaki untuk melangkah, serta umur yang terus berjalan.

Manusia perlu merenungkan tujuan utama dari seluruh pemberian kenikmatan hidup tersebut. Manusia harus menyadari apakah seluruh pemberian tersebut hanya untuk dinikmati atau bakal dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Landasan Ayat Al-Qur’an tentang Pertanggungjawaban Nikmat

Khatib mengutip landasan firman Allah SWT yang memberikan peringatan tegas kepada seluruh umat manusia. Teks firman tersebut menegaskan bahwa setiap kenikmatan di dunia pasti menjalani proses pertanyaan di hari akhir.

Berikut adalah dalil Al-Qur’an yang menerangkan perkara tersebut:

وَإِنَّكَ لَتُسْأَلَنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kutipan firman Allah dalam QS. At-Takatsur tersebut menuntut setiap muslim untuk merenung dan menghentikan langkah sejenak dari kesibukan dunia. Nikmat yang diterima manusia tidak cukup hanya disyukuri lewat lisan, melainkan butuh pertanggungjawaban nyata.

Pentingnya Menghitung Kesehatan dan Rezeki yang Diterima

Umat manusia sering kali sibuk menghitung jumlah nominal uang yang berhasil mereka kumpulkan setiap hari. Namun, manusia sangat jarang menghitung berapa kali Allah memberikan nikmat sehat dalam kehidupan mereka.

Masyarakat fokus menghitung angka rupiah yang masuk ke dalam rekening bank pribadi. Pada saat yang sama, mereka melupakan kehadiran nikmat keselamatan yang terus mengalir tanpa henti.

Kesibukan mengejar harta kekayaan dunia membuat banyak orang kehilangan fokus utama kehidupan. Mereka terus mengejar rumah yang lebih besar, kendaraan yang mewah, pakaian mahal, serta kenaikan gaji yang tinggi.

Hadits Nabi tentang Empat Pertanyaan di Hari Kiamat

Khatib mengingatkan jamaah agar tidak melupakan pertanyaan besar di akhirat kelak mengenai asal-usul harta dan penggunaannya. Allah akan menanyakan dari mana manusia memperoleh harta tersebut dan ke mana harta itu dibelanjakan.

Rasulullah ﷺ menyampaikan peringatan tegas melalui sabda beliau mengenai peristiwa hari kiamat:

«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ»

Hadits riwayat Tirmidzi di atas menjelaskan bahwa dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser sebelum menyelesaikan empat urusan pertanyaan. Urusan tersebut meliputi umur, amalan ilmu, asal serta pembelanjaan harta, hingga penggunaan anggota tubuh.

Manusia tidak boleh hanya bertanya tentang berapa banyak harta yang sudah mereka miliki saat ini. Setiap individu wajib mempertanyakan kembali penggunaan seluruh nikmat yang telah Allah karuniakan selama ini.

Hakikat Kehidupan Dunia yang Bersifat Sementara

Allah SWT memberikan peringatan gamblang bahwa seluruh kehidupan di alam dunia bersifat sementara. Dunia bukanlah tempat tinggal abadi bagi umat manusia, melainkan tempat persinggahan singkat sebelum menuju akhirat.

Allah SWT menegaskan hakikat dunia dalam Al-Qur’an melalui ayat berikut:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

Berdasarkan QS. Al-Hadid ayat 20 tersebut, kehidupan dunia hanyalah sekadar permainan, hal yang melalaikan, perhiasan, serta ajang saling berbangga. Manusia sibuk berlomba-lomba mengumpulkan harta benda dan membanggakan keturunan.

Manusia hari ini masih berjalan aktif di atas tanah, tetapi besok bisa jadi orang lain yang mengantarkannya ke dalam tanah. Harta yang terkumpul secara susah payah hari ini akan berpindah tangan menjadi milik ahli waris ketika kematian tiba.

Pakaian indah yang terpakai hari ini akan berganti dengan balutan kain kafan yang sederhana. Seluruh keinginan duniawi yang melimpah akan terhenti seketika saat malaikat maut datang menjemput.

Rumah mewah, kendaraan mahal, jabatan tinggi, popularitas, serta jumlah pengikut di media sosial tidak akan ikut ke dalam kubur. Hanya amal ibadah dan perbuatan baik yang setia mendampingi manusia di alam kubur.

Pemanfaatan Harta Kekayaan untuk Jalan Kebaikan

Ajaran agama Islam tidak pernah melarang umatnya untuk menikmati keindahan dan rezeki di dunia. Seorang muslim boleh memiliki rumah yang nyaman, kendaraan yang layak, makanan halal, serta mencari rezeki sebanyak-banyaknya.

Hal yang harus dihindari adalah membiarkan harta dan dunia masuk ke dalam hati hingga menguasai jiwa. Harta kekayaan seharusnya berfungsi sebagai sarana utama untuk meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.

Rezeki yang Allah titipkan hendaknya mengalir untuk membantu kedua orang tua dan menafkahi keluarga dengan baik. Umat muslim perlu menyalurkan harta untuk bersedekah, membangun fasilitas masjid, membantu fakir miskin, serta membiayai pendidikan anak.

Baca Juga :  Khutbah Jumat: 3 Sifat Utama Muslim Sejati

Seluruh harta yang keluar di jalan Allah tidak akan pernah menjadi amalan yang sia-sia di akhirat. Allah SWT menjamin balasan pahala melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

Berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 110, setiap kebaikan yang dikerjakan manusia untuk dirinya pasti akan mendapatkan balasan di sisi Allah.

Ukuran keberhasilan seorang muslim tidak terlihat dari seberapa banyak jumlah harta kekayaan yang ia kumpulkan. Tolok ukur sejati terletak pada seberapa besar nikmat tersebut mampu mendekatkan diri seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Naskah Utuh Teks Khutbah Pertama

Berikut adalah naskah lengkap khutbah pertama yang mencakup seluruh lafaz Arab dan narasi penyampaian:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعَمٍ كَثِيْرَةٍ، وَجَعَلَنَا مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan satu perkara yang sering kita lupakan:

KETIKA KENIKMATAN DUNIA AKAN DIPERTANYAKAN

Setiap hari kita menikmati begitu banyak nikmat Allah. Kita menikmati kesehatan, sementara ada orang yang sedang terbaring sakit. Kita menikmati makanan, sementara ada saudara kita yang mungkin hari ini belum mengetahui apa yang akan dimakannya.

Kita memiliki rumah untuk berteduh, kendaraan untuk bepergian, pekerjaan untuk mencari rezeki, keluarga untuk dicintai, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, kaki untuk berjalan, dan waktu yang terus diberikan oleh Allah.

Namun pernahkah kita bertanya: Untuk apa semua nikmat itu diberikan kepada kita?

Apakah hanya untuk dinikmati? Ataukah suatu hari nanti semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?

Allah SWT berfirman:

وَإِنَّكَ لَتُسْأَلَنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian sungguh, pada hari itu kamu benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur)

Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Sebab ternyata nikmat bukan hanya untuk disyukuri dengan ucapan. Nikmat juga akan dimintai pertanggungjawaban.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kita sering menghitung uang yang kita miliki. Tetapi kita jarang menghitung berapa banyak nikmat Allah yang kita gunakan setiap hari.

Kita menghitung berapa rupiah yang masuk ke rekening. Tetapi pernahkah kita menghitung berapa kali Allah memberikan kesehatan kepada kita?

Kita sibuk mengejar dunia. Mengejar rumah yang lebih besar. Kendaraan yang lebih bagus. Pakaian yang lebih mahal. Gaji yang lebih tinggi.

Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa semua itu akan ditanya: Dari mana engkau mendapatkannya? Untuk apa engkau membelanjakannya? Apakah engkau bersyukur kepada Allah?

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ»

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikan, jamaah.

Umur akan ditanya. Ilmu akan ditanya. Harta akan ditanya. Tubuh kita akan ditanya. Maka jangan hanya bertanya: “Berapa banyak yang saya punya?” Tetapi tanyakan juga: “Apa yang sudah saya lakukan dengan apa yang Allah berikan?”

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Allah telah mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara.

Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)

Dunia bukanlah tempat tinggal selamanya.

Kita hanya sedang singgah. Hari ini kita berada di atas tanah. Besok mungkin orang lain yang mengantarkan kita ke dalam tanah. Hari ini kita sibuk mengumpulkan harta. Besok harta itu mungkin dibagikan kepada ahli waris.

Hari ini kita memakai pakaian yang indah. Besok tubuh kita mungkin hanya dibungkus kain kafan.

Hari ini kita memiliki banyak keinginan. Tetapi ketika kematian datang, keinginan itu berhenti.

Yang ikut bersama kita bukan rumah. Bukan kendaraan. Bukan jabatan. Bukan popularitas. Bukan jumlah pengikut di media sosial. Tetapi amal kita.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Islam tidak melarang kita menikmati dunia.

Silakan memiliki rumah yang baik. Silakan memiliki kendaraan yang layak. Silakan makan makanan yang halal dan baik. Silakan mencari rezeki sebanyak-banyaknya.

Namun jangan sampai dunia berada di tangan kita tetapi masuk ke dalam hati kita.

Jadikan harta sebagai sarana untuk beribadah.

Jika Allah memberikan rezeki, gunakan untuk membantu orang tua. Gunakan untuk menafkahi keluarga. Gunakan untuk bersedekah. Gunakan untuk membangun masjid. Gunakan untuk membantu fakir miskin. Gunakan untuk pendidikan anak-anak.

Sebab harta yang digunakan di jalan Allah tidak akan sia-sia.

Baca Juga :  Ekonomi Islam Ajarkan Harta sebagai Amanah( Khutbah: 1 )

Allah SWT berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

“Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah.” (QS. Al-Baqarah: 110)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada orang yang diberi banyak harta tetapi lupa kepada Allah. Ada pula yang hartanya sedikit, tetapi hidupnya penuh keberkahan. Maka ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya banyaknya harta.

Tetapi seberapa besar nikmat itu mendekatkannya kepada Allah. Bukan berapa banyak yang kita makan. Tetapi apakah makanan itu halal dan membuat kita kuat beribadah.

Bukan seberapa mahal rumah kita. Tetapi apakah di dalam rumah itu terdengar bacaan Al-Qur’an dan shalat. Bukan seberapa bagus kendaraan kita. Tetapi ke mana kendaraan itu membawa kita. Ke masjid? Ke tempat mencari rezeki yang halal? Atau justru ke tempat maksiat? Karena pada akhirnya, semua akan dipertanyakan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Marilah kita mulai hari ini dengan memperbaiki cara kita memandang nikmat. Ketika Allah memberi kesehatan, gunakan untuk beribadah. Ketika Allah memberi ilmu, ajarkan kepada orang lain. Ketika Allah memberi harta, keluarkan zakat dan sedsaleh Ketika Allah memberi jabatan, gunakan untuk berlaku adil. Ketika Allah memberi anak, didik mereka menjadi anak yang saleh. Ketika Allah memberi waktu, jangan habiskan semuanya untuk perkara yang tidak bermanfaat.

Dan ketika Allah memberikan kesempatan untuk bertaubat, jangan ditunda. Sebab kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu berakhir.

Allah SWT berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur)

Semoga ketika pertanyaan itu datang, kita mampu menjawab: “Ya Allah, nikmat-Mu telah aku gunakan untuk mendekat kepada-Mu.”

اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَاجْعَلْ نِعَمَكَ عَلَيْنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Sikap Terbaik Dalam Memanfaatkan Setiap Karunia

Seorang hamba wajib mengevaluasi cara pandangnya terhadap setiap karunia yang telah ia terima. Kesehatan tubuh harus mengalir untuk melancarkan berbagai macam aktivitas ibadah.

Keluarga yang memiliki ilmu agama wajib mengajarkan kebaikan tersebut kepada masyarakat luas. Orang yang memperoleh kelapangan harta harus menunaikan kewajiban zakat serta memperbanyak sedekah.

Para pemangku jabatan perlu menggunakan kekuasaan mereka untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat. Orang tua wajib mendidik anak-anak mereka agar tumbuh menjadi generasi yang saleh dan salihah.

Waktu luang yang tersedia tidak boleh terbuang sia-sia untuk urusan yang tidak memberikan manfaat. Kesempatan bertobat yang masih terbuka lebar harus segera dimanfaatkan sebelum ajal menjemput.

Khatib menutup materi khutbah pertama dengan mengutip kembali penegasan firman Allah SWT berikut:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Setiap muslim berharap mampu menjawab pertanyaan akhirat tersebut dengan bukti amalan yang nyata. Seluruh nikmat yang didapatkan di dunia telah terpakai sepenuhnya untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Naskah Utuh Teks Khutbah Kedua dan Doa Penutup

Khatib melanjutkan prosesi ibadah shalat Jumat dengan menyampaikan materi khutbah kedua. Berikut adalah naskah lengkap khutbah kedua beserta bacaan doa:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ وَالْآخِرَةُ دَارُ قَرَارٍ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita bertakwa kepada Allah. Jangan sampai nikmat yang Allah berikan justru menjadi sebab kita jauh dari-Nya.

Jangan sampai kesehatan membuat kita lalai dari shalat. Jangan sampai kesibukan mencari rezeki membuat kita meninggalkan kewajiban. Jangan sampai harta membuat kita sombong. Jangan sampai anak-anak membuat kita lupa kepada Allah. Dan jangan sampai dunia membuat kita lupa bahwa kita akan kembali kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mari kita gunakan sisa umur kita untuk memperbanyak amal. Perbanyak istighfar. Perbaiki shalat. Berbakti kepada orang tua. Menyayangi keluarga. Memperbanyak sedekah. Memaafkan kesalahan sesama. Dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah.

Semoga seluruh nikmat yang Allah berikan kepada kita menjadi jalan menuju keridhaan-Nya, bukan menjadi sebab datangnya penyesalan di akhirat.

DOA

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ. اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَمْوَالَنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِبُعْدِنَا عَنْكَ. اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا. اللّٰهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِرِضْوَانِكَ وَالْجَنَّةِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ. إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Berita Terkait

Khutbah Jumat: Bahaya Kezaliman Sesama Manusia
Khutbah Jumat: Teladan Keadilan Rasulullah SAW
Khutbah Jumat: Hubungan Shalat dan Rezeki Keluarga Menurut Al-Qur’an
Khotbah Jumat: Rahasia Hikmah Musibah dan Tobat
Khutbah Jumat: Memahami Makna Sukses Hakiki
Khutbah Jumat: Kunci Syafaat Rasulullah
Khutbah Jumat: Ubah Hati Sebelum Terlambat
Khutbah Jumat: Penyebab Utama Musibah Datang dari Dosa dan Maksiat Diri
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 15:51 WIB

Khutbah Jumat: Bahaya Kezaliman Sesama Manusia

Senin, 21 September 2026 - 15:40 WIB

Khutbah Jumat: Teladan Keadilan Rasulullah SAW

Senin, 21 September 2026 - 15:32 WIB

Khutbah Jumat: Hubungan Shalat dan Rezeki Keluarga Menurut Al-Qur’an

Sabtu, 19 September 2026 - 19:25 WIB

Khotbah Jumat: Rahasia Hikmah Musibah dan Tobat

Sabtu, 19 September 2026 - 19:18 WIB

Khutbah Jumat: Memahami Makna Sukses Hakiki

Berita Terbaru

Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama resmi menggelar peluncuran e-SMART KOMITE Kemenag di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Kemenag Luncurkan e-SMART KOMITE untuk Madrasah

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:29 WIB

Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan logo Hari Santri 2026 beserta rangkaian agenda nasional di Jakarta.(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Resmi Meluncurkan Logo Hari Santri 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 07:42 WIB

Sunnah mengangkat tangan saat Shalat di 4 tempat.(ilustrasi poto: AI)

Fiqih

4 Posisi Mengangkat Tangan Dalam Shalat Sesuai Sunnah

Senin, 21 Sep 2026 - 17:14 WIB

Saat mau sujud, tangan dulu atau lutut dulu.simak penjelasannya.(poto: ilustrasi: istimewa).

Fiqih

Lutut atau Tangan Dulu Saat Sujud? Ini Penjelasan Fiqih

Senin, 21 Sep 2026 - 17:05 WIB