Jakarta, dorlanhikmah.com – Parenting di media sosial kini menjadi ruang besar untuk berbagi ilmu sekaligus kritik terhadap pola asuh lama. Di satu sisi, masyarakat belajar pendekatan pengasuhan modern yang lebih empatik.
Namun di sisi lain, muncul tren menghakimi orang tua generasi sebelumnya yang memicu parents shaming di ruang digital.
Media sosial mengubah cara orang memahami parenting secara cepat dan masif. Konten edukasi tentang pola asuh modern, kesehatan mental anak, hingga pengalaman pribadi orang tua muda kini mudah diakses dan dibagikan.
Namun, di balik arus informasi tersebut, muncul fenomena perbandingan tajam antara pola asuh dulu dan sekarang.
Banyak konten viral menampilkan pengalaman masa kecil yang dianggap penuh tekanan, seperti bentakan, hukuman fisik, atau pelabelan negatif terhadap anak.
Narasi tersebut kemudian berkembang menjadi kritik terbuka terhadap generasi orang tua terdahulu. Dalam beberapa kasus, kritik ini bergeser menjadi penghakiman yang tidak mempertimbangkan konteks zaman.
Konteks Pola Asuh Masa Lalu
Sebagian orang dewasa saat ini mulai menyadari bahwa pengalaman masa kecil mereka meninggalkan luka emosional. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang belum banyak mengenal konsep psikologi anak seperti sekarang.
Pada masa lalu, pola asuh sering dipengaruhi keterbatasan informasi, kondisi ekonomi, dan budaya yang menekankan kepatuhan. Hal ini membuat pendekatan pengasuhan cenderung lebih otoriter dibandingkan saat ini.
Namun, memahami konteks ini penting agar kritik tidak berubah menjadi penghinaan. Mengakui kesalahan boleh dilakukan, tetapi tetap harus disertai sikap adil terhadap orang tua.
Pandangan Al-Qur’an tentang Adab kepada Orang Tua
Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan anak dan orang tua. Al-Qur’an menetapkan standar etika komunikasi yang sangat jelas.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 23:
فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya:
“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak hanya melarang kekerasan fisik, tetapi juga menjaga ucapan paling kecil agar tidak menyakiti orang tua.
Penjelasan Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi
Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi memberikan penjelasan yang sangat mendalam tentang larangan ucapan “uff” dalam ayat tersebut. Beliau menjelaskan:
وَتَأَمَّلْ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ﴾ [الإسراء: ٢٣] وَهِيَ لَفْظَةٌ بَسِيطَةٌ أَقَلُّ مَا يُقَالُ، وَهَذِهِ لَفْظَةٌ قَسْرِيَّةٌ تَخْرُجُ مِنْ صَاحِبِهَا قَهْرًا دُونَ أَنْ تَمُرَّ عَلَى الْعَقْلِ وَالتَّفْكِيرِ، وَكَثِيرًا مَا نَقُولُهَا عِنْدَ الضِّيقِ وَالتَّبَرُّمِ مِنْ شَيْءٍ، فَالْحَقُّ سُبْحَانَهُ يَمْنَعُكَ مِنْ هَذَا التَّعْبِيرِ الْقَسْرِيِّ، وَلَيْسَ الْأَمْرُ الْاخْتِيَارِيَّ.
Artinya:
Ayat ini menunjukkan bahwa kata “uff” adalah ucapan sederhana yang paling ringan. Namun sebenarnya ia termasuk ungkapan spontan yang keluar dari seseorang dalam kondisi tertekan tanpa melalui proses berpikir terlebih dahulu.
Sering kali ucapan ini muncul ketika seseorang sedang sempit dada atau merasa jengkel. Tetapi Allah tetap melarang ekspresi spontan seperti itu ketika diarahkan kepada orang tua, karena Islam tidak hanya mengatur ucapan yang disengaja, tetapi juga reaksi emosional yang keluar tanpa kontrol penuh.
Makna Etika dalam Islam
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat ketat dalam menjaga adab kepada orang tua. Bahkan ekspresi kecil yang muncul secara spontan tetap memiliki nilai moral.
Jika ucapan paling ringan saja dilarang, maka bentuk penghinaan terbuka di ruang publik tentu lebih berat lagi dampaknya. Prinsip ini menjadi sangat relevan dalam era media sosial, ketika ekspresi emosional mudah berubah menjadi konten viral.
Dampak Media Sosial terhadap Parenting
Media sosial mempercepat penyebaran opini tentang parenting. Namun, kecepatan ini sering tidak di imbangi kedalaman pemahaman.
Akibatnya, diskusi parenting sering berubah menjadi ruang perbandingan ekstrem antara generasi lama dan baru. Dalam beberapa kasus, hal ini memunculkan budaya parents shaming yang merendahkan pengalaman orang tua terdahulu.
Dampak Psikologis Pola Asuh Masa Lalu
Banyak orang mulai menyadari adanya luka emosional dari pengalaman masa kecil. Beberapa dampak yang sering muncul antara lain:
- Kesulitan mengatur emosi
- Rendahnya kepercayaan diri
- Pola komunikasi yang defensif
- Kesulitan membangun relasi sehat
Namun, Islam tidak mendorong manusia berhenti pada luka. Islam mengarahkan proses perbaikan diri tanpa memutus hubungan keluarga.
Jalan Rekonsiliasi dalam Islam
Islam tidak hanya mengajarkan kritik, tetapi juga memberikan jalan rekonsiliasi. Hubungan anak dan orang tua tetap harus di jaga meskipun ada perbedaan pengalaman.
Dalam QS. Al-Isra’ ayat 24, Allah SWT berfirman:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil.”(ust)









Komentar