Jakarta, dorlanhikmah.com – Hari kebangkitan terjadi ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kembali seluruh manusia setelah kematian pada hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka di dunia.
Pada momen ini, malaikat Israfil meniup sangkakala untuk kedua kalinya, dan seluruh manusia bangkit dari kubur dalam keadaan yang berbeda dari kehidupan dunia.
Peristiwa ini menjadi titik awal kehidupan akhirat yang abadi, di mana tidak ada lagi kematian setelahnya. Setiap manusia berdiri dalam keadaan sadar bahwa seluruh amalnya akan dihisab secara adil oleh Allah.
Yaumul Ba’ats bukan sekadar peristiwa spiritual, tetapi menjadi kepastian yang dijelaskan langsung dalam Al-Qur’an dan ditegaskan oleh para ulama tafsir.
Tiupan Sangkakala Kedua
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala setelah semua makhluk mengalami kematian akibat tiupan pertama. Setelah waktu yang hanya Allah ketahui, tiupan kedua membangkitkan seluruh manusia dari kematian.
Allah menjelaskan peristiwa ini dalam firman-Nya:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang Allah kehendaki. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).”
(QS. Az-Zumar: 68)
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tiupan kedua ini menjadi awal kebangkitan seluruh makhluk. Allah mengumpulkan kembali seluruh bagian tubuh manusia, lalu mengembalikan ruh ke jasadnya.
Imam Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah juga menjelaskan bahwa sangkakala merupakan ciptaan Allah yang sangat besar, dan menjadi sarana terjadinya peristiwa dahsyat di hari kebangkitan.
Kebangkitan dari Kubur
Setelah Allah menghidupkan kembali jasad manusia, mereka bangkit dari kubur secara serentak. Tanah terbelah, makam terbuka, dan manusia keluar dalam keadaan hidup kembali.
Allah menggambarkan kondisi ini dalam Al-Qur’an:
فَتَوَلَّ عَنْهُمْ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَى شَيْءٍ نُكُرٍ . خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ . مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَذَا يَوْمٌ عَسِرٌ
“Maka berpalinglah kamu dari mereka. Pada hari ketika seorang penyeru menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan. Dengan pandangan tertunduk, mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan…”
(QS. Al-Qamar: 6–8)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perumpamaan “belalang beterbangan” menggambarkan betapa banyaknya manusia yang keluar dari kubur secara bersamaan tanpa arah, karena dahsyatnya hari itu.
Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi menyebut bahwa jumlah manusia pada hari itu tidak dapat dibayangkan, karena seluruh manusia dari zaman Nabi Adam hingga akhir dunia dikumpulkan sekaligus.
Keadaan Manusia pada Yaumul Ba’ats
Pada hari kebangkitan, manusia tidak lagi hidup seperti di dunia. Mereka tidak memakai pakaian, tidak membawa harta, dan tidak memiliki status sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa manusia akan dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki dan tidak berbusana. Semua manusia sibuk dengan urusannya sendiri sehingga tidak peduli dengan orang lain.
Allah juga menjelaskan bahwa manusia akan datang dalam kelompok-kelompok sesuai amal mereka.
Keadaan ini membuat orang-orang kafir merasa sangat takut dan menyesal. Mereka menyadari bahwa kehidupan dunia yang mereka dustakan ternyata benar-benar terjadi.
Sebaliknya, orang-orang beriman merasakan ketenangan karena mereka meyakini hari kebangkitan sejak di dunia.
Ketetapan Allah dalam Kebangkitan
Allah menegaskan bahwa proses penciptaan dan kebangkitan manusia sangat mudah bagi-Nya. Tidak ada kesulitan sedikit pun.
Allah berfirman:
مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
“Tidaklah penciptaan dan kebangkitan kamu itu melainkan seperti satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Luqman: 28)
Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah cukup berfirman “Kun fayakun” untuk menghidupkan seluruh manusia. Tidak ada proses yang sulit bagi Allah karena kekuasaan-Nya mutlak.
Yaumul Ba’ats mengajarkan manusia tentang kepastian akhirat dan keadilan Allah. Setiap amal sekecil apa pun tidak akan hilang.
Hari kebangkitan juga mengingatkan manusia agar berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan, karena pada hari itu manusia akan dibangkitkan bersama orang-orang yang mereka ikuti di dunia.
Selain itu, peristiwa ini mendorong manusia untuk memperbaiki ibadah, menjaga keimanan, dan mempersiapkan amal terbaik sebelum الموت datang.(ust)









Komentar