Khutbah Jumat: Teladan Keadilan Rasulullah SAW

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 21 September 2026 - 15:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: arsip).

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: arsip).

ering kali permusuhan dalam kehidupan sosial masyarakat tidak berhenti pada satu individu saja. Banyak orang mewariskan dendam pribadi kepada anak, keluarga, hingga keturunan seolah-olah seluruh anggota keluarga wajib menanggung kesalahan orang tuanya. Padahal teladan keadilan Rasulullah SAW mengajarkan prinsip mulia untuk tetap berlaku adil kepada anak seorang musuh, membalas kebaikan dengan kebaikan, serta melarang keras sikap kebencian merusak akhlak terpuji.

Khutbah Jumat ini menguraikan secara mendalam bagaimana Islam memutus mata rantai dendam antargenerasi. Penulis naskah menegaskan bahwa setiap jiwa bertanggung jawab penuh atas amalnya sendiri tanpa harus memikul dosa orang lain.

Khutbah Pertama:

Khatib membuka khutbah pertama dengan memanjatkan puji syukur serta selawat kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui lafaz pembuka berikut:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،

صَلَّى اللَّهُ عَلَي مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ (آل عمران: ١٠٢)

أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ،

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا جَاءَ بِهِ الْإِسْلَامُ تَحْقِيقُ الْعَدْلِ، وَإِقَامَةُ الْإِحْسَانِ، وَتَرْكُ الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. وَلَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَجْعَلَ الْعَدَاوَةَ تُورَثُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ، أَوْ بَيْنَ الْعَائِلَاتِ وَالْأَجْيَالِ، فَإِنَّ كُلَّ نَفْسٍ تُحَاسَبُ عَلَى عَمَلِهَا، وَلَا تُؤَاخَذُ بِذَنْبِ غَيْرِهَا.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾

وَقَالَ سُبْحَانَهُ:

﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾

Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah,

Bagaimana sikap kita jika berhadapan dengan anak dari seseorang yang pernah menyakiti kita? Tidak sedikit orang yang masih menyimpan dendam hingga merembet kepada anak, keluarga, bahkan keturunannya. Padahal Islam mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri, bukan atas dosa keluarganya.

Kisah Rasulullah ﷺ bersama Abdullah bin Ubay bin Salul merupakan salah satu contoh akhlak paling agung dalam sejarah Islam. Tokoh munafik terbesar di Madinah itu berkali-kali menyakiti Nabi ﷺ. Namun ketika ia meninggal dunia, putranya yang merupakan seorang sahabat saleh datang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ. Sikap Nabi ﷺ dalam peristiwa ini menjadi pelajaran besar tentang keadilan, kelapangan hati, dan kemuliaan akhlak.

Rekam Jejak Abdullah bin Ubay bin Salul

Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah, Siapakah Abdullah bin Ubay bin Salul? Khatib menjelaskan bahwa sosok tersebut merupakan tokoh berpengaruh sebelum kedatangan Islam di Madinah.

Abdullah bin Ubay bin Salul adalah pemimpin kabilah Khazraj di Madinah. Sebelum Rasulullah ﷺ hijrah, penduduk Yatsrib hampir sepakat mengangkatnya sebagai raja mereka. Namun, ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam dan memberikan baiat kepada beliau. Harapan Abdullah bin Ubay untuk menjadi pemimpin pun sirna.

Sejak saat itu ia menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Al-Qur’an mengabadikan berbagai perbuatannya sehingga ia dikenal sebagai pemimpin kaum munafik.

Di antara kejahatan yang pernah dilakukannya ialah:

  1. Mengajak sekitar tiga ratus orang mundur dari Perang Uhud sehingga melemahkan barisan kaum muslimin.

  2. Menyebarkan fitnah besar terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam peristiwa Haditsul Ifk.

  3. Menghasut kaum Anshar dengan mengatakan:

﴿لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ﴾

“Apabila kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina.” (QS. Al-Munafiqun: 8). Ucapan itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ.

Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tetap bersabar menghadapi gangguannya demi menjaga persatuan kaum muslimin. Langkah ini diambil agar tidak muncul anggapan buruk bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya sendiri.

Baca Juga :  Khutbah Jumat: Bijak Bermedia Sosial dan Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital

Keteguhan Iman Abdullah bin Abdullah bin Ubay

Di balik sosok Abdullah bin Ubay yang munafik, Allah menganugerahkan seorang putra yang sangat saleh, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu. Ia termasuk sahabat Nabi ﷺ yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Ketika ayahnya menghina Rasulullah ﷺ dalam Perang Bani Musthaliq, Abdullah bin Abdullah bahkan berkata kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, jika engkau hendak membunuh ayahku, serahkanlah tugas itu kepadaku. Aku khawatir jika orang lain yang membunuhnya, aku tidak mampu menahan diriku sehingga membunuh seorang mukmin karena membalas kematian ayahku.”

Mendengar pernyataan tegas sahabat muda tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّا لَا نَقْتُلُهُ، بَلْ نَتَرَفَّقُ بِهِ، وَنُحْسِنُ صُحْبَتَهُ مَا بَقِيَ مَعَنَا»

“Kita tidak akan membunuhnya. Bahkan kita akan tetap bersikap lembut kepadanya dan memperlakukannya dengan baik selama ia masih hidup bersama kita.”

Penulis kitab Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn memberikan komentar yang sangat indah terhadap jawaban Nabi ﷺ tersebut:

«وَكَانَتْ إِجَابَةُ الرَّسُولِ ﷺ بَعْدَ ذَلِك هِيَ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي الْعَفْوِ وَالصَّفْحِ الْجَمِيلِ، وَهِيَ النِّبْرَاسُ الَّذِي يُضِيءُ طُرُقَ الْخَيْرِ وَيَهْدِي إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ، وَهِيَ خَيْرُ مُكَافَأَةٍ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ يَرْتَفِعُ بِإِخْلَاصِهِ إِلَى هَذَا الْمُسْتَوَى الْكَرِيمِ.»

“Jawaban Rasulullah ﷺ tersebut merupakan teladan tertinggi dalam memberi maaf dan berlapang dada. Ia menjadi cahaya yang menerangi jalan-jalan kebaikan dan membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Jawaban itu juga merupakan penghargaan terbaik bagi setiap mukmin yang dengan keikhlasannya mampu mencapai derajat akhlak yang mulia seperti itu.” (Al-Qaul Al-Mubīn fī Sīrati Sayyidil Mursalīn, hlm. 302).

Peristiwa Wafatnya Tokoh Munafik Madinah

Saat Abdullah bin Ubay meninggal dunia, putranya datang menemui Rasulullah ﷺ dengan penuh harap.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan:

لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَك أُكَفِّنْهُ فِيهِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, putranya datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata, ‘Berikanlah kepadaku gamismu agar aku mengafaninya dengan gamis itu.’ Maka Rasulullah ﷺ memberikannya.” (HR. Bukhari, no. 1269 dan Muslim, no. 2400).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa putranya juga meminta agar Rasulullah ﷺ menyalatkan jenazah ayahnya dan memohonkan ampun untuknya.

Dialog Nabi SAW dan Umar bin Khattab

Ketika Rasulullah ﷺ hendak menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berdiri dan berusaha mencegah. Umar berkata, “Bukankah Allah telah melarang engkau menyalatkan orang-orang munafik?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

«إِنِّي خُيِّرْتُ»

“Aku diberi pilihan.”

Beliau mengacu pada firman Allah Ta’ala:

﴿اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ﴾

“Engkau memohonkan ampun bagi mereka atau tidak memohonkan ampun bagi mereka…” (QS. At-Taubah: 80).

Pada saat itu larangan tegas belum turun dari langit. Rasulullah ﷺ memahami ayat tersebut sebagai bentuk pemberian pilihan.

Beliau bahkan bersabda, “Seandainya aku mengetahui bahwa apabila aku memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali ia akan diampuni, niscaya aku akan melakukannya.”

Namun, setelah Rasulullah ﷺ selesai menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Allah kemudian menurunkan firman-Nya:

﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ﴾

“Janganlah engkau sekali-kali menyalatkan seorang pun di antara mereka yang mati dan jangan pula berdiri di atas kuburnya.” (QS. At-Taubah: 84).

Sejak ayat tersebut turun, Nabi ﷺ tidak lagi menyalatkan orang-orang munafik yang diketahui hakikatnya.

Hikmah Pemberian Gamis Nabi SAW

Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah, Mengapa Rasulullah ﷺ Memberikan Gamis Beliau? Para ulama menjelaskan beberapa hikmah utama di balik keputusan tersebut.

Alasan pertama adalah bentuk membalas kebaikan masa lalu. Pada Perang Badar, Al-Abbas—paman Nabi ﷺ—ditawan dalam keadaan tidak memiliki pakaian yang sesuai. Abdullah bin Ubay saat itu memberikan gamis miliknya kepada Al-Abbas.

Nabi ﷺ tidak pernah melupakan jasa sekecil apa pun. Sufyan bin ‘Uyainah menjelaskan peristiwa tersebut:

Baca Juga :  Jangan Pernah Melupakan Kebaikan Orang Lain, Teladan Mulia dari Rasulullah

كَانَتْ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ يَدٌ، فَأَحَبَّ أَنْ يُكَافِئَهُ.

“Abdullah bin Ubay pernah memiliki suatu jasa kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau ingin membalas kebaikannya.”

Fakta ini membuktikan bahwa seorang muslim tidak boleh menghapus jasa orang lain, meskipun figur tersebut memiliki banyak kesalahan.

Alasan kedua adalah menghibur hati putranya yang saleh. Abdullah bin Abdullah merupakan sahabat yang sangat taat. Nabi ﷺ memenuhi permohonannya demi menghormati seorang mukmin bertakwa agar ia tidak larut dalam kesedihan.

Lima Pelajaran Utama dalam Kehidupan Modern

Kisah bersejarah ini menyajikan lima pelajaran berharga bagi umat Islam masa kini:

  1. Jangan Mewariskan Permusuhan: Rasulullah ﷺ tidak pernah membenci Abdullah bin Abdullah karena dosa ayahnya. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾

“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164).

  1. Nilailah Manusia Berdasarkan Dirinya: Islam tidak mengenal konsep dosa turunan. Setiap manusia dinilai berdasarkan iman dan amalnya pribadi.

  2. Kebencian Tidak Boleh Menghilangkan Keadilan: Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾

“Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).

  1. Balas Budi Adalah Akhlak Para Nabi: Rasulullah ﷺ tetap mengingat satu kebaikan musuhnya di tengah tumpukan kesalahan besar.

  2. Akhlak Mulia Lebih Kuat Daripada Dendam: Nabi ﷺ membalas keburukan dengan kemuliaan akhlak serta selalu mengambil keputusan berdasarkan wahyu dan kasih sayang.

Penutup Khutbah Pertama

Kisah Abdullah bin Ubay bin Salul mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang membangun hubungan di atas dendam, tetapi di atas keadilan dan akhlak mulia. Rasulullah ﷺ tidak pernah mewariskan permusuhan kepada anak-anak atau keluarga orang yang memusuhinya. Beliau tetap membalas kebaikan, menjaga perasaan seorang sahabat yang saleh, dan berlaku adil sekalipun terhadap keluarga musuhnya.

Di zaman ketika permusuhan sering diwariskan antargenerasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada kemampuannya membalas dendam, melainkan pada kemampuannya menjaga keadilan dan akhlak. Sebagaimana Rasulullah ﷺ, marilah kita menilai setiap orang berdasarkan iman, amal, dan akhlaknya, bukan berdasarkan keburukan keluarganya. Itulah akhlak kenabian yang patut kita teladani.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua:

Khatib kemudian melanjutkan sesi khutbah kedua dengan membacakan hamdalah, selawat, doa, serta imbauan takwa sebagai berikut:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْعَدْلُ بَيْنَ النَّاسِ، وَأَنْ لَا يَحْمِلَنَا الْغَضَبُ وَلَا الْعَدَاوَةُ عَلَى الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ. فَكُونُوا مِمَّنْ يَعْفُونَ وَيُحْسِنُونَ، وَاذْكُرُوا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ أَعْظَمَ النَّاسِ خُلُقًا، وَأَكْمَلَهُمْ عَدْلًا، وَأَوْفَاهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، فَاقْتَدُوا بِهِ، وَتَمَسَّكُوا بِسُنَّتِهِ، تَفُوزُوا بِخَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ،

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Berita Terkait

Khutbah Jumat: Bahaya Kezaliman Sesama Manusia
Khutbah Jumat: Hubungan Shalat dan Rezeki Keluarga Menurut Al-Qur’an
Khotbah Jumat: Rahasia Hikmah Musibah dan Tobat
Khutbah Jumat: Memahami Makna Sukses Hakiki
Khutbah Jumat: Kunci Syafaat Rasulullah
Khutbah Jumat: Ubah Hati Sebelum Terlambat
Khutbah Jumat: Pertanggungjawaban Nikmat
Khutbah Jumat: Penyebab Utama Musibah Datang dari Dosa dan Maksiat Diri
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 15:51 WIB

Khutbah Jumat: Bahaya Kezaliman Sesama Manusia

Senin, 21 September 2026 - 15:40 WIB

Khutbah Jumat: Teladan Keadilan Rasulullah SAW

Senin, 21 September 2026 - 15:32 WIB

Khutbah Jumat: Hubungan Shalat dan Rezeki Keluarga Menurut Al-Qur’an

Sabtu, 19 September 2026 - 19:25 WIB

Khotbah Jumat: Rahasia Hikmah Musibah dan Tobat

Sabtu, 19 September 2026 - 19:18 WIB

Khutbah Jumat: Memahami Makna Sukses Hakiki

Berita Terbaru

Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama resmi menggelar peluncuran e-SMART KOMITE Kemenag di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Kemenag Luncurkan e-SMART KOMITE untuk Madrasah

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:29 WIB

Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan logo Hari Santri 2026 beserta rangkaian agenda nasional di Jakarta.(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Resmi Meluncurkan Logo Hari Santri 2026

Rabu, 23 Sep 2026 - 07:42 WIB

Sunnah mengangkat tangan saat Shalat di 4 tempat.(ilustrasi poto: AI)

Fiqih

4 Posisi Mengangkat Tangan Dalam Shalat Sesuai Sunnah

Senin, 21 Sep 2026 - 17:14 WIB

Saat mau sujud, tangan dulu atau lutut dulu.simak penjelasannya.(poto: ilustrasi: istimewa).

Fiqih

Lutut atau Tangan Dulu Saat Sujud? Ini Penjelasan Fiqih

Senin, 21 Sep 2026 - 17:05 WIB