Jejak Perjuangan Syekh Asnawi Caringin Melawan Kolonial

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Syekh Asnawi Caringin Banten sebagai tokoh ulama kharismatik yang memimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda.(poto: istimewa).

Syekh Asnawi Caringin Banten sebagai tokoh ulama kharismatik yang memimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda.(poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Masyarakat Banten mengenang sosok Syekh Asnawi Caringin Banten sebagai tokoh ulama kharismatik yang memimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda. Sosok kelahiran 1850 ini mendirikan Laskar Mujahidin pada 1926 guna menghimpun kekuatan rakyat menghadapi kesewenang-wenangan penjajah.

Syekh Asnawi merancang strategi berani untuk melumpuhkan pusat komunikasi pemerintah kolonial Hindia Belanda di Jakarta. Beliau merusak berbagai peralatan dan memotong kabel Pos, Telepon, dan Telegraf (PTT) yang terhubung ke Banten.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat langkah sabotase tersebut berhasil memutus jalur koordinasi pasukan Belanda. Syekh Asnawi menilai fasilitas PTT sangat membahayakan keselamatan pergerakan rakyat apabila tetap berfungsi.

Dalam struktur organisasi Laskar Mujahidin, dua kerabat dekat beliau memegang peranan penting sebagai panglima tempur. Putra beliau, KH Emed Ahmad Hadi, mengemban tugas sebagai panglima sekaligus penanggung jawab seksi logistik.

Menantu beliau, KH Tb Achmad Chatib, turut mendampingi kepemimpinan laskar tersebut dalam mengobarkan semangat perlawanan. Keduanya memimpin koordinasi para pejuang di lapangan dengan strategi yang cermat.

Pertempuran Sengit di Jembatan Sanggoma

Pasukan Laskar Mujahidin melancarkan serangan mendadak terhadap konvoi serdadu Belanda pada 15 November 1926. Serangan di Jembatan Sanggoma, Caringin, Labuan tersebut mengawali pertempuran hebat antara pejuang dan penjajah.

Baca Juga :  5 Rasul Ulul Azmi dan Keteguhan Dakwah Mereka

Pejuang melempar granat tangan yang menewaskan lima serdadu Belanda serta melukai belasan tentara lainnya. Tembakan balasan serdadu Belanda mengakibatkan Komandan Mujahidin H Sali dan wakilnya Amad gugur di medan laga.

Para pejuang memakamkan kedua syahid tersebut secara massal di tepi Sungai Sanggoma atau Cisanggoma. Perlawanan sengit di Banten ini menjadi salah satu puncaknya pergerakan kemerdekaan saat itu.

Penangkapan dan Pengasingan ke Cianjur

Pemerintah Hindia Belanda menerjunkan ratusan serdadu pada hari berikutnya untuk memburu seluruh anggota Laskar Mujahidin. Pasukan penjajah mengancam akan membantai warga desa serta membakar rumah-rumah pemukiman rakyat.

Catatan KH Tb A Suchari Chatib menyebutkan Syekh Asnawi akhirnya memerintahkan para pejuang keluar dari persembunyi demi melindungi rakyat. Sikap ksatria ini membuat Belanda menangkap Syekh Asnawi beserta keluarga besarnya.

Gelombang protes besar dari masyarakat Banten menggagalkan rencana Belanda untuk membuang Syekh Asnawi ke Manado. Pemerintah kolonial akhirnya memindahkan tempat pengasingan beliau ke Cianjur, Jawa Barat, selama tiga tahun.

Penulis Michael Williams dalam bukunya Palu Arit dan Bulan Sabit mencatat Belanda menangkap 99 pejuang dan membuang mereka ke Digul, Papua. Sementara itu, Wakil Panglima Ki Moekri Karobohong berhasil meloloskan diri hingga ke Makkah.

Baca Juga :  Cara Rasulullah ﷺ Menenangkan Hati di Perang Hunain(Bag.5)

Warisan Dakwah dan Akhir Hayat

Syekh Asnawi terus melanjutkan dakwah dan membakar semangat santri meskipun mendekam dalam pengasingan di Cianjur. Ribuan jamaah selalu memadati sel tahanan dan tempat kediaman beliau selama masa pengasingan tersebut.

Perjuangan ini meneruskan tradisi perlawanan rakyat Banten yang telah berkobar sejak zaman Sultan Ageng Tirtayasa. Ulama, bangsawan, jawara, dan seluruh rakyat terus menyatukan barisan menolak kekuasaan kolonial.

Masyarakat hari ini masih bisa menyaksikan peninggalan bersejarah beliau berupa Masjid Agung Caringin dan Madrasah Masyarikul Anwar di Labuan. Kedua tempat tersebut menjadi saksi bisu kegigihan beliau dalam membina umat dan memperjuangkan kemerdekaan.

Syekh Asnawi wafat saat menunaikan shalat Dhuha pada suatu Rabu pagi tahun 1937. Umat Islam melepas kepergian sang ulama pejuang dengan ucapan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un)

Artinya: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”(ust)

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri
Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Berita Terbaru

Ilustrasi transaksi emas digital secara syari, menggabungkan kemudahan aplikasi dengan jaminan fisik di brankas.(poto: AI).

Fiqih

Hukum Jual Beli Emas Digital Menurut Syariat Islam

Minggu, 25 Okt 2026 - 07:47 WIB

Surat An nas.(poto: istimewa).

Al-Qur'an

Tafsir Surah An-Naas Menurut Penjelasan Kitab Jalalain

Minggu, 25 Okt 2026 - 07:31 WIB

Ilustrasi wanita muslimah berbusana sederhana membaca Al-Qur'an dengan khusyuk di rumah saat menjalani masa idah.(poto: AI).

Fiqih

Panduan Hukum Masa Idah Wanita Muslimah Terlengkap

Minggu, 25 Okt 2026 - 07:22 WIB

Ilustrasi pria mengenakan baju kurung sutra merah berhias emas dan cincin emas, menggambarkan larangan syariat.(poto: AI).

Fiqih

Hiasan Mewah yang Dilarang: Hukum Sutra dan Emas bagi Pria

Minggu, 25 Okt 2026 - 07:09 WIB

Kemegahan masjid berlatar senja dengan informasi jadwal sholat lengkap wilayah Kota Sungai Penuh, Minggu, 25/10/2026.(poto: AI).

Berita Islam

Jadwal Sholat Sungai Penuh Hari Ini, Minggu 25 Oktober 2026

Minggu, 25 Okt 2026 - 06:57 WIB